M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Buku Dongeng Mbah Jiwo karya Sujiwo Tejo (Diva Press)
Fathorrozi 🖊️

Buku Dongeng Mbah Jiwo karya Sujiwo Tejo bukanlah dongeng biasa yang sekadar menghadirkan kisah hewan-hewan lucu dengan pesan moral sederhana. Buku ini adalah rimba metaforis yang dipenuhi sindiran, satire politik, kritik sosial, humor absurd, hingga permainan bahasa yang kadang membuat pembacanya tertawa keras sekaligus mengernyit kebingungan. Membaca buku ini terasa seperti mendengar seorang kakek nyentrik bercerita tentang dunia binatang, tetapi diam-diam sedang menelanjangi wajah manusia dan negara.

Sejak halaman awal, Sujiwo Tejo mengajak pembaca memasuki dunia para hewan yang bercengkerama mengenai berbagai persoalan negeri, seperti BPJS, demokrasi, omnibus law, isu pribumi dan nonpribumi, rektor asing, pengelolaan sampah, hingga kebakaran hutan. Andai buku ini terbit tahun 2026, mungkin juga menyinggung soal Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Badan Gizi Nasional (BGN).

Semua itu tidak disampaikan secara vulgar. Sujiwo Tejo membungkusnya dalam percakapan hewan-hewan rimba yang jenaka, liar, satir, dan kadang terasa sangat dekat dengan kenyataan hidup sehari-hari.

Sinopsis Buku

Membaca buku ini mengingatkan pada Animal Farm karya George Orwell. Bedanya, jika Orwell tampil dingin dan alegoris, Sujiwo Tejo tampil lebih cair, lebih “Indonesia”, dan jauh lebih penuh permainan kata. Ia seperti dalang yang sedang memainkan wayang kontemporer dengan tokoh-tokoh hewan sebagai medium kritik sosial. Karena itulah buku ini terasa unik sekaligus menantang.

Lewat buku ini, pria kelahiran Jember pada 31 Agustus 1962 itu berhasil menciptakan humor yang cerdas. Pembaca bisa terpingkal-pingkal saat membaca percakapan absurd para hewan, tetapi di balik kelucuannya tersimpan kritik yang pahit. Misalnya ketika Sujiwo Tejo menyindir wacana rektor asing.

“Di kampus jerapah, rektornya ya yang berleher amat panjang. Di kampus ular, rektornya adalah binatang yang seluruh tubuhnya leher semua.”

Kutipan ini terdengar lucu dan ngawur, tetapi sebenarnya sedang menyentil gagasan tentang identitas, kompetensi, dan absurditas kebijakan publik. Sujiwo Tejo menggunakan logika binatang untuk menertawakan logika manusia yang kadang lebih aneh daripada dunia hewan itu sendiri.

Sindiran lain yang sangat menarik muncul ketika isu pribumi dan nonpribumi dibahas. Dalam salah satu bagian, kancil mengatakan bahwa sejatinya tidak ada pribumi di muka bumi karena semua makhluk adalah pendatang; hanya waktunya saja yang berbeda. Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki daya gugah besar. Ia menampar cara berpikir sempit yang masih gemar mengotak-ngotakkan identitas.

Tidak hanya soal politik identitas, buku ini juga menyentil persoalan birokrasi dan kebijakan publik lewat humor yang menggelitik. Bagian mengenai BPJS menjadi salah satu yang paling absurd sekaligus cerdas.

“Sesiapa yang pernah ditolong sekali, kelak harus menolong sesamanya dua kali.”

Kutipan tersebut terdengar seperti lelucon, tetapi justru mengandung kritik sosial yang kuat mengenai konsep gotong royong, sistem bantuan sosial, dan cara negara memaknai solidaritas masyarakat. Di tangan Sujiwo Tejo, kritik tidak hadir dalam bentuk kemarahan, melainkan tawa getir.

Namun, di balik segala kecerdasannya, Dongeng Mbah Jiwo memang bukan buku yang mudah dicerna. Banyak bagian yang menuntut pembaca memahami konteks sosial-politik Indonesia pada masa itu.

Jika pembaca kurang mengikuti perkembangan isu nasional, beberapa sindiran bisa terasa samar bahkan membingungkan. Tidak jarang satu kalimat harus dibaca berkali-kali untuk menangkap maksud sebenarnya.

Di sinilah letak kekuatan sekaligus kelemahan buku ini. Sujiwo Tejo menulis dengan gaya yang sangat khas: liar, filosofis, penuh asosiasi, dan kadang terlalu rumit. Ia gemar memainkan metafora dan pelesetan sehingga pembaca perlu kesabaran untuk menikmati alurnya. Ada bagian-bagian yang terasa sangat cerdas, tetapi ada pula yang membuat pembaca akhirnya menyerah dan memilih menikmati kelucuannya saja tanpa benar-benar memahami maksud terdalamnya.

Meski begitu, justru kerumitan itulah yang membuat buku ini terasa hidup. Ia tidak memanjakan pembaca dengan dongeng ringan dan sederhana. Buku ini mengajak pembaca berpikir, menghubungkan berbagai isu, bahkan mempertanyakan ulang realitas yang selama ini dianggap biasa.

Relevansi Buku Dongeng Mbah Jiwo dengan Zaman Sekarang

Membaca Dongeng Mbah Jiwo terasa seperti duduk di warung kopi bersama seorang budayawan eksentrik yang melompat dari topik politik ke filsafat, dari humor receh ke kritik sosial tajam hanya dalam satu tarikan napas.

Secara relevansi, buku ini masih sangat cocok dibaca di zaman sekarang. Banyak isu yang diangkat Sujiwo Tejo masih terasa aktual, semisal soal politik identitas, kebijakan publik yang membingungkan, birokrasi absurd, hingga masyarakat yang mudah terpecah karena narasi tertentu. Bahkan beberapa sindirannya terasa semakin relevan ketika melihat kondisi media sosial hari ini, di mana humor, satire, dan ironi sering menjadi cara paling efektif untuk menyampaikan kritik.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan terbesar buku ini terletak pada keberanian dan kecerdasannya mengolah satire. Sujiwo Tejo berhasil membuat pembaca tertawa sekaligus berpikir. Permainan bahasanya segar, tokoh-tokoh binatangnya unik, dan banyak dialog terasa sangat quotable. Selain itu, desain dan sampul buku ini juga menjadi daya tarik tersendiri karena mampu merepresentasikan isi buku yang nyentrik dan penuh warna.

Sementara itu, kekurangannya terletak pada kompleksitas referensi yang cukup tinggi. Tidak semua pembaca akan langsung terkoneksi dengan humor dan sindirannya. Dibutuhkan wawasan mengenai politik, budaya populer, hingga cerita pewayangan dan Ramayana agar pengalaman membaca terasa maksimal. Bagi sebagian orang, hal itu mungkin membuat ritme membaca menjadi lambat dan melelahkan.

Benang Merah Buku Dongeng Mbah Jiwo

Namun singkatnya, Dongeng Mbah Jiwo tetap merupakan buku yang layak dibaca dan dimiliki. Ia bukan sekadar kumpulan dongeng binatang, melainkan cermin sosial yang dibungkus dengan tawa, satire, dan absurditas.

Buku ini mengingatkan bahwa terkadang dunia manusia terlalu kacau untuk dijelaskan secara serius. Oleh karena itu, Sujiwo Tejo memilih menjelaskannya lewat para binatang.

Barangkali di situlah letak pesona buku ini. Semakin kita tertawa membaca tingkah para hewan di rimba, semakin kita sadar bahwa sebenarnya yang sedang ditertawakan adalah diri kita sendiri.

Identitas Buku

  • Judul: Dongeng Mbah Jiwo; Seni Membual Para Binatang
  • Penulis: Sujiwo Tejo
  • Penerbit: DIVA Press
  • Cetakan: I, 2021
  • Tebal: 238 halaman
  • ISBN: 978-623-293-545-7
  • Genre: Fiksi/Fabel