Territory of Light karya Yuko Tsushima bukanlah jenis novel yang penuh aksi, drama besar, atau romansa menggebu-gebu. Tapi justru dalam keheningan dan kesederhanaannya, buku ini terasa sangat hidup dan menyentuh.
Bukan hanya sebuah novel, tapi potret intim tentang perempuan yang berjuang sendirian di tengah kota yang terang, bising, dan tak pernah benar-benar memberi ruang untuk luka.
Tsushima menulis dengan cara yang jujur, pelan, dan penuh perasaan, seperti sedang mengajak kita duduk diam sejenak dan mendengarkan kisah seseorang yang sedang mencoba bertahan dalam hidup yang tak mudah.
Novel ini bercerita tentang seorang perempuan muda yang memutuskan bercerai dengan suaminya. Ia mendapati dirinya kini menjadi satu-satunya pengasuh sekaligus pencari nafkah bagi putrinya yang baru berusia dua tahun.
Ia tinggal di sebuah apartemen kecil yang penuh cahaya di lantai dua. Terang, tapi juga sepi. Di sinilah ia menjalani hari-harinya, menyusun kembali hidup yang retak.
Dari sinilah judulnya berasal, "Territory of Light", wilayah kecil yang terang, tapi bukan berarti hangat. Justru, sinar matahari itu sering terasa seperti sorotan yang membuat semua luka dan kekacauan hidup jadi makin terlihat jelas.
Tokoh utama kita berjuang mempertahankan pekerjaannya di perpustakaan, tempat di mana ia harus bersikap profesional seolah hidup pribadinya tak sedang berantakan.
Di sisi lain, ia juga mencoba menjadi ibu, tugas yang sama sekali tidak mudah ketika kamu sendiri masih sedang belajar menjadi dirimu yang baru. Ia bukan ibu sempurna. Ia lelah. Kadang marah. Kadang ingin pergi.
Tapi di situlah letak kejujurannya. Kita bisa melihat betapa manusiawinya dia.
Yang menarik, Territory of Light juga bukan semata kisah tentang penderitaan. Di balik semua pergulatannya, ada ruang-ruang kecil yang terang, tawa anaknya, cahaya matahari yang masuk lewat jendela, momen-momen sendiri yang tenang, walau singkat.
Semua itu disampaikan dalam deskripsi yang halus dan membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri perasaan dan makna di balik tiap adegannya.
Ini bukan novel yang membombardir kita dengan plot cepat atau konflik besar. Tapi ia pelan-pelan masuk ke hati. Karena realitas yang ditawarkan Tsushima begitu dekat: bagaimana hidup tak selalu seperti yang direncanakan, dan bagaimana kita berusaha tetap waras di tengah semuanya.
Yang membuat novel ini kuat adalah caranya tidak melebih-lebihkan. Tak ada adegan melodramatis. Tak ada tangisan yang tumpah ruah. Namun justru dalam ketenangan narasinya, krisis pribadi tokoh utama terasa begitu nyata.
Bagaimana menghadapi dunia ketika kamu harus terlihat kuat demi anakmu, padahal sebenarnya kamu sendiri rapuh.
Dan yang paling menyentuh, kita bisa menemukan cerita yang banyak dialami perempuan di dunia nyata. Misalnya seperti rutinitas menjemput anak, membersihkan rumah, kerja, dan sebagainya.
Tapi ada banyak momen kecil yang diam-diam menusuk, seperti ketika sang tokoh utama duduk sendiri di malam hari, atau saat anaknya tiba-tiba bertanya tentang ayahnya.
Kita diajak masuk ke ruang-ruang sunyi yang biasanya jarang dibicarakan, apalagi dalam narasi perempuan.
Tokoh utamanya bukan “ibu ideal” atau “wanita kuat” versi standar. Ia bingung, kadang egois, kadang kesepian, kadang malah merasa marah pada anaknya sendiri.
Tapi bukankah itu juga bagian dari menjadi manusia? Tidak sempurna, tidak selalu tahu arah, tapi tetap berjalan.
Territory of Light bukan novel untuk semua orang. Buat kamu yang suka cerita cepat atau penuh aksi, mungkin buku ini akan terasa lambat.
Tapi kalau kamu mencari novel yang tenang namun penuh reflektif, novel ini layak untuk kalian baca.
Ini adalah kisah tentang patah hati, tentang belajar hidup kembali, dan tentang menemukan cahaya kecil di tengah reruntuhan.
Baca Juga
-
Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub: Kritik Sunyi untuk Diktator
-
Ulasan Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang, Lelah Hidup yang Sunyi
-
Luka Sejarah dalam Perempuan dan Anak-Anaknya
-
Novel No Place Like Home: Ketika Rumah Tak Selalu Berarti Pulang
-
Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami: Kritik A.A. Navis tentang Ibadah Tanpa Amal
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Le Petit Prince: Potret Kehidupan Dewasa dari Kacamata Pangeran Cilik
-
Review Film Utusan Iblis: Saat Kesunyian Menjadi Senjata Horor Psikologis Terbaik
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Nostalgia Film 5 cm: Antara Keindahan Mahameru dan Kekuatan Persahabatan
-
Burung-Burung Rantau: Gagasan tentang Manusia Pasca-Indonesia
Terkini
-
Rilis di Tiongkok, Vivo Y500i Ditenagai Baterai 7200 mAh dan Isi Cepat 44W
-
Kulit Kering? 5 Rekomendasi Body Butter Shea Butter Terbaik Mulai Rp 20 Ribuan
-
Work oleh no na: Semangat Kerja Keras dan Rayakan Pencapaian Diri
-
Bela Lula Lahfah, Reza Arap Tanggapi Tudingan 'Teman Mantan Istri Diembat' dengan Emosional
-
Guncang Panggung! Teater Nala di SMA Negeri 1 Purwakarta Tuai Apresiasi