Di awal nonton Film War Machine, pastinya banyak yang mengira film ini hanyalah film militer biasa. Kisah tentang para calon pasukan elite yang menjalani latihan keras untuk membuktikan diri sudah sangat sering muncul di layar lebar. Namun, film garapan Sutradara Patrick Hughes ini ternyata punya kejutan yang cukup liar di tengah jalan. Yakni, perubahan genre yang membuat cerita berbelok ke arah yang sama sekali nggak terduga.
Film War Machine tayang di Netflix sejak 6 Maret 2026 dengan naskah yang ditulis Patrick Hughes bersama James Beaufort. Deretan pemainnya juga cukup menarik, dipimpin Alan Ritchson.
Selain itu, film ini juga menghadirkan aktor senior, Esai Morales dan Dennis Quaid yang berperan sebagai petinggi di akademi militer tempat para rekrutan ditempa.
Dengan durasi sekitar 107 menit, War Machine mencoba memadukan drama militer, aksi survival, dan sentuhan fiksi ilmiah yang cukup brutal lho.
Berkisah tentang Apa Film War Machine?
Dikisahkan seorang pria yang dikenal dengan nomor panggilan 81, diperankan Alan Ritchson. Dia bergabung dengan Ranger Academy, program pelatihan militer elit, untuk melanjutkan mimpi kakaknya yang meninggal saat menjalankan misi penyelamatan di Afghanistan.
Di akademi tersebut, setiap calon ranger nggak dipanggil dengan nama, melainkan dengan nomor identitas. Sistem ini seolah-olah menegaskan, mereka harus meninggalkan ego pribadi dan fokus pada tugas sebagai bagian dari tim.
Salah satu ujian terakhir yang harus mereka jalani adalah misi latihan bertahan hidup di hutan. Dalam latihan ini, para instruktur akan menguji ketahanan mental dan fisik para rekrutan melalui berbagai simulasi situasi berbahaya.
Namun, sesuatu yang nggak terduga terjadi.
Di tengah hutan, para rekrutan menemukan sesuatu yang seharusnya nggak ada di sana: robot raksasa mematikan.
Mesin misterius itu memiliki kemampuan luar biasa. Dapat memindai target, mengacaukan komunikasi radio, bahkan membuat kompas berputar nggak terkendali.
Latihan militer yang awalnya hanya simulasi pun berubah menjadi perjuangan hidup dan mati. Para calon ranger pun harus bertahan hidup dari mesin pembunuh yang tampak kebal peluru, sambil berusaha memperingatkan pihak akademi tentang ancaman yang mereka temukan.
Seseru itu ceritanya, Sobat Yoursay!
Review Film War Machine
Saat pertama kali nonton film ini, aku dan mungkin para sinefil lainnya, merasa filmnya berjalan sangat ‘standar’. Bagian awal benar-benar terasa seperti film latihan militer klasik. Ada rekrutan yang suka membangkang, ada instruktur keras yang meneriaki mereka tanpa ampun, dan ada tokoh utama yang lebih banyak diam, yang padahal menyimpan kemampuan besar.
Semua elemen tersebut terasa sangat familier, bahkan mengingatkanku pada beberapa film pelatihan militer lainnya.
Namun, sekitar sepertiga film berjalan, aku mulai sadar film ini sebenarnya sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih aneh. Ketika robot raksasa akhirnya muncul, film ini berubah total. Nuansa drama militer perlahan hilang dan digantikan thriller survival yang dibalut banyak kekacauan.
Sejujurnya, perubahan ini memang terasa agak mendadak. Biarpun begitu, aku merasa film ini jauh lebih hidup setelah unsur robot pembunuh dimasukkan ke dalam cerita. Adegan kejar-kejaran di dalam hutan menjadi jauh lebih menegangkan.
Robot memang agaknya bergerak lambat tapi sangat mematikan, hampir seperti predator yang dengan sabar memburu mangsanya satu per satu.
Beberapa adegan aksinya juga dibuat cukup brutal. Film ini nggak ragu menampilkan luka serius, ledakan, bahkan tubuh yang hancur akibat serangan mesin tersebut. Meski terasa agak berlebihan, gaya kekerasan yang hampir seperti kartun justru memberi warna tersendiri pada filmnya.
Hal lain yang cukup aku nikmati adalah visual hutan yang menjadi latar utama film. Kamera sering mengikuti para karakter yang berlari melewati pepohonan hijau atau terseret arus sungai deras saat mencoba kabur dari robot. Di tengah semua kekacauan, ada beberapa momen visual yang cukup indah dan ngasih napas pada cerita.
Namun, tentu saja film ini bukan tipe film yang dibuat untuk dipikirkan terlalu dalam. Ceritanya nggak terlalu peduli pada logika atau penjelasan detail tentang asal-usul robot. Fokus utamanya jelas, cuma ngasih aksi dan ketegangan tanpa henti.
Akhir kata, film ini mungkin nggak akan dikenang sebagai film besar dalam genre aksi atau fiksi ilmiah. Kendati begitu, jika Sobat Yoursay mencari tontonan yang banyak aksi, ketegangan, dan sedikit kegilaan cerita, Film War Machine bisa jadi hiburan yang cukup menyenangkan untuk ditonton di waktu senggang. Selamat nonton ya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Menelisik Satir Horor yang Unik meski Nggak Sempurna dalam Film Setan Alas!
-
Empat Nasi Box Menjelang Puasa
-
Keseruan Film Hoppers yang Bereksperimen Melalui Cerita dan Perpaduan Genre
-
Mendalami Sensualitas dan Cinta Paling Liar dalam Film Wuthering Heights
-
Review Film Goodbye June: Debut Penyutradaraan Kate Winslet yang Hambar?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Rumah yang Hampir Runtuh: Pelajaran Hidup dari Cicilan Rumah yang Menjerat
-
Novel The Case We Met: Romansa, Teka-teki Hukum, dan Realitas Dunia Medis
-
One Piece Live Action Season 2: Petualangan Absurd di Lautan Berbahaya!
-
Teror di Olympus High School: Review Novel Ada Zombie di Sekolah
-
Review Film Good Luck, Have Fun, Don't Die: Menyelamatkan Dunia dari Penjajahan AI Sambil Tertawa
Terkini
-
Misi Menembus Meja Humas: Saat UAS Jadi Saksi Bisu Mahasiswi Pantang Menyerah
-
I.O.I Buka Akun Media Sosial Resmi Baru Jelang Comeback Anniversary ke-10
-
Sekuel Manga Kitchen Princess Resmi Terbit di Nakayoshi Edisi Mei 2026
-
Puasa Nasi Udah Biasa, Cobain Puasa Plastik Biar Bumi Gak Ikut Kepanasan
-
Merantau di Jakarta: Tutorial Lidah Solo Menaklukkan Soto Manis dan Ayam Geprek Repetitif