Jujur saja, waktu pertama dengar kabar ‘Fantastic Four’ bakal di-reboot lagi, aku sempat ngelus dada. Dua versi sebelumnya, yang satu terlalu cheesy, satunya lagi malah gloomy setengah mati. Dan itu bikin banyak fans kapok berharap. Eh, ternyata ‘The Fantastic Four: First Steps’ sukses membalik ekspektasi. Film ini nggak cuma seru, tapi juga menyentuh, dan secara visual … wow, rasanya seperti nyemplung ke semesta yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Disutradarai Matt Shakman, yang sebelumnya sukses membesut Series WandaVision, lalu diproduksi Marvel Studios dan 20th Century Studios, dengan gaya penceritaan yang terasa segar dan sinematik banget, semua yang disajikan seriusan epik dan mantap jiwa! Durasi ±115 menit-nya terasa padat tapi nggak membebani, justru bikin nagih.
Penasaran dengan detail kisahnya? Sini kepoin bareng!
Sinopsis Film The Fantastic Four: First Steps
Film ini langsung tancap gas dari menit pertama. Kita nggak perlu nunggu lama untuk tahu asal-usul para superhero, karena semua itu disampaikan lewat semacam ‘film pendek dalam film’ yang menjelaskan bagaimana Reed Richards (Pedro Pascal), Sue Storm (Vanessa Kirby), Johnny Storm (Joseph Quinn), dan Ben Grimm (Ebon Moss-Bachrach) berubah jadi superhero setelah terkena paparan radiasi kosmik saat misi luar angkasa.
Mereka hidup di Earth-828 (realitas alternatif yang terpisah dari semesta MCU yang banyak penggemar kenal, Earth-616). Di sinilah dunia retro-futuristik diciptakan; ada mobil terbang ala The Jetsons, robot pelayan lucu bernama H.E.R.B.I.E., dan teknologi canggih yang tampil seperti mesin fotokopi 1980-an. Setting-nya gila dan indah banget. Sekali lagi, mantap jiwa!
Cerita dimulai ketika Sue memberi tahu Reed bahwa dirinya hamil. Sayangnya, momen bahagia itu nggak bertahan lama karena muncul Silver Surfer (diperankan Julia Garner) yang datang sebagai utusan Galactus (Ralph Ineson).
Galactus tuh penjahat galaksi. Dia literally makan planet, tapi kali ini, dia datang nggak langsung mengunyah Bumi, melainkan menawarkan ‘deal’. Kesepakatan itu perihal Sue dan Reed yang harus bersedia menyerahkan bayi mereka yang belum lahir. Konon punya kekuatan luar biasa. Jika bayinya nanti diserahkan, maka Bumi akan diselamatkan. Bila nggak, ya … selamat tinggal planet biru!
Seru dan penuh haru deh!
Review Film The Fantastic Four: First Steps
Yang paling aku suka dari film ini terkait bagaimana kisahnya membumi meskipun berlatar bumi retro-futuristic dan luar angkasa. Ketegangan bukan cuma datang dari kehancuran planet atau pertempuran epik (meskipun itu tetap ada, dan keren banget), tapi juga dari dilema emosional yang dihadapi Sue dan Reed sebagai calon orang tua.
Apakah mereka rela menyerahkan anak mereka demi menyelamatkan miliaran nyawa? Dan kalau mereka menolak, apakah itu artinya mereka egois? Asli, dilema banget!
Pedro Pascal tampil sebagai Reed Richards yang logis tapi kadang terlalu dingin, sementara Vanessa Kirby membawa kedalaman emosi sebagai Sue. Chemistry mereka sebagai pasangan suami istri terasa alami, dan pergolakan batin mereka terasa nyata. Rasanya seperti nonton drama keluarga, yang di tengahnya ada planet yang bisa meledak kapan saja.
Sayangnya, porsi karakter Johnny Storm dan Ben Grimm agak terbatas. Johnny, si Human Torch, hanya sempat menunjukkan sisi flamboyan dan impulsifnya sekilas. Ya, Joseph Quinn tetap berhasil menyisipkan kerentanan sebagai adik yang merasa nggak pernah cukup di mata orang lain kok.
Sementara itu, Ben alias The Thing, justru jadi kejutan manis. Kisah cintanya dengan guru sekolah, Rachel Rozman (Natasha Lyonne), ngasih warna baru dan kedalaman yang nggak aku sangka sebelumnya.
Dan soal visua? Aduh! Ini adalah salah satu film dengan desain produksi paling indah yang pernah aku tonton dalam genre superhero. Gaya visual yang dirancang Kasra Farahani terasa seperti gabungan antara film noir, sci-fi retro tahun ‘60-an, dan dunia fantasi masa depan. Aku sampai ingin bisa pause tiap adegan cuma buat perhatiin semua detail kecil: dari logo Pan Am yang muncul lagi, sampai poster film fiksi ‘Track of the Fungi’ yang terpajang di bioskop dalam film.
Nah, untuk Galactus, menurutku bukan tipikal villain Marvel yang hanya teriak-teriak dan menghancurkan kota. Di tangan Ralph Ineson, dia tampil sebagai makhluk melankolis yang lelah dengan eksistensinya. Ketika dia mencium segenggam tanah sebelum menghancurkannya, itu terasa seperti puisi gelap tentang kehilangan dan ketamakan. Bahkan Silver Surfer pun bukan semata-mata pembawa kehancuran, dia juga punya keraguan, dan itu disampaikan dengan halus sama Julia Garner.
Sayangnya, karena cerita bergerak cepat dan padat, beberapa momen terasa terlalu cepat lewat. Editing-nya tajam banget, bahkan cenderung memangkas terlalu banyak. Ada adegan-adegan yang seharusnya bisa dikembangkan lebih jauh, terutama interaksi antara keempat tokoh utama. Ught. Ya, ini mungkin juga pilihan sadar demi menjaga tempo film tetap mengalir dan nggak overstay.
Oke deh, buat Sobat Yoursay yang takut film ini bakal niru gaya Film The Incredibles karena ada bayi super dan vibe keluarga, tenang saja. ‘Fantastic Four’ ini punya identitasnya sendiri.
Kalau kamu penggemar superhero, pencinta drama keluarga, atau sekadar penikmat visual film yang artsy dan penuh imajinasi, ‘The Fantastic Four: First Steps’ wajib kamu tonton. Bukan hanya karena aksi dan efeknya yang keren, tapi karena ini adalah kisah tentang pilihan, pengorbanan, dan cinta.
Skor: 3,8/5
Baca Juga
-
Voicemails for Isabelle: Sulitnya Melepas Orang yang Telah Tiada
-
Bukan Sekadar Superhero: Sisi Gelap Spider-Noir yang Menampar Realita
-
Dukun Magang: Mengapa Horor Komedi Jadi Formula Paling 'Nagih' di Bioskop Indonesia?
-
Demi Krypto dan Cinta: Pengorbanan yang Menjadi Jantung Film Supergirl
-
Ketika Film Cerita Lila Menjadi Cerminan Luka Masa Kecil
Artikel Terkait
-
Impresi Jujur Selepas Nonton Film Souleymane's Story
-
Turun 66 Persen, The Fantastic Four: First Steps Rajai Puncak Box Office
-
Dibintangi Ice Cube, Film War of the Worlds Hanya Kantongi Rating 0 Persen
-
Salip World War Z, F1 Kini Jadi Film Terlaris Sepanjang Karier Brad Pitt
-
Masih Tayang di Bioskop, Kupas Soft Sci-fi Film Sore: Istri dari Masa Depan
Ulasan
-
Ulasan Law and The City: Drama Hukum dengan Nuansa Healing yang Hangat
-
Voicemails for Isabelle: Sulitnya Melepas Orang yang Telah Tiada
-
Toy Story 5 Angkat Fenomena Screen Time Addiction pada Anak-Anak
-
Mohammad Hatta: Potret Kesederhanaan dan Integritas Sang Proklamator
-
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Misteri Ritual Kuno yang Mencekam!
Terkini
-
Teriak Demokrasi, tapi yang Beda Pendapat Dicap Buzzer: Sehat?
-
Punya Kulit Kering & Berjerawat? 4 Moisturizer Ini Aman Tanpa Bikin Pori Tersumbat
-
Bintang yang Mustahil Digapai
-
Jadi Ladang Korupsi, Program MBG Sudah Sepatutnya Dihentikan?
-
Dibalik Maraknya Kasus Deepfake di Kampus: AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu