Edensor adalah novel karya Andrea Hirata terbitan Bentang Pustaka yang mengusung tema kesetiakawanan, semangat meraih mimpi, sembari menyajikan nilai-nilai kehidupan lewat beragam interaksi para tokohnya. Buku dengan ketebalan 290 halaman ini memiliki cover suasana petang, dimana seorang laki-laki tampak duduk termenung, yang menghadirkan misteri: apa yang sedang dia pikirkan.
Sinopsis Novel
Edensor sebagai buku ketiga tetralogi Laskar Pelangi mengisahkan perjalanan Ikal, yakni nama panggilan Andrea Hirata kala menempuh pendidikan S2 di Universitas Sorbonne, Prancis bersama Arai Ichsanul Mahidin alias Arai. Keduanya adalah para pemuda asli Belitong, yang terpilih dalam program beasiswa ke luar negeri.
Keduanya lantas terbang ke Prancis, lalu dijemput oleh Famke Somers, seorang mahasiswi beasiswa juga, dan ngekost di salah satu flat milik Simon Van Der Wall. Dari sinilah perjalanan hidup Arai dan Ikal dikemas dengan gaya lugas, agak lucu, tapi tetap rapi nan sopan khas adat ketimuran.
Ikal sendiri lantas bergabung dengan formasi abal-abal The Pathetic Four, yang terdiri atas Ikal, Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj alias MVRC Manooj, Pablo Arian Gonzales, dan Ninochka Stronovsky. Mereka berempat adalah mahasiswa internasional yang mendapat beasiswa dari Bank Dunia ataupun Uni Eropa, dan dituntut untuk meraih nilai tertinggi agar nggak perlu mengulang kelas tahun depan.
Nggak cuman sekadar membahas persoalan seputar perkuliahan maupun background masing-masing saja, mereka juga aktif membahas sang primadona kampus, yakni Katya Kristanaema, seorang mahasiswi cantik asal Jerman.
Bahkan, sempat ada taruhan diantara para laki-laki demi bisa mengencani Katya lho!
Bagiku sendiri, scene ini sangat lucu karena ketika nyaris seluruh laki-laki mengeluarkan segala jurus andalannya, tapi Katya justru memilih Ikal yang biasa-biasa saja. Alasannya, karena Katya memang menyukai Ikal yang sederhana, tapi memiliki ambisi untuk masa depan.
Edensor juga mengisahkan soal pertaruhan mahasiswa di kelas Ikal untuk menaklukkan Eropa. Maksudnya adalah menjelajahi banyak negara-negara di Eropa, dengan start dan finish di Universitas Sorbonne. Bagi yang kalah, diwajibkan mengenakan pakaian rombeng dan berjalan keliling kampus.
Dalam menjelajahi negara-negara di Eropa itulah Ikal mengedepankan misi utamanya, yakni mencari A Ling. A Ling sendiri adalah perempuan berdarah Tionghoa yang keberadaannya telah diketahui semenjak tetralogi pertama Laskar Pelangi.
Dalam perjalanannya menjelajahi negara-negara di Eropa bersama, Ikal dan Arai mendapatkan pengalaman luar biasa. Mulai dari kecopetan, mengamen demi bisa meneruskan perjalanan dengan uang-uang receh, hingga hampir mati kedinginan di Rumania. Untunglah, mereka bertemu dengan Pak Toha, seorang berdarah Indonesia yang tak pernah kembali semenjak kejadian tahun 1965.
Penjelajahan mereka memang nggak membuahkan hasil tentang keberadaan A Ling, tetapi mereka memenangkan pertaruhan soal menakhlukkan Eropa, dan Ikal pun mendapatkan beasiswa selanjutnya.
Identitas Novel
Judul: Edensor
Penulis: Andrea Hirata
Tebal: 290 halaman
Tahun terbit: 2007
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Edensor, begitu judul salah satu buku yang kutemukan di perpustakaan SMP. Jujur saja, aku tertarik dengan perspektif Edensor sebagai buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi, yang menyajikan tema kesukaanku perihal kesetiakawanan.
Penilaian Pribadi
Buatku sendiri, Edensor nggak cuman menyampaikan lika-liku perjalanan mahasiswa di kampus luar negeri saja. Melainkan, juga mengenalkan banyak budaya dan background negara-negara lain yang terwakilkan oleh masing-masing mahasiswa. Pun, pengajaran bahwa pendidikan adalah hal penting yang sebisa mungkin harus diraih oleh setiap individu.
Selain itu, novel ini juga memberikan pelajaran hidup dari berbagai tokohnya, mengenai semangat dan perjuangan yang nggak boleh dianggap sepele. Sebagaimana Ikal dan Arai yang bekerja keras demi beasiswa di Sorbonne, Pak Toha yang berjuang hidup di tengah kerusuhan hingga kabur ke antah berantah, maupun Ikal yang mengejar keberadaan A Ling walau akhirnya menemui hampa.
Edensor sejatinya mengusung betapa kompleksnya kehidupan manusia dalam koloni mereka. Namun, Andrea Hirata berhasil mengemasnya ke dalam simfoni kata-kata yang ringan bahkan dibumbui komedi tipis. After all, novel ini patut mendapatkan nilai 10 dari 10.
So, kamu berminat baca?
Baca Juga
-
Friska, Lift Aneh, dan Lelaki Berbaju Hitam Pencari Gula Pasir
-
Secuil Kebahagiaan, Soal Adrian dan Minuman Oplosan dari Kak Lita
-
Polisi Berdarah di Perlintasan Rel Kereta Api Tanpa Palang Pintu
-
Pocong Berkain Putih Bersih di Rumpun Bambu Belakang Rumah Paklek Randi
-
Nostalgia Aroma Dapur Ibu: Kisah Hangat Memasak dengan Tungku Kayu Bakar
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Novel Lalita, Menelusuri Jejak Sejarah 1965 di Balik Candi Borobudur
-
Marco Polo: Influencer Perjalanan Pertama yang Memviralkan Eksotisme Timur
-
Paul McCartney: Man on the Run, Dokumenter yang Terlalu Menjaga Citra Idol
-
Alur Serius, Tokoh Misterius: Kontradiktif di Novel Melangkah J.S. Khairen
-
Ulasan Buku Broken, Seni Bertahan Hidup di Tengah Badai Kecemasan
Terkini
-
Paradoks Wisata Libur Lebaran: Berangkat Cari Ketenangan, Pulang Bawa Pegal Linu Sekujur Badan
-
Erick Thohir Optimis Timnas Indonesia Unjuk Energi Baru di FIFA Series 2026
-
Dari Eco-Pesantren Hingga Teologi Hijau: Cara NU dan Muhammadiyah Mengubah Iman Jadi Aksi Lingkungan
-
Friska, Lift Aneh, dan Lelaki Berbaju Hitam Pencari Gula Pasir
-
Kim Nam Gil Debut Jadi Penyanyi, Rilis Single Rock Perdana Running To You