M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster film Agak Laen: Menyala Pantiku! (IMDb)
Ryan Farizzal

Di akhir tahun 2025 yang ramai dengan blockbuster Hollywood dan drama lokal, tiba-tiba muncul Agak Laen: Menyala Pantiku! yang langsung mencuri hati. Komedi garapan Muhadkly Acho ini bukanlah sekuel biasa dari Agak Laen (2024) yang tembus 9,1 juta penonton. Film ini berdiri sendiri sebagai cerita baru, meski tetap mempertahankan DNA khas kuartet komika Bene Dion, Oki Rengga, Boris Bokir, dan Indra Jegel.

Tayang perdana di seluruh bioskop Indonesia pada Kamis, 27 November 2025, film ini langsung memecahkan rekor dengan 272.846 penonton di hari pertama dan kini telah melampaui 1 juta penonton dalam tiga hari—sebuah capaian bersejarah untuk film yang dirilis di luar musim libur panjang. Bagi Anda yang merencanakan akhir pekan, ini adalah pilihan sempurna untuk melepas penat dengan tawa yang tak henti-hentinya, sekaligus menyentuh hati.

Sebagai penggemar komedi ala Warkop DKI modern, saya memasuki bioskop dengan ekspektasi tinggi. Film pertama Agak Laen berhasil membuktikan bahwa komedi absurd bisa sukses besar tanpa bergantung pada formula horor murahan. Kini, Menyala Pantiku! naik level dengan mengusung genre komedi investigasi, mirip 21 Jump Street tapi versi Indonesia yang lebih kacau dan emosional.

Empat Detektif Menyamar di Panti Jompo: Misi Gila Penuh Tawa!

Salah satu adegan di film Agak Laen: Menyala Pantiku! (IMDb)

Sinopsisnya sederhana tapi brilian: setelah berulang kali gagal menjalankan misi sebagai detektif polisi, Bene (Bene Dion), Boris (Boris Bokir), Jegel (Indra Jegel), dan Oki (Oki Rengga) diberi kesempatan terakhir. Mereka harus menyamar sebagai perawat di sebuah panti jompo untuk memburu buronan pembunuh anak wali kota.

Apa yang dimulai sebagai operasi rahasia berubah menjadi kekacauan total: dari penyamaran gagal yang membuat tertawa hingga interaksi absurd dengan para penghuni lansia yang ternyata lebih licik dari detektif amatir ini. Latar panti jompo sungguhan—bukan CGI murahan—menambah rasa autentik, sekaligus membuka ruang untuk eksplorasi tema penuaan dan kesepian yang jarang disentuh komedi Indonesia.

Sutradara Muhadkly Acho, yang juga menulis naskah, patut diapresiasi karena berhasil menyatukan humor slapstick dengan elemen misteri whodunit. Alur cerita mengalir rapat tanpa terasa dipaksakan; setiap kegagalan misi justru menjadi setup untuk punchline yang lebih tajam. Film ini berdurasi sekitar 110 menit, tetapi terasa singkat karena ritme yang dinamis, dari adegan aksi konyol seperti pengejaran di koridor panti jompo hingga dialog cepat yang penuh inside joke dari siniar Agak Laen.

Produksi Imajinari (Ernest Prakasa dan Dipa Andika) terlihat dalam sinematografi yang cerah dan sound design yang mendukung komedi, seperti efek suara "boing" saat para detektif terjatuh. Skor musiknya ringan, dengan lagu tema yang catchy, membuat saya dan penonton lain ikut bergoyang di kursi.

Ulasan Film Agak Laen: Menyala Pantiku!

Yang paling mencuri hati adalah chemistry kuartet utama. Bene Dion, sebagai Bene yang polos tapi ambisius, menghadirkan timing komedi yang sempurna, terutama saat ia berusaha "berakting" serius sebagai perawat. Oki Rengga dan Indra Jegel membawa energi liar dengan ad-lib yang terasa natural, seperti saat mereka berdebat soal strategi sambil makan bubur lansia.

Namun, bintang sebenarnya adalah Boris Bokir, yang kali ini mendapat arc emosional yang mendalam. Sebagai ayah yang terpisah dari keluarga karena pekerjaan, Boris menghadapi dilema pribadi di tengah kekacauan. Adegan tangisnya di akhir film—tanpa overacting—membuat ruang proyektor hening sejenak, sebelum meledak tawa lagi. Ini bukti bahwa komedi tak harus dangkal; Acho berhasil menyisipkan lapisan drama keluarga yang relatable, terutama di era di mana banyak orang tua merasa "terlupakan" seperti penghuni panti jompo.

Salah satu adegan di film Agak Laen: Menyala Pantiku! (IMDb)

Pemeran pendukung turut memperkaya narasi. Gita Bhebhita sebagai perawat senior yang curiga membawa ketegangan ringan, sementara Jarwo Kwat dan Ario Wahab sebagai penghuni panti jompo menghadirkan momen-momen wholesome yang tak terduga. Jajang C. Noer sebagai Jihan, sang wali kota, menambahkan bobot dramatis, sementara Priska Baru Segu dan Boah Sartika sebagai korban pembunuhan (dalam flashback) memberikan kontras emosional. Chew Kin Wah muncul sebagai kameo misterius. Ensemble cast ini seperti teka-teki gambar yang sempurna: setiap karakter punya peran, tidak ada yang sekadar pemanis.

Secara keseluruhan, Agak Laen: Menyala Pantiku! adalah komedi yang tidak hanya lucu, tetapi juga cerdas. Kekurangannya minim—mungkin beberapa subplot investigasi terasa terlalu ringan bagi penggemar thriller serius, dan durasi bisa dipangkas 10 menit untuk menghindari pacing lambat di tengah. Tetapi, itu tidak mengurangi pesonanya.

Di IMDb, film ini sudah meraih rating 8.2/10 dari ribuan ulasan awal, dengan pujian untuk "golden scene" ikonik antara Boris dan Oki yang membuat penonton melompat dari kursi—sebuah momen jumpscare komedi yang disebut-sebut sebagai yang terbaik sepanjang 2025. Di Rotten Tomatoes versi lokal, 95% penonton merekomendasikannya, dengan komentar seperti, "Lebih ngakak dari film pertama, tapi lebih hangat di hati."

Bagi saya, film ini adalah standar baru bagi komedi Indonesia. Film ini membuktikan bahwa kita bisa tertawa lepas tanpa vulgaritas berlebih, sambil merenungkan isu sosial seperti panti jompo yang sering terabaikan. Di tengah dominasi film horor murah, Menyala Pantiku! seperti angin segar yang mengajak kita "menyala" lagi setelah pandemi dan hiruk pikuk politik. Jika film pertama adalah ledakan, sekuel ini adalah supernova. Jangan lewatkan; beli tiket sekarang di 21Cineplex, CGV, atau bioskop terdekat. Siapa tahu, setelah menonton, Anda akan pulang dengan perut kram karena tawa dan hati yang lebih ringan.

Rating: 9.5/10