Film Janur Ireng merupakan salah satu karya horor Indonesia terbaru yang dirilis pada 24 Desember 2025 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Disutradarai oleh Kimo Stamboel, film ini diproduksi oleh MD Pictures dan di produseri Manoj Punjabi dengan durasi sekitar 1 jam 34 menit.
Genre utama di film ini yakni horor. Film ini rated R17+ karena mengandung adegan darah, kekerasan, dan adegan dewasa. Tokoh utama film ini berfokus pada Sabdo (Marthino Lio) dan Intan (Ratu Rafa) yang dipaksa terlibat dalam intrik keluarga.
Terror di malam ulang tahun Sabdo
Cerita ini di mulai pada malam hari di sebuah rumah yang ditinggali oleh kakak beradik. Ia bernama Sabdo dan adiknya bernama Intan. Pada malam itu, terdengar suara hewan kambing, hal tersebut membangunkan Sabdo. Sabdo mencari-cari sumber suara tersebut.
Sampai akhirnya, Sabdo melihat kepala kambing hitam lalu membawanya keluar rumah. Sabdo berteriak-teriak sambil membawa kepala kambing dan berkata siapa yang melakukan semua ini. Tanpa disadari, kepala kambing tersebut menjadi kepala adiknya. Sabdo melempar kepala tersebut dan seketika itu api langsung menyala melahap habis rumahnya. Sabdo berlari menuju rumahnya mencari adiknya Intan.
Pagi harinya, ada seseorang dengan diantar sopir menemui Sabdo dan Intan. Dia mengaku sebagai adik bapaknya. Ia bernama Arjo Kuncoro dan mengajak Sabdo dan Intan untuk tinggal bersamanya. Setelah sampai di rumahnya, keanehan demi keanehan pun terjadi.
Review Film Janur Ireng
Dari segi alur ceritanya, film ini menunjukkan bahwa ada dendam yang tidak selesai dengan kematian, ada luka yang abadi ketika disiram dengan darah. Dalam Janur Ireng, kita tidak hanya diajak menonton sebuah film horor, melainkan ditarik masuk ke dalam pusaran tragedi kelam keluarga yang hancur akibat keserakahan manusia.
Sejak menit pertama, atmosfer pengap kental dengan aroma klenik Jawa seolah merayap keluar dari layar, mengingatkan kita bahwa di jagat Trah Pitu, janur kuning bukanlah simbol kebahagiaan, melainkan sebuah nisan bagi mereka yang dikhianati. Ini bukan sekadar tentang teror makhluk tak kasat mata, ini adalah potret tentang seberapa hitam hati manusia saat ia mulai bermain-main dengan kutukan.
Bagian akting adalah "nyawa" dari film seperti Janur Ireng. Karena film ini sangat bergantung pada emosi yang ekstrem (duka, dendam, dan kegilaan), performa aktornya menjadi penentu apakah penonton akan merasa empati atau justru merasa terganggu.
Salah satu kekuatan dalam film ini adalah bagaimana para aktor menggambarkan rasa sakit akibat santet. Ini bukan sekadar teriakan kesakitan biasa. Ada detail pada tarikan napas dan ketegangan otot yang membuat penonton seolah merasakan perihnya luka yang tidak terlihat. Keberhasilan mereka membuat adegan physical horror menjadi lebih terasa.
Secara keseluruhan, Janur Ireng didukung oleh ensemble cast yang paham bahwa horor terbaik tidak selalu datang dari jump scare, melainkan dari ekspresi manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Pada film ini, bagian visual dan efek adalah elemen yang membuat Janur Ireng terasa lebih "mahal" dan brutal dibandingkan horor standar.
Kamera seringkali menggunakan sudut pandang yang sangat dekat (close-up) untuk menangkap detail ketakutan di wajah karakter, atau justru sudut pandang yang sangat luas (wide shot) untuk memperlihatkan betapa kecilnya manusia di tengah kepungan hutan dan rumah tua yang angker.
Penggunaan long take (adegan tanpa putus) di beberapa bagian berhasil membangun tensi yang membuat penonton lupa untuk bernapas. Warna film ini didominasi oleh rona cokelat tua, hijau lumut, dan hitam yang pekat. Tidak ada warna cerah yang memberikan harapan. Visualnya seolah "berdebu" dan "lembab", memberikan sensasi seolah penonton bisa mencium bau tanah basah dan kayu lapuk dari balik layar.
Janur Ireng adalah sebuah pencapaian visual yang solid. Film ini memahami bahwa untuk menciptakan rasa ngeri yang membekas, mereka harus membangun dunia yang terlihat "nyata" dan "kotor", bukan sekadar dunia fantasi yang dipenuhi hantu lewat.
Film ini adalah sebuah eksplorasi yang lebih berani, lebih berdarah, dan jauh lebih personal mengenai kehancuran martabat manusia di hadapan dendam. Ia berhasil membuktikan bahwa horor terbaik tidak selalu muncul dari sosok hantu yang melompat tiba-tiba, melainkan dari suasana mencekam yang dibangun perlahan hingga menyesakkan dada.
Film ini layak ditonton bersama keluarga, teman, pasangan terutama ketika libur akhir pekan atau ingin quality time. Menurutku, skor akhir 9/10 untuk film Janur Ireng ini. Buruan beli tiketnya dan amankan kursi yang kamu mau. Selamat menonton dan rasakan andrenaline setiap adegannya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku Tuhan, Maafkan Masa Laluku: Teguran Keras untuk Kita yang Lalai
-
Film We Bury the Dead: Duka di Tanah Penuh Zombie yang Mengerikan!
-
Drama China A Romance of the Little Forest: Cinta Tumbuh Seperti Tanaman
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup
-
Film Jay Kelly: Sebuah Drama Komedi yang Hangat dan Mendalam