M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Harapan dari Tempat Paling Jauh. (Dok.Pribadi/Taufiq)
Taufiq Hidayat

Vanka dan Oliver adalah dua remaja yang tampak sempurna di permukaan, tetapi keropos di dalam. Vanka, siswi genius yang selalu juara satu, menghabiskan lima belas jam sehari untuk belajar hanya demi satu tujuan: mendapatkan maaf dan pengakuan dari ibunya, seorang Menteri Luar Negeri yang enggan mengakuinya karena status hamil di luar nikah.

Di sisi lain, Oliver adalah aktor papan atas peraih tiga Piala Citra. Di balik ketenarannya, ia hanyalah pion bagi ambisi kakeknya. Oliver dipaksa berpura-pura menjadi "anak normal" meski ia menyimpan trauma dan ketakutan ganjil yang sulit dinalar. Pertemuan mereka diawali dengan perselisihan dan cyberbullying yang masif sebelum akhirnya keduanya terjebak dalam kesepakatan untuk saling menopang di tengah badai kehidupan sekolah elite yang toksik.

Sisi Gelap di Balik Kemewahan

Melalui novel ini, Inggrid Sonya seolah menampar persepsi kita: apakah anak-anak kaya dan berprestasi pasti hidup bahagia? Nyatanya, hidup Oliver dan Vanka jauh dari kata mulus. Isu kesehatan mental, perundungan (bullying), hingga trauma masa kecil dijabarkan dengan sangat pekat dan mendetail.

Satu hal yang membuat novel ini terasa seperti roller coaster adalah keberanian penulis menyajikan nuansa yang sangat dark. Penulis tidak ragu menunjukkan betapa destruktifnya cyberbullying. Vanka, dengan ketegarannya, memberikan perspektif menarik: "Mereka cuma ingin memaki, bukan mengkritik. Jadi, buat apa peduli?" Namun, ketegaran itu pun ada batasnya, terutama ketika ia dituduh sebagai kriminal karena fitnah yang dilakukan oleh saudara tirinya sendiri.

Bahaya Bergantung pada Ranting yang Rapuh

Pesan paling kuat dalam novel ini adalah tentang kemandirian jiwa. Penulis menunjukkan bahwa ketika dua orang yang sama-sama "sakit" mencoba saling menopang, mereka justru berisiko jatuh bersama. Bergantung pada orang lain untuk kebahagiaan sendiri ibarat bergantung pada ranting yang rapuh.

Setiap tokoh dalam buku ini memiliki "harapan kosong" yang dititipkan di pundak mereka. Oliver hidup untuk kakeknya, Vanka untuk ibunya, dan Tasya untuk ayahnya. Semakin tinggi harapan yang dipaksakan, semakin berat beban mental yang mereka pikul. Mereka terpaksa memakai "topeng kebahagiaan" untuk menutupi kerapuhan fisik dan mental yang nyaris hancur.

Menerima Realitas di Atas Harapan Semu

Harapan dari Tempat Paling Jauh adalah sebuah eksplorasi tentang batas antara ambisi dan kewarasan. Inggrid Sonya mengajak kita merenung: alih-alih mengejar harapan kosong yang jauh di sana, mengapa kita tidak mencoba menerima keadaan apa adanya?

Buku ini adalah bacaan page-turner yang sanggup saya selesaikan dalam dua hari, namun pesannya akan membekas jauh lebih lama. Sebuah pengingat keras bahwa menjadi diri sendiri jauh lebih berharga daripada memenuhi ekspektasi orang lain yang tidak ada habisnya.

Identitas Buku:

  • Judul Buku: Harapan dari Tempat Paling Jauh
  • Penulis Buku: Inggrid Sonya
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Terbit: Edisi Digital, 2022
  • Tebal: 440 halaman
  • Genre Buku: Young Adult, Romance
  • ISBN: 978-602-06-5745-5
  • Jumlah Bab: 40 bab