Lintang Siltya Utami | Ade Feri
Buku If All the World Were (goodreads.com)
Ade Feri

Ada begitu banyak cara untuk menyikapi kehilangan orang terkasih. Kita bisa mengenangnya dengan cara mengingat hari-hari yang dilalui bersama atau tetap membayangkan kehadiran mereka seperti saat masih hidup. Terkadang, kita juga bisa mengingat mereka melalui benda-benda peninggalannya.

Dalam buku If All the World Were... karya Joseph Coelho, kita akan diperlihatkan hari-hari seorang gadis cilik bersama kakeknya. Bagaikan perjalanan lintas musim, kakek dan cucunya ini menghabiskan waktu berharga dari musim semi hingga musim dingin. Di setiap musimnya, mereka akan menghabiskan waktu dengan melalukan kegiatan yang menyenangkan dan berharga untuk terus diingat. 

Saat musim semi, si gadis dan kakeknya berjalan menyusuri taman yang indah sambil bergandengan tangan. Bagaikan musim semi yang dipenuhi kehidupan baru, gadis cilik berharap bisa menanam kembali hari kelahiran kakek agar ia tidak menua. Begitu pun saat musim panas, mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk bermain. Gadis cilik lantas membayangkan tentang kegembiaran yang mereka lalui bagaikan benda-benda di angkasa lepas.

Ketika musim gugur datang, kakek akan memberi hadiah berupa notebook yang dibuatnya sendiri. Buku itu digunakan gadis cilik untuk menulis, menggambar, dan mewarnai. Ia berandai-andai bisa mengisi ruang kesedihan sang kakek dengan warna-warna yang indah. Sedangkan saat musim dingin, si gadis berharap agar bisa terus mendengarkan berbagai cerita dari kakeknya.

Sayangnya, semua itu adalah pengandaian semata karena sang kakek sudah tiada. Namun, lewat berbagai barang peninggalan kakek, seperti buku, bunga-bunga kering, hingga mainan, ia mencoba terus menghidupkan kehadiran kakek lewat imajinasi. Dari dunia lain yang dibentuknya, si gadis cilik terus bergandengan tangan bersama kakek untuk menjelajahi dunia.

Ulasan Buku

Sebagaimana yang tercantum pada sinopsisnya, buku ini memang bertujuan untuk mengenalkan konsep kehilangan pada anak-anak. Tidak heran kalau isinya akan berisi kisah menyentuh tentang menyikapi kematian orang terkasih. Disampaikan dengan sederhana, buku ini bisa menghadirkan cerita yang emosional dan penuh makna. 

Buku ini lantas menguraikan tentang pentingnya menghabiskan waktu yang berharga dengan anggota keluarga. Sudut pandang anak-anak yang polos dan tulus membuat cerita di dalamnya terasa lebih emosional.

Selain itu, ada berbagai cara yang bisa kita lakukan untuk mengingat orang-orang yang lebih dulu pergi. Buku ini menunjukkan beberapa cara, di antaranya adalah menciptakan skenario kehidupan yang terus berjalan dan menyimpan barang-barang peninggalan mereka dengan baik.

Meskipun terkesan simpel, cerita dalam buku ini sangat menyentuh karena setiap orang pasti pernah dan akan mengalami kehilangan orang terdekat. Lewat pengandaian dan analogi kejadian, pembaca bisa sekalian menghayati keberadaan orang terkasih yang hadir di setiap waktu dan fase kehidupan. Hal itu bisa dilihat dari analogi empat musim yang menunjukkan harapan si gadis kecil terhadap kakeknya.

Keindahan cerita juga didukung dengan ilustrasi yang memanjakan mata. Buku ini dilengkapi dengan gambar-gambar yang indah dan berwarna-warni. Cocok sekali dengan narasi cerita yang menunjukkan keelokan. 

Meskipun hadir dengan konsep buku anak, buku ini sangat cocok dibaca oleh orang dewasa. Selain berbicara tentang kematian dan kehilangan, buku ini mengajarkan perihal menghargai hal-hal sederhana dalam hidup sehingga sangat pas dibaca untuk mempelajari sekaligus merefleksikan kehidupan dan kematian.

Identitas buku

  • Judul: If All the World Were...
  • Penulis: Joseph Coelho
  • Ilustrator: Allison Colpoys
  • Penerbit: Frances Lincoln Childern's Book
  • Tahun terbit: 2018
  • Tebal buku: 32 halaman