Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans (instagram/@aurelie)
Oktavia Ningrum

Aktris Aurelie Moeremans merilis sebuah buku memoar personal berjudul Broken Strings pada 10 Oktober 2025. Buku setebal 220 halaman ini bukan sekadar catatan perjalanan hidup, melainkan kesaksian jujur seorang penyintas grooming, manipulasi emosional, dan kekerasan dalam relasi tidak sehat yang ia alami sejak usia sangat muda.

Sejak awal perilisannya, Broken Strings langsung menarik perhatian luas, dibaca lebih dari dua juta orang, dan menjadi perbincangan penting dalam diskursus tentang kekerasan berbasis relasi kuasa.

Sinopsis Buku

Dalam Broken Strings, Aurelie mengisahkan masa mudanya yang “dicuri” oleh seorang pria dewasa yang ia samarkan dengan nama Bobby. Relasi tersebut dimulai dengan pola klasik grooming: perhatian berlebih, cinta yang tampak tulus, dan janji perlindungan.

Namun seiring waktu, wajah relasi itu berubah menjadi manipulatif, abusif, dan menindas. Baik secara emosional, fisik, maupun seksual. Buku ini dengan jelas menunjukkan bagaimana cinta kerap dijadikan kedok untuk kontrol, terutama ketika ada ketimpangan usia dan kuasa yang signifikan.

Menariknya, struktur narasi Broken Strings tidak disusun secara linear rapi. Cerita dibangun menyerupai kondisi batin korban trauma: ingatan yang terpecah-pecah, rasa bersalah yang tidak rasional, ketakutan yang menetap, serta kebingungan antara cinta, ketergantungan, dan luka. Pendekatan ini membuat pembaca tidak hanya memahami cerita Aurelie secara intelektual, tetapi juga merasakan atmosfer psikologis yang dialami penyintas.

Buku ini juga berfungsi sebagai klarifikasi publik. Aurelie secara gamblang menepis berbagai rumor lama tentang dirinya, termasuk isu pernikahan dan anak, yang selama bertahun-tahun kerap dijadikan bahan gosip.

Dengan demikian, Broken Strings menjadi alat untuk meluruskan stigma dan narasi keliru yang sering diarahkan pada korban kekerasan. Bahwa mereka “berkontribusi” pada kekerasan yang dialami atau “menikmati” relasi tersebut.

Pesan Moral

Namun, Broken Strings tidak berhenti pada kisah penderitaan. Bagian-bagian akhir buku justru bergerak ke arah penyembuhan. Aurelie menuliskan proses panjang dan menyakitkan saat ia belajar memeluk dirinya sendiri, memaafkan masa lalu tanpa membenarkan kekerasan, serta keluar dari siklus trauma. Dukungan keluarga digambarkan sebagai faktor krusial yang membuatnya mampu bertahan dan bangkit.

Keistimewaan lain dari buku ini adalah proses kreatifnya yang sepenuhnya mandiri. Aurelie menulis tanpa editor, mendesain sampul sendiri, dan mengatur tata letak bukunya secara independen. “Aku tidak menunggu siapa pun lagi,” tulisnya.

Bahkan tanggal rilis pun sarat makna: 10 Oktober, tanggal yang dulu traumatis baginya, sengaja dipilih untuk diubah menjadi simbol kemenangan.

Di bagian akhir, Aurelie menulis, “Ini kisahku, traumaku, tapi juga kesembuhanku.” Kalimat ini merangkum esensi Broken Strings: sebuah pengingat bahwa bertahan hidup saja sudah merupakan bentuk keberanian, dan bahwa luka yang dulu dianggap aib bisa menjelma menjadi cahaya. Bagi diri sendiri, dan bagi orang lain yang sedang berjuang dalam diam.

Broken Strings Versi Cetak

Buku ini awalnya dibagikan secara gratis dalam format PDF dua bahasa. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Aurelie secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak pernah merencanakan Broken Strings untuk dicetak. Buku ini lahir dari dorongan personal untuk bercerita, bukan strategi pasar. Namun, karena resonansi yang begitu besar, penerbitan versi fisik pun akhirnya dibuka melalui pre-order.

Buku Broken Strings karya Aurelie sebentar lagi akan hadir dalam bentuk fisik dan bisa kamu nikmati secara langsung. Edisi cetaknya juga diperkaya dengan ilustrasi-ilustrasi penuh warna karya @tea.with.ami yang membantu menghidupkan dan memperdalam kisah yang dituturkan penulis.

Untuk menghadirkan pengalaman membaca yang lebih matang dan nyaman, naskah versi hardcover ini telah melalui proses penyuntingan oleh @balqisnab, dengan tetap menjaga suara, kejujuran, dan ruh personal penulis dalam setiap kata.