Hayuning Ratri Hapsari | Ade Feri
Ilustrasi pasangan romantis (pexels.com/Photographer Misbah)
Ade Feri

Sayup-sayup mulai terdengar suara hewan-hewan ternak bersahutan. Terkadang ada suara kambing dan sesekali terdengar pula dengan samar suara bebek yang beradu dengan ayam berkokok. Bahkan di waktu-waktu menjelang magrib seperti ini, bisa terlihat di atas sana sekelompok burung blekok bergerak ke arah selatan, membentuk sudut lancip yang rapi seolah ingin segera pulang ke peraduan.

Di balik beberapa rumah, terlihat asap mengepul ke udara. Mereka tengah membakar daun-daun kering yang sudah beberapa hari ini sengaja dikumpulkan di tempat pembuangan yang ada di halaman belakang. Sedangkan bagi anak-anak, jam yang sudah menunjukan pukul lima sore adalah waktu mereka berangkat mengaji. Lantas, riun rendah tawa mereka terdengar nyaring dari jalan depan rumah. Di beberapa kesempatan, ada anak-anak yang bahkan terlihat mendorong sepeda tua Pak Petani yang juga baru pulang dari sawah.

Ini adalah situasi yang wajar di desa tempat tinggalku. Jika cuaca sedang cerah, matahari akan tampak hingga azan magrib menjelang. Lalu semburat senjanya masih tampak sampai waktu magrib berlalu. Dan seperti kebiasan keluarga kami, aku dan Bapak kini duduk saja di depan rumah sembari menikmati suasana sore hari yang tenang dan syahdu.

“Matikan rokoknya,” suara Ibu datang dari dalam rumah. Padahal beberapa menit yang lalu ia masih berkutat di dapur untuk menggoreng pisang yang siang tadi Bapak bawa dari ladang.

“Tinggal sedikit, tanggung,” Bapak memang perokok andal yang sudah bebal untuk diajak berhenti.

Di balik aroma tembakau yang terbakar itu, wangi pisang goreng yang baru matang menguar di seluruh penjuru penciumanku. Bagiku pisang goreng buatan Ibu berbeda dari yang lain. Dibanding menggunakan bumbu instan yang ada di warung, Ibu lebih suka meracik sendiri adonan yang akan dibalurkan ke pisang. Ia menggunakan tepung terigu yang ditakar sempurna dengan bumbu yang hanya berisi sejumput garam dan gula sebagai penyeimbang rasa. Istimewanya adalah Ibu kerap menambahkan potongan daun bawang di adonan itu. Katanya biar makin gurih dan ada aroma khas yang lebih sedap.

“Kenapa ada mendoan juga?” tanyaku saat melihat ada lima potong mendoan yang terselip di antara pisang goreng.

“Adonannya masih sisa dan ada lebihan tempe tadi pagi juga, jadi Ibu buat mendoan sekalian.”

“Kalau gini mending buat mendoan saja tadi,” ucapku lirih seraya berdiri dari kursi, lalu mempersilakan Ibu duduk di sana.

Setelahnya, aku memilih beranjak dari teras menuju ruang tamu. Dari dalam sini dan karena jendela di rumahku memiliki model yang lebar dan tinggi, aku bisa dengan jelas melihat suasana di luar. Mulai dari jalanan, halaman, hingga rumah kakakku yang sudah berkeluarga di seberang sana. Sama halnya dengan pemandangan, suara yang datang dari luar sana bisa dengan jelas aku dengar. 

“Sudah berapa lama kita menikah, ya?” begitulah aku akhirnya bisa mendengar suara Ibu bertanya dengan nasa halus pada Bapak. Meski begitu, Bapak tidak langsung menjawabnya. Ia justru tampak segera mematikan rokok yang tadi sempat sayang untuk disudahi.

“Sudah sangat lama. Umur kita saja sudah lebih dari lima puluh.”

“Benar. Sudah sangat lama.”

Aku yakin sekarang Ibu tengah menerawang dan menjamah kembali masa-masa saat ia akhirnya menikah dengan Bapak. Diam-diam aku menajamkan seluruh indraku untuk bersiap menangkap apa pun situasi yang akan terjadi. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat Ibu memperbaiki posisinya menghadap Bapak.

“Kita bahkan sudah punya cucu,” katanya sembari memandang halaman depan rumah kakak yang memang terlihat jelas dari sini. Kedua ponakanku tampak sedang bermain di teras rumah sambil sesekali melambai pada Bapak dan Ibu.

“Mau dipanggil ke sini?”

Ibu menggeleng. Sedangkan Ayah memilih mengangguk dan mengambil lagi satu potong pisang goreng.

“Tidak kusangka kita punya waktu sebanyak ini untuk melihat anak-anak bertumbuh besar.”

Matahari yang sudah turun ke peraduan meninggalkan jejak yang pias. Semula warna jingga keemasan berubah menjadi kuning pucat yang tenang di peredaran. Itulah layung yang selalu menjadi penghangat suasana sore kala langit benar-benar cerah. Secara perlahan suasana pun menjadi sunyi. Aku memutuskan untuk menyalakan lampu rumah, kecuali teras. Setelahnya, aku kembali duduk di sofa ruang tamu.

“Bagaimana kita bertemu saat itu?”

“Tidak mungkin kau lupa, bukan?”

Ibu menggeleng. Aduh! Secara mendadak aku merasa rona di sekitar mereka menjadi merah jambu.

“Saat itu rambutmu masih hitam,” sahut ibu sambil terkekeh.

“Kita bertemu di sawah. Aku ingat kau mengenakan baju kembang menur, tapi sangat kotor.”

“Waktu itu musim tanam, aku ikut orang rumah ke sawah untuk menanam padi. Kau datang ke desa untuk mencari palawija.”

Situasi ini benar-benar di luar dugaanku. Selama dua puluh tahun aku hidup, tidak pernah sekalipun kedua orang tuaku bercerita tentang pertemuan mereka. Saat ini juga aku ingin keluar dan memastikan apakah warna langit sudah berubah menjadi merah muda seperti yang ada di bayanganku tadi.

Sepertinya Ibu masih larut menjamah masa mudanya. Ia sama sekali tidak mengindahkan kehadiran Bapak yang duduk di sampingnya sambil sesekali mencuri pandang. Dari tempatku duduk, aku dapat melihat mata Bapak yang sudah samar-samar sayu menatap Ibu dengan dalam. Barangkali seperti itulah tatapannya saat pertama kali bertemu Ibu dulu.

Saat sesekali angin sore menerbangkan anak rambut Ibu yang tidak tergelung, lalu secara spontan jari tangannya menyelipkan anak rambut ke daun telinga, saat itu juga pupil mata Bapak terlihat bergetar membesar. Tatapannya semakin hangat dan rasanya kehangatan itu berhasil memantik bibirnya untuk tersenyum.

“Saat itu aku berpikir bagaimana harus menemui gadis kembang menur itu lagi,” kali ini Bapak berucap sembari tertawa pelan. “Aku bahkan tidak tahu namamu,” lanjutnya masih dengan senyuman yang lebar.

“Tapi kau tiba-tiba saja ada di rumahku sore itu.”

“Aku mendengar Bapakmu punya simpanan kedelai, jadi aku berniat membelinya. Tapi ternyata itu rumahmu. Diam-diam aku berterima kasih karena tidak usah repot mencarimu lagi.”

“Ternyata memang kau yang lebih dulu menyukaiku.” Kali ini ibu memandang ayah sepenuhnya.

“Aku akui memang benar seperti itu."

Suasana semakin gelap, namun aku biarkan teras tetap temaram. Rasanya seperti ada sepasang kunang-kunang yang sedang bercengkrama di sana. Bapak dan Ibu masih berbincang. Sesekali mereka tertawa dan berhenti sejenak untuk menyapa orang jika ada yang lewat di jalan depan rumah.

Ketika matahari sudah sepenuhnya menghilang. Warna kelabu mulai mendominasi meski samar-samar lembayung kekuningan masih merona di balik bayang-bayang kegelapan dan rona jingga betah mengintip dari horizon paling barat. Sementara burung-burung pulang sudah sampai di sarang, satu per satu suara jangkrik mulai terdengar dari sudut-sudut halaman.

Aku berani bertaruh kalau Bapak sudah tidak lagi tertarik dengan pisang goreng yang sudah mendingin itu. Ketika angin sore bertiup semakin rendah, Bapak berdiri dari tempatnya duduk. Satu tangannya membawa piring pisang goreng dan tangan kanannya yang terbebas penepuk pundak Ibu pelan.

Begitu masuk rumah dan melihatku masih duduk nyaman di sofa ruang depan, ia tersenyum tipis. Pandangan, senyuman, dan wajahnya sore itu sehangat dan sedamai matahari kala hendak tenggelam. Sangat hangat. Lampu teras yang semula kubiarkan mati akhirnya dinyalakan sebab sudah hari sudah gelap. Di waktu yang bersamaan, Ibu tampak enggan beranjak dari duduknya. Meksi begitu, kehangatan yang sama terukir dari wajahnya yang tersenyum indah sore itu.