Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Kolase Poster Film 'Lift' (IMDb)
Angelia Cipta RN

Bayangkan sebuah ruang sempit yang selama ini dianggap netral bahkan membosankan, tiba-tiba berubah menjadi medan pertarungan psikologis.

Tidak ada monster, tidak ada makhluk gaib, hanya manusia, rasa bersalah, dan masa lalu yang menolak untuk tetap terkubur. Itulah inti dari filmLift’, film drama psikologis terbaru yang memanfaatkan ketakutan paling sederhana terjebak tanpa jalan keluar.

Diproduksi oleh Trois Films, rumah produksi yang dikenal lewat karya-karya penuh intensitas, Film horror Indonesia ini diarahkan oleh Randy Chans dengan pendekatan yang lebih senyap namun menusuk.

Alih-alih mengandalkan teror visual berlebihan, film ini memilih menekan penonton melalui dialog, atmosfer, dan konflik batin yang perlahan mengeras seperti dinding lift yang menutup rapat.

Apalagi dalam tontonan seram ini juga diperankan oleh jajaran artis tanah air seperti Shareefa Daanish, Ismi Melinda, Verdi Solaiman, Tegar Satrya hingga Luthi Saputra.  

Sinopsis Film ‘Lift’

Cerita ‘Lift’ berlatar di sebuah perusahaan properti besar. Enam tahun sebelumnya, perusahaan ini diguncang tragedi kecelakaan lift yang menewaskan sejumlah karyawan.

Insiden tersebut secara resmi telah ditutup sebagai kecelakaan teknis, namun bayang-bayangnya tidak pernah benar-benar menghilang. Luka lama itu hanya menunggu waktu untuk terbuka kembali.

Tokoh utama film ini adalah Linda (dibintangi Ismi Melinda), staff humas perusahaan yang bertugas menjaga citra dan menutup rapat noda-noda masa lalu.

Linda digambarkan sebagai perempuan profesional, tenang di permukaan, tetapi menyimpan kegelisahan yang tak pernah benar-benar reda.

Suatu hari, rutinitasnya terhenti ketika ia masuk ke dalam lift kantor dan pintu tertutup tanpa pernah terbuka kembali.

Awalnya, situasi itu tampak seperti gangguan teknis biasa. Namun ketegangan berubah drastis ketika suara asing muncul dari interkom.

Suara tersebut tidak meminta tolong, tidak pula menawarkan bantuan. Ia memberi perintah. Setiap kata terdengar terencana, dingin, dan penuh ancaman. Dari sinilah permainan psikologis dimulai.

Linda segera menyadari bahwa ia bukan sekadar korban kebetulan.

Seseorang di luar sana mengenalnya, mengetahui masa lalunya, bahkan memahami titik terlemahnya anaknya.

Ancaman terhadap sang anak mengubah lift menjadi ruang pengakuan paksa.

Linda dipaksa mengikuti serangkaian instruksi berbahaya, bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk mengungkap kebenaran yang selama ini ia bantu sembunyikan.

Hal Menarik Dari Film ‘Lift’

Film ini dengan cerdas memanfaatkan ruang terbatas sebagai metafora tekanan mental. Lift bukan sekadar lokasi, melainkan simbol keterjebakanantara tanggung jawab moral dan naluri bertahan hidup.

Setiap lantai yang dilewati terasa seperti lapisan ingatan yang dipaksa muncul ke permukaan.

Kehadiran karakter Doris, yang diperankan Shareefa Daanish, menambah dimensi baru dalam cerita. Doris bukan hanya korban lain, tetapi cerminan dari dampak panjang tragedi masa lalu.

Interaksi antara Linda dan Doris membentuk dinamika yang intens, penuh kecurigaan, empati, dan konflik emosional.

Penonton diajak mempertanyakan siapa yang benar-benar bersalah dan apakah keadilan selalu sejalan dengan hukum.

Salah satu kekuatan Lift terletak pada keberaniannya menempatkan karakter utama dalam posisi abu-abu. Linda bukan pahlawan murni, namun juga bukan penjahat tanpa hati.

Ia adalah manusia yang pernah membuat pilihan salah dan hidup nyaman di atas penderitaan orang lain.

Film ini tidak menghakimi secara gamblang, tetapi memaksa penonton ikut merasakan tekanan yang sama memilih antara keselamatan pribadi dan kebenaran.

Film ‘Lift’ ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026 nanti.

Film ini menjanjikan pengalaman menonton yang menegangkan sekaligus reflektif tentang bagaimana dosa masa lalu, seberapa dalam pun dikubur, selalu menemukan cara untuk naik ke permukaan.