Film Mercy (2026) adalah thriller sci-fi yang mengeksplorasi tema kecerdasan buatan (AI) dalam sistem peradilan, disutradarai oleh Timur Bekmambetov, sutradara asal Kazakhstan yang dikenal dengan karya seperti Resurrected (2023) dan Profile (2018).
Skrip ditulis oleh Marco van Belle, dan film ini diproduksi oleh Amazon MGM Studios. Dibintangi Chris Pratt sebagai detektif LAPD Chris Raven, Rebecca Ferguson sebagai suara AI Judge Maddox (atau Mercy), serta aktor pendukung seperti Kali Reis, Annabelle Wallis, Kylie Rogers, dan Chris Sullivan.
Durasi 100 menit, rating PG-13 untuk kekerasan, bahasa kasar, dan tema dewasa. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 21 Januari 2026, dengan penjualan tiket dimulai 16 Januari, tersedia di jaringan seperti Cinema XXI dalam format 2D dan 3D. Di Amerika Serikat, rilis teatrikal pada 23 Januari 2026.
Masa Depan Los Angeles: Kehadiran AI dalam Sistem Peradilan
Berlatar di Los Angeles masa depan dekat, film ini menggambarkan dunia ketika kejahatan merajalela dan sistem peradilan digantikan oleh AI bernama Mercy—sebuah program yang berfungsi sekaligus sebagai hakim, juri, dan algojo.
Setiap terdakwa diberi waktu 90 menit untuk membuktikan dirinya tidak bersalah sebelum vonis dijatuhkan, termasuk eksekusi mati melalui injeksi mematikan.
Chris Raven (Chris Pratt), seorang detektif yang pernah mendukung penerapan Mercy untuk menumpas kejahatan, justru terbangun terikat di kursi eksekusi dan dituduh membunuh istrinya sendiri.
Dalam waktu nyata 90 menit, ia harus berinteraksi dengan sistem AI lewat layar komputer: menelepon saksi, mengakses bukti digital, dan membongkar konspirasi di balik tuduhan tersebut. Seluruh adegan disajikan dalam format screenlife, menciptakan ketegangan yang sempit dan klaustrofobik khas gaya Timur Bekmambetov.
Namun, kekuatan film ini tidak sepenuhnya ditopang oleh performa akting. Chris Pratt, yang dikenal lewat peran karismatik dan komedi, tampak kesulitan menghidupkan emosi ekstrem Raven.
Di sejumlah momen krusial, ekspresinya terasa datar dan kurang menggugah rasa putus asa menghadapi kematian.
Sebaliknya, Rebecca Ferguson—sebagai suara AI Maddox—justru mencuri perhatian dengan performa dingin dan presisi, menghadirkan sosok AI yang mengingatkan pada HAL 9000 dengan sentuhan algoritma modern.
Dinamika antara manusia dan mesin inilah yang menjadi daya tarik utama film, meski karakter pendukung seperti Kali Reis tak sepenuhnya berkembang akibat keterbatasan format screenlife.
Review Film Mercy
Secara visual, film ini bertumpu pada estetika digital: jendela Zoom, rekaman CCTV, email, hingga folder file yang dibuka secara real time.
Bekmambetov cukup piawai membangun suspense lewat elemen-elemen tersebut, terutama saat Raven meretas sistem atau menerima panggilan mendadak.
Namun, film ini kerap “curang” dengan gimmick sinematik—menambahkan efek yang melanggar pakem screenlife murni. Tema AI dan keadilan sendiri terasa relevan di era ChatGPT dan pengawasan digital.
Film ini mengkritik bagaimana AI dapat bekerja secara bias, terutama ketika dilatih dengan data yang diskriminatif terhadap kelompok minoritas.
Sayangnya, paranoia terhadap kejahatan kulit hitam dan cokelat justru membuat nadanya terasa tone-deaf, bahkan menyerempet propaganda ala miliarder yang takut pada gejolak sosial. Ia mengingatkan pada Minority Report (2002), dengan pertanyaan klasik versi modern: sejauh mana kita rela menyerahkan privasi demi keamanan?
Kekuatan utama film terletak pada babak pertama dan kedua. Premisnya cerdas, ketegangan terbangun rapi, dan twist awal—termasuk konspirasi yang melibatkan korupsi kepolisian—cukup efektif menjaga fokus penonton. Skor musik yang menekan dan suntingan cepat memperkuat rasa urgensi.
Namun, semua itu runtuh di akt ketiga. Aksi menjadi absurd, penuh ledakan dan kejar-kejaran yang terasa tidak masuk akal dalam format screenlife. Ending-nya mudah ditebak, penuh lubang plot, dan resolusi emosionalnya terasa murahan.
Anehnya, justru elemen schlock inilah yang menyelamatkan film dari kebosanan total. Meski begitu, secara keseluruhan Mercy tetap terjebak dalam melodrama dan trope klise: eksposisi kering, konflik yang mudah diprediksi, serta representasi AI yang terasa usang seperti film-film era 1990-an. Ia menjadi hiburan cepat bagi penggemar thriller teknologi, tetapi gagal menggali potensi besarnya.
Untuk penonton Indonesia, film ini masih layak ditonton di bioskop demi pengalaman imersif—IMAX 3D jika mau, meski tidak wajib. Jika kamu menyukai The Circle (2017) atau Eagle Eye (2008), film ini bisa dicoba. Jangan berharap revolusi genre. Rating pribadiku: 6/10.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Sengkolo: Petaka Satu Suro, Film Horor Brutal yang Kuras Emosi Aulia Sarah
-
Film Esok Tanpa Ibu: Sci-Fi Ringan yang Penuh Makna Keluarga
-
Ulasan Novel Romansa Opium, Kejahatan, Kekuasaan, dan Cinta di Era Kolonial
-
Review Lagu Aperture Harry Styles: Makna di Balik Metafora Cahaya dan Kejujuran
-
Seni Mengatur Waktu di Buku 'Master Your Time, Master Your Life'
Terkini
-
Oppo A6 5G Meluncur di Indonesia: Baterai 7000 mAh Pengisian Daya Cepat SUPERVOOC 45W
-
Zoe dan Rahasia Cahaya di Sungai Negro
-
Jadi Lawan Terkuat Garuda di FIFA Series, Bulgaria Ternyata Tak Asing dengan Sepak Bola Indonesia
-
Anime Absen di Oscar 2026, Demon Slayer dan Chainsaw Man Gagal Masuk Nominasi
-
4 Pelembab Cica Size Jumbo Atasi Sebum dan Redness, Harga Hemat Rp60 Ribuan