Pernah nggak sih Sobat Yoursay lagi asyik-asyiknya mengejar promo kopi atau baru saja update LinkedIn karena habis naik jabatan, tiba-tiba obrolan di grup keluarga berubah jadi serius karena kondisi kesehatan kakek atau nenek menurun? Di momen itu, biasanya suasana jadi hening sejenak, sampai akhirnya muncul satu pertanyaan di dalam hati, "Jadi, siapa yang bakal jagain?"
Di hari International Women’s Day kemarin, kita sering banget bahas soal glass ceiling, kesenjangan gaji, sampai urusan bagi tugas cuci piring sama pasangan. Tapi ada satu hal yang jarang disentuh, yaitu tentang krisis perawatan lansia atau elderly care.
Selama ini, narasi kesetaraan gender lebih banyak fokus ke pengasuhan anak atau childcare. Padahal, ada beban lain yang jauh lebih sunyi, lebih menguras emosi, dan secara statistik, bebannya hampir selalu jatuh ke pundak perempuan.
Bayangkan Sobat Yoursay berada di usia 30-an atau 40-an—usia yang secara profesional disebut sebagai masa keemasan atau puncak karier. Di satu sisi, kamu mungkin masih punya anak kecil yang butuh perhatian, tapi di sisi lain, orang tua atau mertua mulai membutuhkan perawatan intensif. Inilah sisi paling tajam dari fenomena sandwich generation. Bedanya, ketika urusan merawat lansia ini muncul, dunia seolah-olah punya ekspektasi otomatis bahwa anak perempuan atau menantu perempuanlah yang akan maju ke garis depan.
Secara global, data menunjukkan bahwa perempuan menghabiskan waktu tiga kali lebih banyak daripada laki-laki untuk pekerjaan domestik yang tidak dibayar, termasuk merawat orang tua. Ini bukan lagi soal "anak berbakti," tapi soal beban ekonomi yang tak terlihat.
Banyak perempuan yang akhirnya terpaksa mengambil cuti panjang, menolak promosi, atau bahkan resign total dari pekerjaan impian mereka karena tidak ada sistem pendukung yang memadai untuk merawat lansia di rumah. Ironisnya, pengorbanan ini sering dianggap sebagai "kodrat" atau kewajiban moral yang sudah semestinya, sehingga jarang dianggap sebagai krisis ekonomi yang serius.
Kenapa ini jadi krisis gender berikutnya? Karena saat kita sibuk memperjuangkan agar perempuan bisa masuk ke ruang rapat dan pucuk pimpinan perusahaan, kita lupa membangun infrastruktur yang bisa membantu mereka tetap di sana saat keluarga di rumah membutuhkan perawatan.
Menantu perempuan, misalnya, sering kali berada di posisi yang serba salah. Ada tekanan sosial yang besar untuk membuktikan "pengabdian" kepada keluarga besar, yang sering kali berarti mengesampingkan ambisi pribadinya.
Masalahnya, merawat lansia itu beda dengan merawat anak kecil. Kalau anak kecil, kita melihat mereka tumbuh semakin mandiri setiap hari. Ada rasa optimisme yang tumbuh. Tapi merawat lansia, terutama yang mengidap demensia atau penyakit degeneratif, adalah perjalanan yang arahnya sering kali menurun.
Secara mental, ini sangat melelahkan. Dan ketika beban ini tidak dibagi secara adil antara saudara laki-laki dan perempuan, atau tidak ada bantuan dari kebijakan pemerintah yang ramah terhadap lansia, maka perempuanlah yang paling rentan mengalami burnout dan kehilangan kemandirian finansial di masa tua mereka sendiri.
Sobat Yoursay, kita perlu mulai mengubah obrolan ini dari “curhat antarteman" menjadi isu kebijakan publik yang mendesak. Kesetaraan gender tidak akan pernah benar-benar tercapai kalau urusan merawat orang tua masih dianggap sebagai tugas eksklusif satu gender saja. Laki-laki juga perlu dilibatkan dalam percakapan ini sejak awal—bukan sebagai "pembantu" yang sesekali menengok, tapi sebagai mitra yang setara dalam tanggung jawab pengasuhan.
Dunia kerja juga harus mulai melek. Kalau perusahaan bisa memberikan maternity leave, kenapa tidak ada kebijakan elderly care leave yang lebih fleksibel? Tanpa sistem pendukung seperti penitipan lansia yang berkualitas atau asuransi perawatan jangka panjang yang terjangkau, kita sebenarnya sedang memaksa jutaan perempuan untuk memilih antara masa depan mereka atau bakti mereka. Dan itu bukan pilihan yang adil.
International Women’s Day tahun ini seharusnya menjadi pengingat bahwa perjuangan kita belum selesai hanya dengan masuknya perempuan ke dunia kerja. Kita harus memastikan mereka tidak "diusir" perlahan oleh beban domestik yang tak terbagi.
Merawat orang tua adalah bentuk cinta yang luar biasa, tapi cinta itu akan terasa jauh lebih indah jika dipikul bersama secara adil, tanpa memandang gender. Bagaimana menurutmu, Sobat Yoursay? Sudahkah pembagian tugas di rumahmu terasa setara, atau masih ada "tugas rahasia" yang hanya dibebankan pada perempuan?
Baca Juga
-
BBM Aman 20 Hari ke Depan, Yakin Nggak Panik saat Mudik Nanti?
-
Bom Waktu Selat Hormuz: Mengapa Dapur Orang Indonesia Ikut Terbakar?
-
Anak-Anak Bukan Target Perang! Menuntut Keadilan Atas Tragedi Minab
-
Ketika Helm Baja Menjadi Senjata: Saatnya Memulangkan Brimob ke Posnya
-
Anggaran Perpusnas Dipangkas 280 Miliar: Di Balik Error Panjang iPusnas Kita
Artikel Terkait
-
Perang Global dan Peran Perempuan di Garis Depan Narasi Kemanusiaan
-
Punya Mama yang Jadi Tulang Punggung Keluarga, Bukan Hal yang Memalukan!
-
Derita Lahir di Balik Jeruji: Film Invisible Hopes Jadi Pengingat di Momen International Womens Day
-
30 Link Twibbon Hari Perempuan Sedunia 2026 Gratis, Langsung Pakai
-
Perempuan di Dunia Kerja Modern: Menavigasi Berbagai Peran dan Tantangan Karier
News
-
SEAblings Beraksi! Saat Netizen Se-Kawasan Kompak "Ganyang" Rasisme KNetz!
-
Derita Lahir di Balik Jeruji: Film Invisible Hopes Jadi Pengingat di Momen International Womens Day
-
Dampak Perang Global pada Hak Anak, Bagaimana Generasi Muda Bersikap?
-
Cantik Sih, tapi Kok Jarinya Ada Enam? Jurus Jitu Kenali Foto "Glow Up" Jalur AI
-
Lebih dari Sekadar Penyanyi: 5 Fakta Karier Vidi Aldiano yang Jarang Diketahui Publik
Terkini
-
Memeluk Rasa Sepi di Novel Jakarta Sebelum Pagi
-
Keseruan Film Hoppers yang Bereksperimen Melalui Cerita dan Perpaduan Genre
-
Bocor! Motorola Razr 70 Siap Gempur Pasar HP Lipat: Spesifikasi Kamera dan RAM Gahar Terungkap!
-
Lebaran Tanpa Cat Baru! Cara Kelola Ego Sosial Demi Tabungan Masa Depan
-
Visual Maksimal, Tapi Aktingnya Gimana? Pembuktian Jisoo di Boyfriend on Demand