Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Sebelum Dijemput Nenek (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Sebelum Dijemput Nenek adalah sebuah karya horor-komedi Indonesia yang berhasil memadukan elemen mistis lokal dengan humor segar dan sentuhan drama keluarga. Disutradarai oleh Fajar Martha Santosa dan diproduksi oleh Rapi Films, film ini menandai debut Angga Yunanda di genre horor-komedi, setelah sebelumnya dikenal lewat peran-peran romantisnya.

Dengan durasi 103 menit, film ini tayang perdana di bioskop seluruh Indonesia pada 22 Januari 2026. Sejak trailer dirilis pada Desember 2025, film ini sudah mencuri perhatian publik dengan janji campuran ketegangan dan tawa yang menghibur.

Dua Saudara Kembar yang Bertolak Belakang

Salah satu adegan di film Sebelum Dijemput Nenek (IMDb)

Sinopsis film berpusat pada dua saudara kembar, Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto), yang memiliki kepribadian bertolak belakang. Hestu, yang ambisius dan modern, memilih merantau ke kota besar, meninggalkan desa asalnya dan jarang pulang. Sementara Akbar tetap setia di desa, merawat Nenek (Sri Isworowati) yang membesarkan mereka sejak kecil.

Konflik dimulai ketika Hestu bersumpah hanya akan pulang jika neneknya meninggal. Sumpah itu menjadi kenyataan saat nenek wafat pada waktu keramat: Sabtu Wage, bulan 6, tanggal 6, jam 6—sebuah mitos yang diyakini membawa kutukan, di mana arwah almarhum menuntut tumbal dari keluarga yang masih hidup. Arwah nenek mulai menghantui kedua cucunya, memberi mereka batas waktu tujuh hari untuk mencari "pengganti" yang akan menemaninya ke alam baka.

Dalam perjalanan panik mereka, Hestu dan Akbar dibantu oleh Ki Mangun (Nopek Novian), dukun ceroboh yang lebih sering gagal daripada berhasil; Kotrek (Oki Rengga), preman desa yang penakut; dan Nisa (Wavi Zihan), gadis cantik yang ikut terlibat. Upaya mereka justru memicu rangkaian kejadian supranatural yang semakin rumit, penuh jumpscare dan situasi absurd yang mengundang gelak tawa.

Dari segi plot, Sebelum Dijemput Nenek menonjol karena tidak hanya mengandalkan elemen horor murahan seperti hantu berwajah pucat atau suara-suara menyeramkan. Sutradara Fajar Martha Santosa pintar memanfaatkan mitos lokal Indonesia, khususnya angka keramat 666 yang sering diasosiasikan dengan setan atau malapetaka dalam budaya populer.

Mitos ini dibungkus dalam konteks keluarga, menyoroti tema penyesalan, persaudaraan, dan pentingnya menghargai orang tua selagi masih ada. Konflik internal antara Hestu dan Akbar menjadi tulang punggung cerita, membuat penonton tidak hanya takut tapi juga merenung.

Bagian horor dibangun secara bertahap, mulai dari penampakan halus hingga klimaks yang intens, sementara komedi muncul dari interaksi karakter-karakter eksentrik. Misalnya, adegan di mana Ki Mangun salah baca mantra dan malah memanggil hantu salah sasaran, atau Kotrek yang berpura-pura gagah tapi langsung lari saat melihat bayangan. Elemen ini membuat film terasa fresh di tengah maraknya film horor Indonesia yang sering jatuh ke pola template berulang.

Review Film Sebelum Dijemput Nenek

Salah satu adegan di film Sebelum Dijemput Nenek (IMDb)

Pemeran utamanya patut aku acungi jempol, sih. Angga Yunanda berhasil keluar dari zona nyamannya, memerankan Hestu yang egois dan urban dengan natural. Chemistry-nya dengan Dodit Mulyanto sebagai Akbar sangatlah kuat; keduanya seperti benar-benar saudara kembar, meski secara fisik berbeda.

Dodit, yang dikenal sebagai komedian, membawa nuansa humor slapstick yang pas tanpa berlebihan, sementara juga menunjukkan sisi emosional saat berhadapan dengan rasa bersalah. Oki Rengga sebagai Kotrek mencuri perhatian dengan timing komedi yang tepat, membuatnya jadi komika favoritku.

Nopek Novian sebagai dukun memberikan warna unik dengan aksen Jawa yang kental, sementara Wavi Zihan sebagai Nisa menambah elemen romansa ringan yang tidak mengganggu alur utama. Sri Isworowati sebagai Nenek tampil menyeramkan tapi juga menyentuh, terutama dalam flashback yang mengungkap latar belakang keluarga mereka.

Aspek teknis juga mendukung kualitas filmnya. Sinematografi oleh Ujel Bausad menangkap keindahan desa pedesaan dengan pencahayaan gelap yang membangun suasana mistis, terutama di malam hari. Editing oleh Wawan I. Wibowo lancar, dengan transisi cepat antara adegan horor dan komedi yang tidak membuatku sebagai penonton kebingungan.

Musik latar oleh Fajar Ahadi efektif dalam meningkatkan ketegangan, meski kadang terlalu dramatis di bagian akhir. Produksi Rapi Films terlihat serius, dengan efek visual hantu yang cukup realistis untuk standar film Indonesia, tanpa mengandalkan CGI berlebih yang sering gagal.

Jadi bisa kusimpulkan, Sebelum Dijemput Nenek adalah tontonan yang menghibur dan bermakna. Ia berhasil menyajikan horor yang tidak hanya menakut-nakuti tapi juga mengajakku dan penonton yang lain tertawa dan merefleksikan hubungan keluarga.

Di tengah banjir film horor tahun ini, film ini terasa segar dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Kekurangannya mungkin pada beberapa jumpscare yang prediktif, tapi itu tidak mengurangi nilai keseluruhan kok. Rating pribadiku: 8/10. Cocok ditonton bersama keluarga atau teman untuk akhir pekan, terutama bagi penggemar genre campuran seperti Suzzanna atau Pengabdi Setan. Jangan lewatkan ya guys, kalau kamu ingin horor yang lucu sekaligus menyentuh hati.