Cerita Panji merupakan salah satu warisan kebudayaan Nusantara yang diakui dunia, tercatat oleh UNESCO sebagai Memory of the World pada tahun 2017.
Ia lahir dari rahim kebudayaan Indonesia sendiri, tidak disusun dari bayang-bayang epos India seperti Mahabharata atau Ramayana, melainkan tumbuh dari tanah Jawa dengan segala nilai, laku, dan kebijaksanaannya.
Sayangnya, kisah ini kian menjauh dari ingatan generasi mutakhir. Di tengah jarak itulah Junaedi Setiyono menghadirkan Tembang dan Perang, sebuah novel populer yang berupaya merawat kembali ingatan Panji dalam bahasa yang lebih dekat dengan pembaca hari ini.
Sinopsis
Novel ini mengisahkan perjalanan Raden Panji Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Jenggala, yang hidupnya dipenuhi cinta, kehilangan, dan peperangan. Berbeda dari kisah Panji pada umumnya yang berpusat pada hubungan Panji dan Dewi Sekartaji, novel ini justru memberi tekanan penting pada sosok Anggraeni perempuan yang menjadi cinta sejati Panji dan poros utama tragedi hidupnya.
Dengan latar tahun 1130 M, perjodohan Panji dan Sekartaji kandas ketika Panji menemukan Anggraeni sebagai cinta yang ia pilih dengan sepenuh jiwa. Keputusan itu bukan sekadar perkara asmara, melainkan pemantik konflik besar antara dua kerajaan.
Ketika Anggraeni dibunuh oleh Brajanata, Panji seakan kehilangan separuh hidupnya. Ia terjatuh ke dalam kehampaan batin, menjadi sosok yang limbung, nyaris kehilangan nalar, hingga memilihjalan mengembara untuk mencari kematiannya.
Namun perjalanan Panji bukan sekadar deretan pertempuran. Setiap langkahnya diiringi laku tembang macapat, doa, dan perenungan hidup. Tembang-tembang itu bukan hiasan, melainkan penanda batin—mengandung ajaran, kesadaran, dan sikap hidup yang menuntun Panji dalam pengembaraannya.
Perang demi perang pun tak terelakkan. Ia menaklukkan kerajaan-kerajaan besar seperti Bali, Blambangan, Nusabarong, dan Metaun. Dalam setiap pertempuran, Panji memperoleh kemenangan, kekuasaan, bahkan perempuan sebagai “hadiah perang”, tetapi semua itu tak pernah mampu menyembuhkan rindunya pada Anggraeni.
Ironisnya, kematian yang ia cari tak pernah benar-benar datang. Yang hadir justru pengalaman, ilmu, persaudaraan, dan kemakmuran bagi wilayah-wilayah yang disentuhnya. Dari laku panjang itu, Panji perlahan belajar bahwa hidup tidak selalu memberi jawaban dalam bentuk yang diharapkan.
Hingga akhirnya, setelah perjalanan yang melelahkan dan menguras batin, Panji kembali bertemu Dewi Sekartaji. Dalam diri sang putri, ia menemukan kembali bayang Anggraeni seolah cinta yang hilang itu menjelma ulang sebagai ganjaran atas kesetiaan dan penderitaan yang ia jalani.
Kelebihan
Kekuatan Tembang dan Perang tidak hanya terletak pada kisahnya, tetapi juga pada cara cerita ini dihadirkan. Junaedi Setiyono menulis dengan gaya sastra modern yang tidak menggurui, tidak berkhotbah, dan tidak bertele-tele. Kalimat-kalimatnya efektif, jernih, dan mudah diikuti, bahkan bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan sastra sejarah. Novel ini juga memberi ruang bagi orang-orang kecil seperti dayang dayang atau abdi kecil yang memiliki pengaruh besar dalam jalannya cerita.
Visualitas alam Jawa hadir dengan kuat dan hidup. Pembaca seakan diajak menyusuri jalan panjang yang dipenuhi bau rempah, bunga angsana yang gugur di tepi perjalanan, udara hutan dan pesisir yang menyatu dengan batin tokohnya. Alam tidak sekadar latar, melainkan bagian dari pengalaman membaca, memperkaya rasa dan suasana cerita.
Kekurangan
Adapun kekurangannya terletak pada pola cerita yang, pada titik tertentu, terasa mudah ditebak: seorang lelaki mencintai wanita, kehilangan wanita dan mendapatkannya kembali. Pola semacam ini telah berulang dalam banyak kisah di berbagai belahan dunia. Meski demikian, kelemahan tersebut tidak mengurangi keindahan novel ini, sebab pesan tentang kesetiaan, laku hidup, dan nilai kesatria tetap tersampaikan dengan kuat dan berkesan.
Tembang dan Perang pada akhirnya bukan hanya kisah cinta atau kepahlawanan, melainkan sebuah perjalanan batin. Novel ini mengajarkan bahwa pencarian kematian kerap justru menuntun manusia pada pemahaman terdalam tentang kehidupan.
Identitas Buku :
- Judul: Tembang dan Perang
- Penulis: Junaedi Setiyono
- Penerbit: PT Kanisius
- Tahun Terbit: 2021
- Jumlah Halaman: 392 halaman
- ISBN: 9789792163711
Baca Juga
-
Burung-Burung Rantau: Gagasan tentang Manusia Pasca-Indonesia
-
Review Novel Bekisar Merah: Warisan Kekerasan dan Luka di Balik Eksotisme
-
Menelusuri Misteri Buku dan Literasi dalam Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
-
Dunia Anna: Peringatan tentang Masa Depan Bumi yang Terlambat
-
Jika Kucing Lenyap dari Dunia: Tentang Kehilangan dan Arti Kehidupan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Almarhum: Teror Kematian yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
-
Menguliti Film THE RIP 2026: Loyalitas, Kriminal dan Aksi Tak Biasa
-
Review Film Pabrik Gula: Horor Psikologis yang Menguliti Dosa Masa Lalu
-
Novel 23:59: Saat Patah Hati Harus Berdamai dengan Jawaban
-
Langit Goryeo: Ketika Cahaya Menemukan Langitnya di Tengah Puing-puing Luka
Terkini
-
4 Inspirasi OOTD Y2K Vibes ala Rei IVE, Tampil Lebih Fresh dan Playful!
-
4 Ide Daily OOTD ala Lee Se Young, dari Gaya Classy ke Smart Casual!
-
Anime Komedi Romantis PonSuka Tayang April, Ungkap Teaser dan Pengisi Suara
-
Dion Markx Join ke Liga Indonesia, Efek Misi Juara AFF Cup Jadi Prioritas?
-
Tiga Pekan Beruntun, Film Once We Were Us Puncaki Box Office Korea Selatan