“Jangan pulang sebelum dijemput, ya. Ada banyak halte yang harus kau tuju sebelum tiba pada tempat terakhir untuk berpulang.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu penggalan yang cukup membekas dari novel Berpayung Tuhan karya Jaquenza Eden. Melalui kisah ini, pembaca diajak mengikuti perjalanan batin seorang pemuda bernama Khalil Syailendra serta dampak dari keputusan tragis yang ia ambil terhadap orang-orang di sekitarnya.
Novel ini mengangkat tema yang cukup berat, yakni bunuh diri, sekaligus mencoba menyampaikan pesan bahwa seberat apa pun persoalan hidup, mengakhiri hidup bukanlah jalan keluar dari masalah.
Kisah dimulai ketika Khalil berada dalam sebuah ruangan putih dengan sebuah televisi besar di hadapannya. Layar tersebut menayangkan kembali seluruh perjalanan hidupnya, dari saat pertama kali ia lahir hingga akhirnya kembali kepada Sang Pencipta. Adegan demi adegan berputar seperti potongan memori yang memaksanya melihat kembali kehidupannya secara utuh.
Sebelum ulang tahunnya yang ke-26, Khalil memutuskan mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri. Dalam pikirannya saat itu, semua masalah akan selesai seketika. Ia juga membayangkan orang tuanya akan baik-baik saja dan kehidupan akan berjalan seperti biasa.
Namun kenyataannya jauh dari bayangannya. Kepergiannya justru meninggalkan luka yang sangat dalam bagi kedua orang tuanya. Mereka tidak merasa lega ataupun bebas dari masalah, melainkan hancur dan terpukul, seolah kehilangan sebagian dari hidup mereka bersama Khalil.
Cara berpikir seperti ini dalam psikologi sering disebut Cognitive Distortion, yakni pola pikir keliru yang membuat seseorang merasa dirinya adalah beban bagi orang lain atau menganggap keberadaannya tidak berarti. Distorsi semacam ini sering membuat seseorang menarik kesimpulan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.
Padahal Khalil sendiri digambarkan sebagai seorang penulis muda yang telah berkecimpung di dunia tulis-menulis selama sekitar tujuh tahun. Ia memiliki kehidupan, pengalaman, serta relasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Yang menarik, kisah Khalil tidak ditulis sebagai romantisasi kematian. Penulis berusaha menggambarkan bagaimana rasa hampa, tekanan hidup, serta keputusasaan yang tidak mendapatkan penanganan dapat mendorong seseorang pada keputusan ekstrem. Cerita ini menjadi semacam cermin bagi banyak orang yang mungkin sedang berada di ambang keputusasaan tanpa benar-benar disadari oleh lingkungan sekitar.
Dalam kisah Khalil sebenarnya terdapat tanda-tanda yang muncul sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Tanda-tanda tersebut sering kali terlihat sederhana, bahkan mudah diabaikan. Misalnya menutup telepon atau menolak bantuan dari orang lain, menarik diri dari interaksi sosial, perubahan pola makan dan pola tidur, hingga membuat pernyataan tersirat maupun tersurat tentang keinginan untuk mengakhiri hidup.
Ada pula perilaku seperti memberikan barang-barang pribadi sebagai kenang-kenangan, yang bagi sebagian orang mungkin terlihat seperti hal biasa. Dalam kehidupan nyata, tanda-tanda seperti ini sering dianggap sekadar gurauan atau bentuk keluhan sementara. Padahal mengenali sinyal awal tersebut bisa menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.
Selain pesan yang disampaikan, novel ini juga memiliki premis cerita yang cukup kuat dan potensial. Tema tentang pergulatan batin seseorang hingga memilih mengakhiri hidup merupakan tema yang relevan sekaligus menyentuh.
Meski demikian, ada beberapa hal yang menurut saya masih bisa dikembangkan lebih jauh. Salah satunya adalah pendalaman alasan mengapa tokoh utama akhirnya memilih jalan tersebut. Dalam kenyataan, keputusan seseorang untuk bunuh diri jarang sekali dilandasi alasan yang sederhana. Faktor psikologis, pengalaman hidup, tekanan sosial, hingga konflik batin biasanya saling bertumpuk dan membentuk kompleksitas tersendiri.
Karena itu, akan terasa lebih kuat apabila cerita memberi ruang lebih besar untuk mengeksplorasi latar belakang keputusan Khalil. Dibandingkan beberapa bagian deskripsi yang terasa cukup panjang, pendalaman terhadap konflik batin tokoh utama mungkin justru dapat membuat cerita terasa lebih utuh dan emosional bagi pembaca.
Hal lain yang juga memunculkan tanda tanya adalah pemilihan judul dan desain sampulnya. Judul Berpayung Tuhan terdengar puitis dan menarik, tetapi maknanya tidak benar-benar dijelaskan secara jelas dalam cerita. Pembaca tidak diberi gambaran mengapa frasa tersebut dipilih sebagai judul utama.
Desain sampulnya pun terasa kurang selaras dengan isi cerita. Sampul menampilkan unsur laut, paus, atau akuarium, sementara dalam cerita sendiri elemen tersebut tidak memiliki peran penting. Pantai memang sempat disebutkan, tetapi hanya sekilas tanpa menjadi bagian yang signifikan dalam alur.
Menariknya lagi, judul Berpayung Tuhan dan salah satu subbabnya, Di Akhir Perang, memiliki kesamaan dengan judul lagu milik Nadin Amizah. Kesamaan ini tentu memunculkan rasa penasaran apakah memang ada inspirasi dari lagu tersebut atau hanya kebetulan semata.
Berpayung Tuhan mengingatkan bahwa perhatian kecil, empati, dan kesediaan untuk benar-benar mendengarkan bisa menjadi hal yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Sebagai bacaan pendamping, saya juga merekomendasikan Things Left Behind, yang mengisahkan pengalaman seorang pembersih TKP yang sering menangani lokasi kematian akibat bunuh diri membuka gambaran tentang kesepian, tekanan hidup, dan beban yang kerap tidak terlihat oleh orang lain. Selamat membaca.
Baca Juga
-
Mengenal New BIONS, Langkah Awal Mahasiswa Memahami Dunia Investasi
-
Kacang Hijau: Penyelamat Sawah Saat Kemarau dan Jalan Rezeki Tak Terduga
-
Ketika Dongeng Ayah Berhadapan dengan Skeptisisme Anak yang Beranjak Dewasa
-
Prestasi dan Tuntutan Sosial: Ketika Kemenangan Berujung Tagihan Traktiran
-
Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata
Artikel Terkait
-
Menemukan Kembali Arah Hidup di Novel Antara Berjuang dan Menyerah 2
-
Rumah yang Hampir Runtuh: Pelajaran Hidup dari Cicilan Rumah yang Menjerat
-
Teror di Olympus High School: Review Novel Ada Zombie di Sekolah
-
Novel The Case We Met: Romansa, Teka-teki Hukum, dan Realitas Dunia Medis
-
Novel Perempuan Bersampur Merah: Kisah Nyata Dukun Suwuk yang Difitnah
Ulasan
-
Viral Audio 'Bare Minimum' dan Manga Veil: Benarkah Ekspektasi Hubungan Gen Z Ketinggian?
-
Perjamuan Arwah: Ketika Keinginan Manusia Menuntut Harga yang Mengerikan
-
Review Drama Thailand Hua Jai Sila: Plot Balas Dendam dan Dark Romance yang Brutal
-
Waiting for Iced Tea: Kisah Hangat tentang Kesabaran dan Keluarga
-
Review The Rope Curse 4: Hadirkan Kisah Kutukan Tali Gantung dan Kuntilanak
Terkini
-
Rilis You're Under Arrest! ILLIT Tolak Keras Terlena oleh Harapan Palsu
-
Kiamat Ekologis: Ketika Desa Adat, Hutan, dan Satwa Liar Perlahan Hilang
-
Militerisasi Sektor Sipil: Saatnya TNI Jadi Pemicu, Bukan Operator Permanen
-
4 Brightening Micellar Water, Anti-Ribet Angkat Kotoran dan Bikin Cerah
-
Kasta Sosial Lewat Caption: Fenomena Gen Z yang Takut Terlihat Terlalu Indonesia