Salah satu kelebihan utama Winna Efendi sebagai penulis adalah kepiawaiannya menghidupkan tokoh. Karakter-karakter dalam novelnya terasa “nyata”, bukan sekadar alat penggerak konflik. Pembaca dengan cepat dibuat akrab, ikut masuk ke dalam cerita, bahkan larut dalam emosi para tokohnya.
Ini adalah hal yang tidak selalu berhasil dilakukan banyak penulis romansa remaja, di mana tokoh utama kerap terasa terlalu dibuat-buat, penuh masalah artifisial, tetapi miskin kedalaman karakter. Dalam Remember When, hal itu hampir tidak terjadi.
Remember When merupakan novel romansa populer terbitan Gagas Media karya Winna Efendi yang mengangkat kisah cinta segitiga dan persahabatan empat sahabat SMA: Freya, Moses, Gia, dan Adrian.
Novel ini kemudian diadaptasi menjadi film layar lebar pada tahun 2014, menegaskan posisinya sebagai salah satu kisah remaja yang cukup membekas di benak pembaca generasi awal 2010-an.
Sinopsis Novel
Cerita berangkat dari dinamika dua pasangan yang secara “logika sosial” terlihat serasi: yang populer dengan yang populer, yang pendiam dengan yang sefrekuensi. Namun, seiring waktu, pilihan itu mulai dipertanyakan.
Novel ini menawarkan gagasan klasik tetapi relevan: cinta sering kali bekerja seperti magnet. Membutuhkan perbedaan, bukan kemiripan, untuk saling terhubung. Dari sinilah konflik batin dan persahabatan mulai diuji.
Kekuatan utama novel ini terletak pada penggunaan banyak sudut pandang. Winna menghadirkan narasi dari lima POV sekaligus: Freya, Gia, Adrian, Moses, dan Erik. Teknik ini membuat pembaca tidak sekadar menilai siapa yang “benar” atau “salah”, tetapi memahami alasan di balik setiap keputusan, kebohongan, dan pengorbanan.
Kita ikut sedih ketika Freya menahan rasa cintanya demi menjaga persahabatan dengan Gia. Kita merasakan frustrasi Gia saat ia mengiba Adrian untuk tidak meninggalkannya. Emosi para tokoh tidak hitam-putih, melainkan abu-abu dan justru di situlah kekuatannya.
Secara emosional, Remember When mampu mengaduk-aduk perasaan pembaca. Ada rasa manis ketika Adrian menembak Gia dengan cara yang romantis, ada iri dan harap saat Freya yang introvert, sebenarnya mendambakan sentuhan sederhana seperti berpegangan tangan atau dipeluk.
Ada pula kepedihan saat kehilangan datang, dan saat kebenaran yang lama tertimbun akhirnya terbuka. Kutipan-kutipan reflektif tentang cinta, takdir, dan konsekuensi pilihan hidup memperkuat kesan bahwa novel ini tidak sekadar bercerita soal “siapa jadian dengan siapa”.
Kritik untuk Novel Remember When
Novel ini tidak luput dari kritik. Relasi Adrian dan Gia, misalnya, sering kali terasa toxic. Gia digambarkan terlalu merelakan segalanya demi cinta, bahkan kehilangan dirinya sendiri. Sementara Adrian semakin ke sini justru terasa egois dan memuakkan.
Gaya pacaran mereka juga terasa terlalu dewasa untuk ukuran anak SMA. Sebaliknya, hubungan Moses dan Freya dianggap sebagian pembaca terlalu hambar dan minim tensi emosional, meskipun Moses kerap dipandang sebagai karakter paling “waras” di antara yang lain.
Ada pula beberapa celah logika yang membuat pembaca bertanya-tanya, seperti awal mula persahabatan Freya dan Gia yang kurang tergali, atau keputusan-keputusan besar yang terasa kurang diberi ruang penjelasan. Meski begitu, kekurangan tersebut tidak sepenuhnya merusak pengalaman membaca, karena kekuatan emosional cerita tetap bekerja dengan baik.
Pesan Moral
Sebagai novel debut, Remember When menunjukkan potensi besar Winna Efendi. Temanya memang bukan hal baru. Mencintai sahabat sendiri adalah trope yang sering digunakan. Namun cara penulis mengolah emosi, sudut pandang, dan konflik batin membuat cerita ini terasa hidup.
Novel ini juga menyampaikan pesan penting. Keberanian untuk jujur pada perasaan memang perlu, tetapi setiap keputusan selalu datang bersama konsekuensinya.
Pada akhirnya, Remember When bukan novel yang sempurna, tetapi ia berhasil melakukan satu hal penting: membuat pembaca merasakan emosinya. Sebuah bacaan yang layak dikenang, terutama bagi mereka yang pernah atau sedang belajar memahami cinta, persahabatan, dan kehilangan.
Baca Juga
-
Meneladani Spirit Pemimpi di Negeri Orang dalam Buku Lost in the USA
-
Indonesia Tak Cukup Mencetak Insinyur, Kita Harus Membangun Industrinya
-
Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?
-
PPN Pembalut Bukan Aturan Baru, Lantas Mengapa Baru Ramai Dipersoalkan?
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
-
Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender
Terkini
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten
-
Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Ruang Publik Bebas Rokok Adalah Hak Kita Semua