Setelah hampir delapan tahun sejak film debutnya yang kontroversial, Boots Riley akhirnya kembali ke kursi sutradara dengan menggarap film komedi satir berjudul: I Love Boosters.
Jika sebelumnya dia bikin geger dunia film dengan ‘Sorry to Bother You’, kali ini Riley kembali lewat gaya khasnya yang absurd, lengkap dengan kritik sosial, dan kesan cuek dengan segala keanehannya.
Film ini tayang perdana di South by Southwest Film Festival pada 12 Maret 2026 dan langsung menarik minat sinefil karena pendekatannya yang liar dalam mengkritik industri fashion dan kapitalisme masa kini lho.
Seperti apa kisahnya? Yuk, intip bareng!
Sinopsis Film I Love Boosters
Film ini mengikuti perjalanan Corvette (Keke Palmer, perempuan yang hidup pas-pasan dan berusaha bertahan hidup dengan cara yang nggak biasa.
Dia memimpin sekelompok pencuri toko (shoplifters) yang menargetkan brand fashion terkenal bernama Metro.
Mereka berkelompok dijuluki Velvet Geng dan ada saja berbagai trik mencuri pakaian mahal dari toko, mulai dari mengalihkan perhatian pegawai toko hingga menciptakan kekacauan kecil agar aksi mereka berjalan mulus. Barang-barang curian kemudian dijual kembali dengan harga lebih murah.
Kelompok Corvette terdiri dari beberapa orang dengan kepribadian unik, termasuk Sade (Naomi Ackie) dan Mariah (Taylour Paige). Sementara itu, dunia fashion yang mereka incar dipimpin desainer eksentrik, Christie Smith (Demi Moore).
Meski menjalani kehidupan sebagai pencuri, Corvette sebenarnya punya mimpi lain. Dia ingin menjadi desainer. Dia bahkan mencoba mengirim desainnya ke perusahaan Metro dan akhirnya mendapatkan pekerjaan di sana.
Nah, dari sinilah konflik mulai berkembang. Antara idealisme, keinginan sukses, dan kenyataan pahit industri yang dikelilingi eksploitasi.
Dari pencuri jadi desainer di tempat yang dicurinya? Wah, menarik banget! Dan bila Sobat Yoursay merasa ingin banyak tahu lagi, kamu berada di tempat yang tepat. Yuk, lanjut!
Review Film I Love Boosters
Bisa dibilang, Film I Love Boosters adalah film yang sangat ‘Boots Riley’. Nggak bermain aman sama sekali.
Dari awal hingga akhir, film ini diliputi ide-ide yang terasa kayak asalnya dari mimpi yang aneh. Kadang lucu, kadang absurd, bahkan kadang terasa bagaikan film sci-fi yang nggak sengaja terselip dalam komedi satir.
Ada elemen animasi stop-motion, perjalanan waktu, hingga semacam simbol yang terasa surreal.
Menurutku, karakter Corvette terbaik deh. Penampilan Keke Palmer benar-benar magnetik. Dia berhasil membuat karakter ini terasa kompleks. Yup, dimulai dari seseorang yang sekaligus membenci dan tergoda sistem kapitalisme yang dia coba lawan.
Corvette bukan karakter yang naif kok. Dia sadar betul bagaimana industri fashion memanfaatkan tenaga kerja murah dan menjual produk mahal kepada konsumen. Namun, di saat yang sama, dia juga ingin menjadi bagian dari dunia itu. Konflik internal itu membuat karakter Corvette terasa sangat manusiawi lho.
Dari segi teknis, film ini juga sangat menarik. Sinematografi sangat vibrant dan banyak warna. Dunia fashion yang ditampilkan terasa seperti taman bermain yang dipenuhi estetika pop-art. Ditambah lagi dengan desain kostum yang benar-benar menggoda mata, sesuatu yang memang sangat cocok untuk film yang menyinggung industri fashion.
Meski sangat kreatif, film ini nggak sepenuhnya sempurna sih. Menurutku, ‘I Love Boosters’ terkadang kayak film yang punya terlalu banyak ide sekaligus. Beberapa subplot, terutama yang melibatkan karakter Sade dan Mariah, nggak mendapatkan ruang pengembangan yang cukup.
Ada juga beberapa lelucon di paruh kedua film yang terasa nggak sekuat bagian awal. Mungkin memang sutradara yang sengaja membuatnya begitu?
Dan seperti film satir terbaik, film ini bikin aku ketawa sekaligus mikir. Bila Sobat Yoursay penasaran, jangan ragu nonton saat nantinya rilis resmi di bioskop Indonesia, ya.
Baca Juga
-
WIND UP: The Movie Membuktikan Olahraga Bukan tentang Kemenangan Semata
-
Spider-Man: Brand New Day Jadi Street Level yang Lebih Tangguh dan Dewasa
-
Avatar Aang: The Last Airbender dan Penyakit Nostalgia Hollywood
-
Ip Man: Kung Fu Legend, saat Film Bela Diri Modern Hilang Momen Ikoniknya
-
Furious Mengkritik Sistem yang Sering Gagal Melindungi Korban Kekerasan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Serial A Shop for Killers Season 2: Drama Pertarungan Paling Cadas!
-
Naoko Karya Keigo Higashino: Saat Jiwa Seorang Ibu Hidup dalam Tubuh Putrinya
-
WIND UP: The Movie Membuktikan Olahraga Bukan tentang Kemenangan Semata
-
Ulasan Novel Testimony of N: Ketika Kebohongan Menjadi Bentuk Perlindungan
-
Parole Examiner Lee: Membongkar Wajah Gelap Kekuasaan di Balik Sistem Hukum
Terkini
-
Belanja Digital Gen Z: Saat Kebutuhan dan Keinginan Semakin Sulit Dibedakan
-
BGN Rilis Aplikasi Reviu MBG: Apakah Digitalisasi Menjawab Akar Masalah?
-
Another Word for Neighbor, Buku Anak yang Mengajarkan Empati Sejak Dini
-
Novel Spammer, Berawal dari Teror Digital Berubah Menjadi Teror Fisik Nyata
-
Ulasan Film Her: Kisah Cinta yang Mengajak Merenungkan Hubungan Manusia dan Teknologi