M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Bagian dari Poster Film Hamnet (IMDb)
Athar Farha

Ada kalanya rasa kehilangan enggak hanya menyisakan luka, tetapi juga melahirkan sesuatu yang abadi. Begitulah kira-kira gagasan yang terasa kuat dalam film Hamnet, drama sejarah emosional yang disutradarai Chloé Zhao.

Film Hamnet rilis perdana di Telluride Film Festival pada 29 Agustus 2025 dan tayang di bioskop Indonesia sejak 27 Februari 2026, diadaptasi dari novel karya Maggie O'Farrell dan diproduksi Amblin Entertainment bersama Neal Street Productions. Selain itu, film ini pun dibintangi aktor dan aktris bertalenta, lho, di antaranya: Jessie Buckley sebagai Agnes Hathaway dan Paul Mescal sebagai William Shakespeare.

Betewe, film ini mencoba membayangkan sisi paling personal dari sang penulis drama terkait tragedi kehilangan putranya yang bernama Hamnet. Nah, alih-alih menyuguhkan biografi klasik tentang Shakespeare, film Hamnet malah menempatkan duka seorang ibu sebagai pusat cerita.

Penasaran, kan, dengan kisahnya? Yuk, kepoin bareng!

Sinopsis Film Hamnet

Scene Film Hamnet (IMDb)

Di kota kecil Stratford, Agnes Hathaway merupakan perempuan yang dekat dengan alam dan kerap dipandang misterius oleh masyarakat sekitar. Dia hidup mengikuti naluri dan instingnya, seolah-olah memiliki hubungan spiritual dengan hutan yang menjadi tempatnya bernaung.

Suatu hari Agnes Hathaway bertemu dengan William Shakespeare, pemuda yang agaknya enggak pandai berkomunikasi dengan orang lain. Namun, William dianugerahi kemampuan luar biasa, yakni bisa bercerita dengan sangat indah.

Dari situlah hubungan mereka dimulai. Agnes kemudian menikah dengan William dan membangun keluarga kecil bersama tiga anak mereka: Susanna serta si kembar Judith dan Hamnet.

Kebahagiaan mereka sempat terasa utuh, hingga ambisi William untuk meniti karier di dunia teater membawanya pergi ke London. Agnes pun harus membesarkan anak-anak mereka sendirian di Stratford.

Tragedi datang ketika wabah pes mulai menyebar dan merenggut nyawa Hamnet. Kehilangan itu menghancurkan keluarga mereka, terutama Agnes yang menyaksikan langsung detik-detik terakhir anaknya.

Dari luka itulah, William Shakespeare kemudian menulis sebuah karya yang ‘kelak’ dikenal dunia: Hamlet.

Seberapa dalam tingkat emosional dan sebagus apa film ini? Sobat Yoursay bisa terus membaca sampai akhir sebuah impresi film Hamnet yang tertuang berdasarkan ‘selera dan subjektivitas’ ini.

Review Film Hamnet

Poster Film Hamnet (IMDb)

Sejak adegan pembuka, terasa banget ada atmosfer yang sangat berbeda dari drama sejarah pada umumnya. Alih-alih membuka cerita dengan tokoh besar William Shakespeare, film ini malah memperkenalkan Agnes terlebih dahulu.

Rekam kamera membawaku masuk ke hutan yang sunyi, seolah-olah alam itu sendiri ikut menjadi karakter dalam cerita. Pendekatan seperti ini terasa sangat khas gaya penyutradaraan Chloé Zhao. Begitulah, seperti yang pernah dia lakukan dalam film Nomadland (sudah aku ulas di Yoursay).

Aku suka bagaimana film ini menggambarkan hubungan antara manusia dan alam. Banyak adegan yang hampir enggak membutuhkan dialog panjang, tetapi mampu menyampaikan emosi hanya melalui visual dan ekspresi karakter. Sinematografinya juga memperkuat nuansa tersebut. Lanskap alam, cahaya lembut, dan komposisi gambar yang tenang membuat emosi film ini terasa begitu intim.

Oh, iya. Ada satu adegan ketika Agnes menyaksikan kematian Hamnet secara langsung. Kamera mendekat dalam close-up, membiarkan wajah Jessie Buckley memenuhi layar. Di momen itu aku benar-benar merasakan kesedihan yang begitu mentah dan brutal. Adegan itu terasa kayak ledakan emosi yang enggak tertahan.

Namun, aku pun merasa film ini kayak sengaja enggak menjadikan Shakespeare sebagai pusat cerita. Dia lebih berfungsi sebagai refleksi dari luka yang dialami Agnes.

Aku pun baru jujur, alur film ini terkadang terasa agak enggak stabil. Di satu sisi film ini drama keluarga yang sangat intim. Di sisi lain, mencoba menjadi kisah tentang proses kreatif sosok seniman, sekaligus menyentuh isu peran gender, kehidupan anak-anak, hingga dunia teater Elizabethan. Perpindahan fokus ini membuat narasinya sesekali terasa enggak sepenuhnya mulus, sih.

Selain itu ada beberapa momen ketika film terasa terlalu menjelaskan hubungan antara tragedi kematian Hamnet dan lahirnya karya Hamlet. Pun dengan adegan monolognya, “To be, or not to be” terasa sedikit terlalu gamblang, seolah-olah film enggak percaya penonton bisa menarik kesimpulan sendiri.

Meski begitu, semua kekurangan tersebut terasa memudar ketika film mencapai bagian akhirnya. Konklusi film ini benar-benar indah. Ketika kisah fiksi di atas panggung mulai berkelindan dengan luka nyata yang dialami para karakter, aku bisa merasakan bagaimana seni menjadi cara manusia untuk memahami kehilangan.

Salut deh, Chloé Zhao kembali menunjukkan kemampuannya merangkai emosi lewat visual yang puitis setelah terpuruk dengan filmnya terdahulu, Eternals (2021). Ditambah penampilan luar biasa dari Jessie Buckley, film ini jadi salah satu drama paling menyentuh sejak 2025 hingga tahun ini dan memang sangat layak masuk Academy Award 2026 (Oscar ke-98).

Bila Sobat Yoursay penasaran, coba deh mantapkan hati dan luangkan waktu menontonnya. Selamat nonton, ya.