Saya menonton Kafir: Gerbang Sukma tanpa ekspektasi berlebihan. Pikiran saya sederhana: ini akan jadi film horor lokal dengan teror standar—hantu muncul, doa dibaca, lalu semuanya selesai. Tapi dugaan itu runtuh pelan-pelan. Film ini tidak sekadar ingin membuat saya terkejut di kursi bioskop, melainkan meninggalkan rasa tidak nyaman yang bertahan bahkan setelah cerita usai.
Sejak awal, film ini terasa muram. Bukan muram karena gelapnya gambar semata, melainkan karena suasana batin yang dibangun. Ada kesedihan, ada rasa kehilangan, dan ada sesuatu yang seperti disembunyikan rapat-rapat. Saya langsung merasa bahwa horor di film ini tidak akan datang secara frontal, melainkan menyelinap lewat rasa bersalah dan ketakutan yang tidak pernah benar-benar disebutkan.
Cerita mengikuti kehidupan Sri, seorang ibu yang harus menjalani hidup bersama dua anaknya setelah sang suami meninggal secara misterius. Awalnya, keluarga ini berusaha kembali ke kehidupan normal. Namun perlahan, kejadian-kejadian aneh mulai mengganggu. Sosok tak kasatmata, teror berulang, dan petunjuk tentang masa lalu sang ayah membuka fakta bahwa kematian itu bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih gelap. Sebuah “gerbang” telah terbuka, dan keluarga ini harus menanggung akibatnya.
Yang membuat saya sulit melepaskan film ini dari pikiran adalah kedekatannya dengan realitas. Ritual, kepercayaan, dan praktik spiritual yang ditampilkan bukan hal asing. Ia hidup di sekitar kita, dibicarakan dengan bisik-bisik, dan kadang diterima tanpa banyak pertanyaan. Film ini seolah mengingatkan bahwa horor tidak selalu datang dari dunia lain, tetapi bisa lahir dari keyakinan yang disalahgunakan.
Saat teror mulai meningkat, saya tidak hanya merasa takut, tetapi juga gelisah. Ada pertanyaan yang muncul diam-diam: sejauh mana manusia rela melanggar batas demi kepentingannya sendiri? Film ini tidak menggurui, tapi cukup berani menunjukkan bahwa iman bisa menjadi pelindung, sekaligus alat yang berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.
Bagi saya, inti horor Kafir: Gerbang Sukma bukan pada penampakan makhluk gaibnya, melainkan pada rasa bersalah yang menumpuk. Teror terasa seperti hukuman yang datang terlambat, tetapi pasti. Setiap gangguan mistis seolah mengingatkan bahwa ada kesalahan yang belum ditebus, ada dosa yang ditutup rapat, dan kini menuntut balasan.
Pendekatan ini membuat horor terasa lebih personal. Saya tidak lagi menunggu hantu muncul, tetapi menunggu rahasia apa yang akan terungkap. Ketegangan tidak dibangun lewat suara keras semata, melainkan lewat atmosfer dan ekspresi karakter yang penuh tekanan.
Akting para pemain, terutama pemeran ibu, terasa jujur. Ia tidak digambarkan sebagai sosok pahlawan tanpa rasa takut, melainkan manusia biasa yang panik, lelah, dan nyaris menyerah. Sebagai penonton, saya bisa merasakan keputusasaannya. Ketika ia berdoa, doanya tidak terdengar heroik, melainkan seperti permohonan terakhir.
Secara visual, film ini memilih untuk menahan diri. Banyak adegan dibiarkan berjalan lambat, dengan pencahayaan minim dan ruang kosong yang terasa menekan. Justru dalam kesunyian itulah rasa takut tumbuh. Saya beberapa kali merasa lebih tegang saat tidak ada apa-apa di layar, karena film ini pintar memanfaatkan imajinasi penonton.
Film ini juga membuat saya berpikir ulang tentang cara kita memandang religiusitas. Tidak semua yang terlihat religius berarti benar, dan tidak semua ritual membawa keselamatan. Kafir: Gerbang Sukma bermain di wilayah abu-abu yang jarang disentuh film horor arus utama. Ia tidak menghakimi secara terang-terangan, tetapi cukup memberi isyarat bahwa penyimpangan sering kali lahir dari pembenaran diri.
Namun, saya juga merasa di beberapa bagian film terlalu ingin menjelaskan. Ada momen ketika simbol dan makna terasa disuapi, padahal akan lebih kuat jika dibiarkan mengendap. Meski begitu, kelemahan ini tidak sepenuhnya merusak pengalaman menonton, hanya sedikit mengurangi misteri.
Ketika film berakhir, saya tidak langsung merasa lega. Tidak ada sensasi “selesai” seperti horor kebanyakan. Yang tersisa justru pikiran yang berputar: tentang dosa, tentang pilihan, dan tentang konsekuensi. Film ini tidak memberi jawaban sederhana, dan mungkin memang tidak berniat melakukannya.
Bagi saya, Kafir: Gerbang Sukma bukan film horor yang sempurna, tetapi ia berani. Berani mengusik nurani, berani membuat penonton tidak nyaman, dan berani mengingatkan bahwa terkadang manusia sendiri adalah sumber teror paling menakutkan.
Jika sobat Yoursay mencari horor ringan untuk hiburan semata, film ini mungkin terasa berat. Namun jika ingin horor yang meninggalkan bekas, yang membuatmu berpikir setelah lampu menyala, Kafir: Gerbang Sukma layak ditonton. Ia bukan hanya soal hantu, tetapi soal iman, kesalahan, dan harga yang harus dibayar ketika manusia membuka gerbang yang seharusnya tetap tertutup.
Baca Juga
-
Ruqyah: The Exorcism, Ketika Iman Diuji di Tengah Teror Kerasukan
-
Gasing Tengkorak: Permainan Terlarang yang Membuka Pintu Kematian
-
Almarhum: Teror Kematian yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
-
Review Film Pabrik Gula: Horor Psikologis yang Menguliti Dosa Masa Lalu
-
Ketika Waktu Menjadi Ancaman: Ulasan Film Sebelum 7 Hari
Artikel Terkait
Ulasan
-
Film Kafir: Gerbang Sukma, Kembalinya Karma yang Datang Menagih Nyawa!
-
Return to Silent Hill: Adaptasi Horor yang Mengecewakan dan Gagal Total!
-
Mengenal Sisi Lain Tan Malaka Lewat Karya Legendaris Dari Penjara ke Penjara
-
Sharing Literasi Keuangan dari Ayah Milenial di Buku Kamu Tidak Sendirian
-
Menguak Misteri Lorong Rahasia dalam Lima Sekawan Beraksi Kembali