Bimo Aria Fundrika | MOHAMAD YUSUF ALWI
Poster film Ruqiah: The Exorcism (imdb.com)
MOHAMAD YUSUF ALWI

Menonton Ruqyah: The Exorcism membuat jantung berdebar sejak menit pertama, tetapi bukan semata karena adegan teriakan atau kemunculan mistis yang tiba-tiba.

Film ini mengajak penonton merasakan ketakutan yang bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga mental—seolah ikut bertanya, “Jika kejadian ini benar-benar terjadi di kehidupan nyata, apa yang akan saya lakukan?”

Cerita film ini sederhana, tetapi efektif. Penonton diajak mengikuti seorang perempuan muda yang mulai menunjukkan tanda-tanda kerasukan. Awalnya terlihat biasa saja, namun perlahan kejanggalan muncul. Orang-orang di sekitarnya kebingungan—ada yang panik, ada yang tidak percaya, ada pula yang ingin menolong tetapi takut mengambil langkah yang salah. Di sinilah horor mulai terasa: bukan hanya karena unsur gaib, melainkan karena manusia sering kali tidak tahu harus berbuat apa.

Hal yang membedakan film ini dari horor kebanyakan adalah fokusnya pada eksorsisme atau ruqiah. Adegan pembacaan ayat suci dan doa yang dilakukan oleh ustaz tidak dibuat berlebihan.

Tidak ada teriakan dramatis atau efek CGI yang mencolok. Justru kesederhanaan itulah yang membuat suasana terasa mencekam. Lantunan ayat, gema suara di ruangan gelap, serta tatapan kosong tokoh utama mampu menimbulkan rasa ngeri tanpa perlu mengandalkan kejutan instan.

Selain itu, film ini berhasil membangun kedekatan dengan para tokohnya. Mereka digambarkan tidak sempurna: panik, salah mengambil keputusan, bahkan terkadang egois. Hal ini membuat penonton mudah berelasi.

Kita dapat melihat diri sendiri dalam sikap mereka—rasa ingin tahu, sikap skeptis, atau keyakinan bahwa diri sendiri mampu menghadapi hal gaib. Horor pun tidak hanya datang dari makhluk tak kasatmata, tetapi juga dari interaksi antarmanusia. Dalam beberapa momen, konflik manusia justru terasa lebih menakutkan daripada sosok gaib itu sendiri.

Tempo film ini berjalan pelan, tetapi tepat. Adegan-adegan tidak disajikan terburu-buru; semuanya diberi ruang untuk “bernapas”. Terkadang kamera hanya menyorot tokoh yang terdiam atau menangkap suara samar di sekitar rumah. Awalnya mungkin terasa lambat, namun pendekatan ini justru membuat rasa takut lebih membekas, bukan sekadar mengejutkan sesaat.

Visual film disajikan secara sederhana, tetapi efektif. Ruangan gelap, cahaya lilin yang bergetar, serta bayangan di dinding menciptakan atmosfer yang terasa nyata. Tanpa efek berlebihan, ketegangan muncul dari suasana itu sendiri. Bahkan suara angin, langkah kaki, hingga bunyi gasing kecil dalam adegan tradisional berhasil memicu rasa merinding.

Hal menarik lainnya, film ini juga menyuguhkan refleksi tentang iman dan tradisi. Penonton diajak merenung: apakah kita akan seteguh itu jika mengalami kejadian serupa? Tanpa ceramah panjang atau penjelasan eksplisit soal agama, film ini menyampaikan dilema batin para tokohnya melalui tindakan dan konsekuensi yang mereka hadapi.

Akhir cerita tidak ditutup dengan rapi, dan justru di situlah kekuatannya. Film ini tidak menawarkan rasa aman semu dengan kesimpulan bahwa semuanya telah selesai. Sebaliknya, penonton diajak merasakan dampak berkepanjangan dari peristiwa tersebut, seperti trauma yang tidak serta-merta hilang. Hal ini membuat pengalaman menonton terasa lebih dalam daripada sekadar rasa takut pada hantu.

Secara keseluruhan, Ruqyah: The Exorcism bukan film horor yang mengandalkan teriakan atau efek visual semata. Ini adalah horor yang membawa penonton seolah berada di dalam rumah itu—ikut panik, ikut takut, sekaligus ikut merenungkan iman, tradisi, dan batas tipis antara yang nyata dan yang gaib. Bagi penikmat horor dengan atmosfer mencekam dan cerita yang terasa dekat dengan realitas, film ini layak ditonton.

Setelah menontonnya, mungkin kita akan lebih menghargai cerita-cerita lama atau larangan yang dulu dianggap sepele. Ketakutan yang ditinggalkan film ini tidak bersifat sementara; pertanyaan tentang iman dan keyakinan dapat terus terngiang. Di situlah Ruqyah: The Exorcism terasa berbeda—bukan hanya menakut-nakuti mata dan telinga, tetapi juga menekan pikiran dan perasaan penontonnya.