Berjudul Yang Terhormat Bapak Saya, buku kumpulan cerita pendek karya Fajar SH ini menghadirkan lima belas cerpen yang disusun dengan konsep yang unik. Buku setebal 215 halaman ini tidak sekadar menawarkan cerita, tetapi juga sebuah perjalanan emosional yang bertahap, personal, dan reflektif.
Fajar SH membagi bukunya ke dalam tiga bab besar. Yang Terhormat, Bapak, dan Saya. Yang sekaligus menjadi penanda fokus tematik sekaligus sudut pandang batin penulis.
Pembagian ini bukan semata pilihan estetis, melainkan strategi naratif. Pembaca diajak bergerak dari ruang yang lebih luas dan kolektif menuju ruang yang intim dan personal. Dari tokoh-tokoh yang “terhormat” secara simbolik, lalu figur bapak sebagai pusat afeksi dan konflik, hingga “saya” yang merepresentasikan manusia dengan segala rapuh dan gelisahnya.
Bab pertama, Yang Terhormat, berisi cerita-cerita yang oleh penulis ditempatkan sebagai fondasi. Di sini Fajar SH menghadirkan sosok-sosok dan peristiwa yang memiliki bobot historis, spiritual, maupun kultural. Cerita tentang Mbah Sangkil, legenda Candi Sewu, hingga kisah nyata yang secara jujur diakui diperoleh langsung dari sumbernya, memperlihatkan kecenderungan penulis untuk merawat ingatan kolektif.
Ada pula cerita tentang Tsunami Aceh yang tidak sekadar jadi laporan tragedi semata, melainkan lebih tepat disebut sebagai perenungan tentang kehilangan, iman, dan kemanusiaan. Menariknya, tema haji di tahun 1920-an juga muncul, memberi lapisan sejarah yang jarang disentuh dalam cerpen-cerpen kontemporer.
Bab ini terasa seperti penghormatan, bukan hanya kepada tokoh atau peristiwa, tetapi pada nilai-nilai. Kesetiaan, keteguhan, dan keberanian manusia menghadapi zaman. Bahasa yang digunakan cenderung tenang, naratif, dan sesekali dokumentatif, seolah penulis ingin memastikan cerita-cerita ini tidak sekadar dibaca, tetapi juga diingat.
Memasuki bab kedua, Bapak, nuansa cerita menjadi lebih intim. Fokus berpindah pada dunia batin seorang ayah dengan berbagai latar waktu dan situasi. Sosok bapak dihadirkan tidak sebagai figur tunggal yang ideal atau selalu bijak, melainkan manusia dengan keraguan, kelelahan, dan pengorbanannya sendiri. Dalam bab ini, Fajar SH tampak tertarik membongkar lapisan emosi yang sering luput: rasa takut seorang bapak, diam yang panjang, dan cinta yang jarang diucapkan.
Cerita-cerita di bab ini terasa lebih personal, seolah pembaca sedang mengintip percakapan batin yang biasanya disembunyikan. Bapak tidak lagi berdiri di atas, melainkan sejajar dan justru di situlah sosoknya justru lebih nyata sebagai manusia.
Bab terakhir, Saya, menjadi puncak sekaligus penutup yang menyatukan keseluruhan buku. Di bagian ini, penulis mengajak pembaca memasuki perjalanan manusia secara utuh: dari masa kanak-kanak, pengalaman cinta, patah hati, hingga perselingkuhan. Tema-tema ini ditulis tanpa sensasionalisme berlebihan, lebih sebagai refleksi tentang pilihan, penyesalan, dan kedewasaan.
Cerita penutup yang berjudul sama dengan buku, Yang Terhormat Bapak Saya, berfungsi seperti simpul. Empat belas cerita sebelumnya terasa saling terhubung dan menemukan maknanya di sini. Pembaca menyadari bahwa seluruh perjalanan naratif ini bukanlah fragmen yang terpisah, melainkan satu rangkaian pengalaman yang saling menjelaskan.
Secara keseluruhan, Yang Terhormat Bapak Saya adalah kumpulan cerpen yang menawarkan cerita-cerita yang inspiratif. Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai cerita-cerita reflektif, bertema keluarga, sejarah, dan pergulatan batin manusia. Fajar SH tidak menawarkan jawaban secara gamblang, tetapi pembaca diajak ke ruang hening untuk merenung dan dalam keheningan itulah kekuatan buku ini memberi waktu untuk pembaca menemukan maknanya tersendiri.
Identitas Buku
- Judul: Yang Terhormat Bapak Saya
- Penulis: Fajar SH
- Penerbit: Mega Litera
- Tahun Terbit: Juni 2020
- Penyunting: Hendra
- Penatak Letak: Wahyu Norrudin
- Tebal: 215 halaman
- ISBN: 978-623-93385-5-8
- Kategori: Antologi cerpen
Tag
Baca Juga
-
Tragedi Hutan Gambut dan Ilusi Pemulihan yang Kita Percaya
-
Bertahan di Tempat yang Menyakitkan: Kisah Lela dan Anak-Anak Terlupakan
-
Antara Adab dan Inferioritas: Membaca Ulang Warisan Mentalitas Kolonial
-
Seni Mengenal Diri Lewat Teman: Membaca Kita Adalah Siapa yang Kita Temui
-
Buku Waras di Zaman Edan: Seni Bertahan Tanpa Ikut Gila
Artikel Terkait
-
Sastrawan yang Menghilang di Antara Kata
-
Seni Mengatur Hati di Buku You Are What You Think, You Are What You Believe
-
Mengenal Sisi Lain Tan Malaka Lewat Karya Legendaris Dari Penjara ke Penjara
-
Menguak Misteri Lorong Rahasia dalam Lima Sekawan Beraksi Kembali
-
Sharing Literasi Keuangan dari Ayah Milenial di Buku Kamu Tidak Sendirian
Ulasan
-
Review Jujur Dilan ITB 1997: Apakah Layak Ditonton atau Hanya Mengandalkan Nostalgia?
-
Mengulik Didikan Keras yang Mencetak Mega Bintang, Film Michael
-
Teka-teki untuk Anak Kepo: Pohon Tua, Tengkorak, dan Permainan Aneh
-
Novel The Barn Identity: Misteri Kerangka Manusia di Dalam Lumbung
-
Ulasan Novel Beauty Case, Membedah Obsesi Standar Kecantikan bagi Perempuan
Terkini
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada Salmokji dan Devil Wears Prada 2
-
4 Sunscreen Spray yang Bisa Dipakai di Atas Makeup, No Geser-No Ribet!
-
Negara Sibuk Urus Minat Baca, tapi Lupa Membangun Ruang untuk Saling Bicara
-
Diisi Para Aktor Ternama, Netflix Produksi Film Politik Baru The Generals
-
Rekornya Terputus, Marco Bezzecchi Akui Tak Mudah Lawan Alex Marquez