Apakah kalian percaya dengan semua ketentuan yang telah diberikan oleh Tuhan? Pastinya sulit bagi kita untuk bisa percaya seratus persen terhadap Tuhan, apalagi ketika hidup kita masih damai tanpa adanya masalah, sehingga muncul anggapan bahwa pengaduan kepada Tuhan hanya bisa dilakukan ketika kita dilingkupi masalah.
Saat itu, aku sangat berambisi untuk masuk ke sekolah favorit. Aku mengikuti segala cara agar bisa masuk ke sekolah tersebut, termasuk mengikuti lomba dengan hadiah ‘golden ticket’ untuk finalis. Usaha tersebut aku jalani selama tiga tahun berturut-turut tanpa jeda sama sekali. Usaha terakhirku adalah mengikuti seleksi siswa unggulan, tetapi akhirnya aku tetap tidak lolos.
Apa alasan di balik diriku yang sangat berambisi diterima di sekolah tersebut? Alasan simpelnya karena aku merasa banyak teman-temanku yang juga mendaftar di sana. Selain itu, sekolah tersebut memiliki reputasi yang sangat baik, sehingga tidak heran jika lulusannya banyak diterima oleh kampus-kampus bereputasi tinggi di Indonesia.
Setelah berusaha mengikuti lomba selama tiga tahun tanpa jeda, aku sangat berharap setidaknya bisa mendapatkan ‘kursi’ meskipun tidak menjadi juara. Dengan begitu, aku tidak perlu khawatir mencari sekolah lain dan bisa fokus pada ujian akhir. Namun, segala usaha tersebut terkesan sia-sia karena pada akhirnya aku tidak diterima.
Ternyata, memang bukan takdirku diterima di sekolah impian sebagian besar teman-temanku itu. Aku pasrah dan berharap bisa mendaftar ke sekolah favorit lainnya dengan nilai yang menurutku cukup pas, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, keluarga sudah pesimistis aku bisa diterima di sekolah favorit yang aku pilih sebagai jalan terakhir tersebut. Mereka khawatir nilaiku tidak cukup kuat untuk bersaing di sana. Akhirnya, aku mendaftar di sekolah yang sebenarnya bukan impianku maupun teman-temanku. Aku bahkan tidak pernah terpikirkan akan mendaftar ke sana, tetapi justru di sanalah aku diterima.
Ketika aku diterima, keluargaku sempat berandai-andai, “Seandainya kamu tetap memilih sekolah pilihanmu atau sekolah favoritmu, kemungkinan besar peluangmu untuk diterima tetap ada.”
Peluang itu tampak nyata ketika seorang temanku diterima di kelas IPS dengan nilai yang hampir sama denganku. Pengandaian itu sempat membuatku sedih karena aku sangat ingin berkumpul lagi dengan teman-temanku tanpa harus mencari suasana baru.
Menjalani hari-hari di sekolah yang tidak aku inginkan ternyata cukup menantang. Aku harus beradaptasi dengan baik agar bisa menjalani masa menimba ilmu selama tiga tahun. Saat itu, aku hanya mencoba percaya pada takdir yang sudah ditetapkan dan meyakini bahwa hal baik akan datang untuk membuatku berkali-kali lebih bahagia.
Ternyata, dari semua prasangka burukku terhadap lingkungan yang baru, ada banyak hal keren yang membuatku takjub. Siswa-siswanya sangat berbakat, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Aku mulai berpikir bahwa aku tidak salah masuk sekolah; hanya diriku saja yang awalnya butuh adaptasi dan penerimaan atas takdir Tuhan.
Diriku, yang jarang atau bahkan tidak memiliki prestasi sama sekali di sekolah sebelumnya, merasa kaget ketika diberi tahu bahwa aku masuk sepuluh besar dalam perlombaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi tingkat kabupaten. Aku terkejut dan tidak menyangka hal baik ini terjadi, padahal dulu aku menganggap diriku akan menjadi siswa tanpa prestasi sampai lulus nanti. Bahkan, timku di ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) berhasil menembus semifinal dan berkesempatan melakukan presentasi langsung di depan juri.
Capaian tersebut tidak pernah aku duga sebelumnya. Namun, capaian yang menurutku paling tidak masuk akal adalah aku diterima di kampus yang menjadi impian banyak siswa di sekolahku, bahkan seluruh siswa se-Indonesia. Aku diterima tanpa jalur tes, hanya mengandalkan nilai rapor dan prestasiku selama ini. Aku terkejut, bahagia, sekaligus bingung; rasanya sulit dipercaya bisa diterima di kampus yang sebenarnya di luar ekspektasiku. Aku tidak pernah terpikir akan diterima di sana karena sainganku adalah siswa-siswa berprestasi dari seluruh penjuru Indonesia yang memiliki nilai konsisten dan strategi memilih jurusan yang kuat.
Aku pun akhirnya tersadar bahwa langkah kita, sekecil apa pun itu, akan membawa kita menuju masa depan yang sesuai dengan usaha, doa, dan takdir masing-masing. Kita boleh saja memiliki keinginan, cita-cita, dan impian, tetapi jika itu bukan takdir kita, yakinlah bahwa kita akan diberikan jalan yang jauh lebih indah. Teruslah berusaha dan yakinlah bahwa pemberian Tuhan akan selalu baik serta bermakna dalam hidup kita.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Jelang Piala Asia U-17 2026, Timnas Indonesia Bakal Uji Coba Lawan China
-
4 Rekomendasi Drone Mini Terbaik: Ukuran Kecil, Kemampuan Nggak Main-Main!
-
Kota Nomura Masuk Jajaran Pemain Film Live Action Blue Lock, Ini Perannya
-
4 Sunscreen dengan Finish Dewy untuk Tampilan Glowing Natural
-
Lupakan Quiet Luxury, Loud Budgeting Jadi Simbol Status Sosial Baru di Tahun 2026