Film Return to Silent Hill merupakan adaptasi terbaru dari franchise horor ikonik Silent Hill, yang kali ini mengadaptasi cerita dari game Silent Hill 2. Disutradarai oleh Christophe Gans, yang sebelumnya menyutradarai film Silent Hill pada 2006, film ini mencoba membawa kembali nuansa psikologis dan atmosfer mencekam yang menjadi ciri khas seri ini.
Dirilis secara teatrikal di Amerika Serikat pada 23 Januari 2026, film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 28 Januari 2026. Di Indonesia, penayangan dimulai di jaringan seperti Cinépolis Cinemas, menjanjikan pengalaman horor bagi penggemar game maupun penonton umum.
Rahasia yang Tersembunyi di Silent Hill
Cerita berpusat pada James Sunderland, seorang pria yang menerima surat misterius dari istrinya, Mary, yang seharusnya sudah meninggal. Surat itu memanggilnya kembali ke kota Silent Hill, tempat yang dulu familiar namun kini berubah menjadi neraka penuh kegelapan, monster, dan ilusi psikologis.
James harus menavigasi kabut tebal, bangunan rusak, dan makhluk-makhluk mengerikan sambil mengungkap rahasia masa lalunya. Plot ini setia pada elemen inti game Silent Hill 2, termasuk tema penyesalan, rasa bersalah, dan pencarian penebusan.
Namun, film ini menambahkan elemen baru seperti flashback dan urutan mimpi yang lebih kompleks, yang bertujuan memperdalam narasi tapi sering kali membuat cerita terasa membingungkan.
Jeremy Irvine memerankan James Sunderland dengan cukup meyakinkan, menampilkan ekspresi kebingungan dan keputusasaan yang sesuai dengan karakter protagonis yang tersiksa. Namun, penampilan pendukung seperti Eddie Dombrowski dan Angela Orosco terasa datar dan kurang berkembang.
Karakter Laura, yang seharusnya lucu dan polos dalam game, di sini digambarkan lebih menyeramkan, yang membuatnya kehilangan esensi asli.
Jadi bisa kusimpulkan, akting para pemain terasa medioker, dengan dialog yang kaku dan kurang emosional, membuatku sulit terhubung dengan karakter. Ini menjadi salah satu kelemahan utama, karena horor psikologis bergantung pada kedalaman emosi yang kuat.
Review Film Return to Silent Hill
Visual dan desain produksi menjadi poin terkuat film ini. Christophe Gans berhasil menciptakan atmosfer Silent Hill yang ikonik: kabut pekat, ruangan berkarat, serta monster seperti Pyramid Head yang dirancang dengan makeup prostetik oleh penari dan akrobat.
Efek visualnya mengingatkan pada film pertama, dengan transisi antara dunia nyata dan Otherworld yang mencekam. Sound design juga luar biasa, dengan musik ikonik Akira Yamaoka dari game, ditambah suara-suara aneh seperti jeritan logam dan langkah kaki yang bergema, yang semakin meningkatkan ketegangan.
Rasio aspek 2.39:1 dan Dolby Atmos membuat pengalaman bioskop terasa lebih imersif, terutama pada adegan-adegan horor tubuh dan kemunculan makhluk supernatural.
Namun, film ini mendapat banyak kritik karena dianggap mengkhianati esensi game aslinya. Ini merupakan adaptasi yang misoginis, di mana karakter perempuan seperti Mary dan Maria direduksi menjadi objek penderitaan tanpa kedalaman, mengubah tema kompleks dalam game menjadi narasi yang merendahkan perempuan.
Menurutku, revisi ceritanya membuat plot terasa aimless, tanpa elemen puzzle-solving atau combat yang menjadi inti gameplay. Akibatnya, film ini terasa seperti rangkaian set piece horor yang tidak koheren.
Aku menyebutnya surprisingly aimless, meski durasinya hanya 106 menit, dengan pengembangan karakter yang minim serta efek yang terasa kasar. Bagiku, ini adalah pengkhianatan total terhadap Silent Hill 2, dengan perubahan cerita yang tidak perlu dan eksekusi yang buruk.
Tema-tema seperti rasa bersalah dan penebusan memang masih ada, tetapi dieksekusi secara dangkal. Film ini mencoba mengeksplorasi psikologi James melalui flashback, namun sering kali jatuh ke klise horor jump scare alih-alih introspeksi mendalam.
Bagi penggemar game, ini kemungkinan besar mengecewakan karena tidak mengikuti mitologi Silent Hill dengan setia, sementara penonton baru justru bisa kebingungan dengan plot yang sulit dipahami. Rating IMDb yang hanya 4,2/10 dari ribuan penonton mencerminkan kekecewaan umum, dengan box office awal di AS hanya mencapai 3,2 juta dolar AS.
Secara keseluruhan, Return to Silent Hill adalah upaya ambisius yang gagal memenuhi ekspektasi. Meski visual dan audionya mengesankan, kelemahan dalam cerita, akting, dan pendekatan adaptasi membuat film ini terasa sebagai kekecewaan besar. Bagi penggemar horor, film ini mungkin masih layak ditonton di bioskop demi atmosfernya, tetapi siapkan diri untuk frustrasi.
Untuk penayangan di Indonesia, film ini dapat disaksikan mulai 28 Januari 2026, namun sebaiknya pertimbangkan ulang jika kamu penggemar berat game-nya. Film ini berperingkat R karena kekerasan grafis, jadi tidak disarankan untuk penonton sensitif, ya Sobat Yoursay!
Rating pribadi dariku: 6,5/10.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mengenal Sisi Lain Tan Malaka Lewat Karya Legendaris Dari Penjara ke Penjara
-
Sharing Literasi Keuangan dari Ayah Milenial di Buku Kamu Tidak Sendirian
-
Menguak Misteri Lorong Rahasia dalam Lima Sekawan Beraksi Kembali
-
Ruqyah: The Exorcism, Ketika Iman Diuji di Tengah Teror Kerasukan
-
Sinopsis The Outsider (2018): Veteran Amerika yang Menjadi Anggota Yakuza Jepang
Terkini
-
Menakar Keadilan bagi Rakyat Kecil: Mengapa Permintaan Maaf Aparat Saja Tidak Cukup?
-
Sinopsis The Practical Guide to Love, Drama Korea Romansa Baru Han Ji Min
-
4 Tinted Sunscreen Non-Comedogenic, Bikin Wajah Flawless Tanpa Menyumbat Pori-Pori
-
Yoshi Resmi Hadir, Trailer Terbaru The Super Mario Galaxy Movie Jadi Sorotan
-
4 Jajanan Jadul Warna-warni yang Meramaikan Masa Kecil, Ada Es Gabus!