Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ialah potret tajam tentang manusia, cinta, dan ketidakadilan dalam pusaran kolonialisme Hindia Belanda pada pergantian abad ke-19 ke abad ke-20.
Diterbitkan pertama kali pada 1980 dan sempat dilarang beredar pada 1981, novel ini justru kian menegaskan posisinya sebagai karya sastra penting dalam sejarah Indonesia.
Buku ini menjadi seri pembuka dari Tetralogi Buru. Sebuah proyek sastra besar yang menggugat struktur kekuasaan kolonial sekaligus cara kita memandang diri sendiri sebagai bangsa. Novel ini telah difilmkan dan diperankan oleh Iqbal Ramadhan pada 2019 lalu.
Sinopsis Novel
Kisah Bumi Manusia berpusat pada Minke, seorang pemuda pribumi yang bersekolah di H.B.S, sekolah elite yang mayoritas muridnya orang Eropa. Status pendidikannya membuat Minke “berbeda” dari kebanyakan pribumi, tetapi tidak cukup untuk menempatkannya setara dengan orang Belanda.
Dalam kunjungannya ke Wonokromo, Minke bertemu Annelies Mellema, gadis Indo yang kecantikannya digambarkan menyaingi Sri Ratu Wilhelmina. Cinta tumbuh dengan cepat di antara keduanya. Cinta yang tulus, namun terjebak dalam struktur sosial yang timpang.
Hubungan Minke dan Annelies bukan sekadar kisah dua insan yang saling jatuh hati. Ia segera berkelindan dengan persoalan ras, kelas, dan kekuasaan. Minke tetaplah pribumi, meskipun berpendidikan Eropa dan berdarah priyayi.
Sementara Annelies, sebagai Indo, berada di posisi ambigu: bukan sepenuhnya Belanda, tetapi juga bukan pribumi. Ketegangan ini memuncak ketika hukum kolonial berbicara, menunjukkan betapa cinta dan kemanusiaan tak punya tempat di hadapan sistem yang rasis dan hierarkis.
Kelebihan Novel Bumi Manusia
Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada tokoh Nyai Ontosoroh, ibu Annelies. Ia adalah perempuan pribumi yang dijadikan gundik sejak usia muda dan sepanjang hidupnya dianggap “tidak sah” oleh hukum kolonial.
Namun Pramoedya menolak menggambarkannya sebagai korban pasif. Nyai Ontosoroh justru tampil sebagai sosok perempuan tangguh, cerdas, dan berwibawa. Simbol perlawanan sunyi terhadap penindasan. Melalui tokoh ini, pembaca diajak melihat ironi besar kolonialisme: yang dianggap “beradab” justru kerap bertindak paling tidak manusiawi.
Pramoedya juga dengan cermat menghadirkan dunia yang tidak hitam-putih. Tidak semua tokoh Eropa digambarkan kejam, dan tidak semua pribumi tampil bijak. Ada sahabat-sahabat Minke dari kalangan Indo dan Eropa yang membantunya, mengapresiasi kecerdasannya, bahkan mendukung karyanya. Sisi “abu-abu” inilah yang membuat Bumi Manusia terasa manusiawi dan dewasa, jauh dari propaganda satu arah.
Bahasa Pramoedya yang romantis, berani, dan penuh “gombalan” intelektual memperkuat suasana zamannya. Latar Hindia kolonial terasa hidup, lengkap dengan perdebatan tentang peradaban, modernitas, dan martabat manusia.
Kekurangan Novel Bumi Manusia
Dari segi bahasa, penggunaan ejaan lama dan sisipan istilah Belanda memang membuat novel ini terasa janggal bagi pembaca masa kini. Namun di sanalah daya tarik sejarahnya bila dihilangkan akan terasa seperti romansa biasa.
Belum lagi beberapa adegan sangat vulgar dan kurang cocok untuk pembaca di bawah umur. Serta sifat dari tokoh Nyai yang digambarkan cerdas tapi cukup meledak-ledak dan tidak berdaya di akhir cerita.
Pada akhirnya, Bumi Manusia adalah roman yang kaya lapisan. Ia berbicara tentang cinta terlarang, pencarian jati diri, ketimpangan sosial, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Membacanya bukan hanya menikmati kisah, tetapi juga menelusuri luka sejarah yang membentuk bangsa ini.
Lewat fiksi, Pramoedya mengajak pembaca memahami bahwa kemerdekaan bukan sekadar soal lepas dari penjajahan, melainkan juga keberanian untuk menjadi manusia yang merdeka sepenuhnya.
Identitas Buku
- Judul buku: Bumi Manusia
- Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
- Penerbit: Lentera Dipantara
- Tahun terbit: 2019
- Tebal: 535 Halaman
- Nomor ISBN: 979-97312-3-2
- Kategori: Novel
- Genre: Historical Fiction/Drama Historis
Baca Juga
-
Yamaha Hentikan Tes Sepang Usai Insiden Jatuh Fabio Quartararo
-
Lebih Gelap dari Sekadar Tidak Punya Uang: Tragedi Anak SD di NTT
-
Seni Regulasi Emosi Ala Zengo di Buku Jangan Cemas Karya Shunmyo Masuno
-
Bedah Buku Stolen Focus: Rahasia di Balik Algoritma yang Membuat Kita Kecanduan
-
Ulasan Novel Heartbreak Motel: Potret Kelam Luka Batin Seorang Aktris
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mengungkap Misteri Pulau Kirrin Bersama Lima Sekawan: Mengapa Mereka Minggat?
-
Membaca Pergerakan 1998 Lewat Novel Notasi: Saat Idealisme Diuji Waktu
-
Seni Regulasi Emosi Ala Zengo di Buku Jangan Cemas Karya Shunmyo Masuno
-
Romantisasi Duka dalam 'Ikhlas Penuh Luka' Karya Boy Candra
-
Film Sadali: Refleksi Diri di Balik Kanvas Kosong yang Sunyi
Terkini
-
Jamu China, Timnas Indonesia U-17 Diperkuat 28 Pemain Lokal hingga Diaspora
-
Boyfriend on Demand, Romansa Virtual Jisoo dan Seo In Guk Tayang 4 Maret
-
Ultah ke-24, Jisung NCT Bantu Rp 2,8 Miliar Bagi Penelitian Kanker Pankreas
-
4 Body Butter Under Rp50 Ribu untuk Kulit Kering dan Kusam, Lembap Seharian
-
Sibuk Persiapan, Pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner Makin Dekat?