“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Kutipan Bung Karno ini bukan sekadar retorika. Sejarah mencatat betapa idealisme dan semangat pantang menyerah pemuda menjadi motor penggerak perubahan, terutama saat melawan keotoriteran rezim Orde Baru yang mencengkeram rakyat dengan rantai besi militernya. Semangat inilah yang menjadi napas utama dalam novel Notasi karya Morra Quatro.
Novel setebal 294 halaman ini mengambil tema yang tidak biasa: revolusi mahasiswa 1998. Menggunakan sudut pandang orang pertama, Morra membagi ceritanya ke dalam tiga bagian yang dijahit rapi oleh prolog dan epilog yang menyentuh.
Sinopsis: Perseteruan Dua Kubu dan Gejolak 1998
Cerita dimulai melalui ingatan Nalia, seorang lulusan Kedokteran Gigi UGM yang kembali ke Yogyakarta. Kepulangannya menyeruakkan kenangan masa kuliah, tentang momen revolusi 1998 dan sosok lelaki dari masa lalunya. Bagian pertama novel yang berjudul "Dua Kubu yang Saling Bertentangan" menggambarkan rivalitas klasik antara mahasiswa Kedokteran dan Teknik Elektro. Masalahnya klise namun nyata: perbedaan strata ekonomi hingga persaingan kursi Presiden BEM.
Nalia bertemu dengan Nino, mahasiswa Teknik Elektro yang pendiam dan penuh misteri, saat ia ingin memasang iklan di radio ilegal mahasiswa, Radio Jawara. Namun, tembok permusuhan antarfakultas itu runtuh seketika saat seluruh mahasiswa UGM melebur menjadi satu di Bundaran UGM untuk mengucapkan Sumpah Mahasiswa. Nalia, bersama sahabat-sahabatnya, terjun ke dalam demonstrasi besar-besaran yang mengubah hidup mereka selamanya. Peristiwa itu berakhir tragis ketika Nino menghilang setelah berhadapan dengan perwira bersenjata. Sejak saat itu, Nino hanya mengirimkan surat tanpa alamat dengan janji yang sama: "Suatu saat aku pasti kembali, Nalia."
Nasionalisme, Romansa, dan Detail Arsitektur UGM
Kelebihan utama novel ini adalah keberhasilannya memotret nasionalisme pemuda Indonesia dengan sangat kental. Morra Quatro juga sangat piawai mendeskripsikan setting tempat. Sebagai mahasiswa yang berkuliah di tempat yang sama dengan latar buku ini, saya dibuat terpukau oleh rincian deskripsinya. Bayangkan, saya baru menyadari bahwa taman di tengah Fakultas Teknik memiliki delapan sudut (segi delapan) justru setelah membaca novel ini!
Meski terkadang deskripsi tempat yang terlalu mendetail membuat pembaca harus sedikit berkonsentrasi lebih, alur ceritanya tetap terasa ringan berkat bumbu persahabatan dan cinta yang pas. Kisah cinta Nalia dan Nino terjalin sederhana tanpa mengurangi ketegangan suasana demonstrasi. Penulis juga cerdik menyisipkan humor serta riset sejarah dan ilmu keteknikan yang berbobot.
Kekurangan
Namun, buku ini bukan tanpa celah. Saya menemukan cukup banyak kesalahan ketik (typo) dan spasi antar-kata yang acak sehingga cukup mengganggu kenyamanan membaca. Selain itu, judul "Notasi" terasa kurang menggigit karena fokus cerita lebih ke arah pergerakan dan siaran radio perjuangan, bukan pada elemen musik. Beruntung, kekurangan ini tertutupi oleh desain sampul yang memikat serta ilustrasi interior yang apik.
Satu karakter yang mencuri perhatian saya adalah Ve. Meskipun awalnya "Aku" (Nalia) tidak menyukainya, Ve terbukti sebagai sosok mahasiswi teknik yang tangguh, peka, dan menjunjung tinggi nilai solidaritas.
Ketertarikan saya pada novel ini bermula dari kalimat di sinopsisnya: "Rasanya sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung." Sebagai penghuni kos di Pogung, kalimat itu terasa seperti undangan personal untuk masuk ke dalam ceritanya.
Notasi adalah bacaan wajib bagi para pemuda, khususnya mahasiswa Indonesia. Novel ini bukan sekadar romansa kampus, melainkan pengingat akan jati diri dan tanggung jawab moral kita terhadap bangsa. Sebuah refleksi untuk menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme yang mungkin mulai meredup. Hidup Mahasiswa Indonesia!
Identitas Buku:
- Judul Buku : Notasi
- Penulis : Morra Quatro
- Tebal : 294 halaman
- Terbit : May 2013
- ISBN: 9797806359, 9789797806354
- Penerbit : GagasMedia
Baca Juga
-
Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng: Ketika Ide Menjadi Komoditas
-
Review Sejarah Islam Klasik: Membedah Peradaban Lewat Sudut Pandang Barat
-
Review The Motorcycle Diaries: Awal Mula Lahirnya Sang Che Guevara
-
100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?
-
Karya Legendaris Idrus: Menelanjangi Luka Sejarah dan Trauma Zaman Jepang
Artikel Terkait
Ulasan
-
Suka Kusuriya no Hitorigoto? Wajib Nonton Raven of the Inner Palace!
-
Menggugat Kolonialisme di Kursi Terdakwa: Soekarno dalam Pledoi 1930
-
Ulasan Film Penjagal Iblis: Dosa Turunan, Ritual Kuno Pengundang Petaka!
-
Mengenal Dimensi Liminal, Sumber Teror Utama Film Backrooms
-
Metamorfosis Karya Franz Kafka: Ketika Cinta Berubah Jadi Keterasingan
Terkini
-
Pelatihan Militer untuk Calon Manajer Koperasi Merah Putih, Apa Urgensinya?
-
Anime ONE PIECE HEROINES Ungkap Lagu Tema oleh AiNA THE END, Tayang 5 Juli
-
Samsung Galaxy M47 5G Coming Soon: Snapdragon Baru, Kamera OIS, dan Baterai Jumbo
-
Demo adalah Aksi Menyuarakan Ketidakpuasan, Bukan Pamer Dukungan
-
Bosan Parfum Cepat Hilang? Ini 5 Rekomendasinya yang Tahan 24 Jam