Salat Jumat telah usai. Seperti biasanya, Adi pulang paling akhir. Ia tak pernah terburu-buru meninggalkan masjid. Namun langkahnya mendadak terhenti. Raut wajahnya berubah panik saat menyadari sepasang sandal yang tadi ia letakkan rapi di pelataran sudah tak ada.
Adi mengelilingi halaman masjid, menelusuri setiap sudut, berharap sandalnya hanya terselip atau terlempar tak jauh dari tempat semula.
“Kenapa, Le?” tanya Pak Ridwan yang melihat Adi mondar-mandir seperti orang bingung.
“Anu… sandal saya hilang. Padahal tadi masih di sekitar sini,”
“Kalau belum ketemu, pakai sandal masjid saja dulu. Nanti dikembalikan.”
Adi tersenyum tipis. “Nggak usah, Pakdhe. Saya pulang saja.”
Saat hendak melangkah pergi, pandangannya tertuju pada sepasang sandal hitam di dekat tempat wudu. Untuk sesaat ia mengira itu miliknya karena warnanya sama. Tapi ketika diperhatikan lebih dekat ternyata bukan.
Sepertinya ada yang tertukar, batinnya.
Awalnya ia ragu, sebelum akhirnya mengenakan sandal itu dan memilih untuk langsung pulang. Di tengah perjalanan, Adi tertegun. Sandal itu terasa jauh lebih empuk dan nyaman dari yang biasa ia pakai. Tanpa perlu diberi tahu, ia tahu kalau ini bukan sandal murah.
Sesampainya di rumah, Adi langsung melepas sandal itu dan meletakkannya di dekat pintu. Belum sempat ia masuk kamar, Adji, saudara kembarnya, sudah lebih dulu memperhatikan alas kaki hitam yang tampak asing itu.
“Lho, sandalnya ganti?” tanya Adji sambil jongkok dan membolak-balik sandal tersebut.
“Bukan punyaku. Kayaknya ketukar di masjid,” jawab Adi singkat.
Namun mata Adji justru berbinar. Ia mengeluarkan ponselnya, membandingkan sandal itu dengan gambar di layar.
“Di, ini merek mahal. Sandal begini harganya bisa buat makan seminggu.”
Adi hanya terdiam saat mendengar ucapan saudara kembarnya. Ia tahu sandalnya sendiri hanyalah sandal biasa yang dibeli di pasar yang bahkan sudah mulai aus di bagian tumit. Pandangannya kembali tertuju pada sandal itu yang lebih bersih, kokoh, dan jelas terawat.
“Yaudah, simpan saja dulu,” lanjut Adji dengan niat yang sudah sangat jelas. “Namanya juga ketukar. Siapa tahu pemiliknya nggak nyari.”
Ucapan itu sukses membuat Adi bimbang. Ada bagian dalam dirinya yang tergoda menyimpan untuk dirinya sendiri. Tapi ada pula suara lain yang terus membuatnya tak tenang sejak keluar dari masjid tadi.
Ibu yang sejak tadi mendengar dari dapur akhirnya angkat bicara. “Kalau kamu merasa nggak enak, ya dikembalikan saja,” ucapnya tenang sambil mengaduk sayur. “Barang itu bukan rezeki kalau bikin hati kamu gelisah.”
Adi menunduk. Kata-kata Ibu telah berhasil menyadarkannya. Ia menyadari, sejak memakai sandal itu, langkahnya memang terasa nyaman, namun hatinya tidak.
Malam itu, pikiran Adi menjadi gelisah. Matanya sulit terpejam karena terus terbayang perihal sandal hitam itu. Ia membolak-balikkan badan. Ada banyak cara untuk mengembalikannya. Dititipkan ke takmir masjid, misalnya. Cara itu paling masuk akal, aman, dan tidak merepotkan siapa pun.
Namun entah kenapa, Adi merasa ingin mengembalikannya langsung. Menatap wajah pemiliknya sambil mendengar sendiri bahwa sandal itu memang miliknya. Masalahnya, Adi tak tahu siapa orang itu.
Hari berikutnya, Adi kembali ke masjid. Bukan hanya sekali tapi ia mulai sering datang, kadang lebih awal, kadang pulang paling akhir. Setiap selesai salat, ia melirik wajah-wajah yang keluar satu per satu, berharap menemukan seseorang yang mengenakan sandal mirip dengan yang kini tersimpan rapi di rumahnya.
Hari berganti, sandal itu belum juga menemukan pemiliknya. Pak Ridwan mulai memperhatikan kebiasaan baru Adi. Hampir setiap waktu salat, Adi hadir disana.
“Le, kamu sekarang sering ke masjid,” ujar Pak Ridwan.
Awalnya Adi ragu sejenak, lalu akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang sudah membuat hatinya gelisah. Tentang sandal yang tertukar dan niat untuk mengembalikannya.
Pak Ridwan itu tersenyum, matanya terlihat hangat. “Niatmu baik. Coba Jumat depan datang lagi. Siapa tahu kamu ketemu lagi sama pemilik sandal itu.”
Adi mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, dadanya terasa sedikit lebih ringan dan lega.
Jumat berikutnya, Adi kembali pulang paling akhir. Sejak salam terakhir, pandangannya tak lepas dari pelataran masjid. Satu per satu jamaah melangkah pergi, hingga akhirnya ia melihat seorang pria berhenti mendadak di dekat rak sandal.
Pria itu tampak rapi dengan kemeja lengan panjang, celana bahan, tas kerja disampirkan di bahu. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang jelas.
“Permisi pak, nyari sandal hitam ya?” tanya Adi ragu.
Pria itu menoleh. “Iya. Hilangnya sekitar seminggu yang lalu. Saya pikir ketukar.”
Setelah mendengar penjelasannya, tanpa sadar jantung Adi berdegup lebih cepat. Ia lalu menyebutkan ciri-ciri sandal yang disimpannya. Mata pria itu membulat, lalu tersenyum lega.
“Itu memang sandal saya. Minggu kemarin saya buru-buru. Dapat panggilan mendadak dari kantor, jadi nggak sempat ngecek. Saya asal pakai saja.”
Adi mengangguk. “Besok saya ambilkan ke rumah.”
“Terima kasih, Mas.” Ucap pria itu. Dalam hatinya ia bersyukur karena masih ada orang baik yang mau mengembalikan barangnya.
Keesokan harinya, sandal itu kembali ke tangan pemiliknya. Pria tersebut menghela napas lega saat menerimanya.
“Buat orang lain mungkin ini cuma sandal. Tapi yang saya lihat dari Mas, kejujurannya.” Ia mengeluarkan sejumlah uang lalu memberikannya pada Adi. “Tolong diterima.”
Adi refleks menggeleng. “Nggak usah, Pak. Saya ikhlas.”
“Kalau begitu, izinkan saya ikhlas juga,” balas pria itu sambil tersenyum. “Menolak rezeki juga nggak baik, kan?”
Adi akhirnya menerimanya, tentu saja dengan perasaan sungkan yang belum sepenuhnya hilang.
Sejak hari itu, Adi tak lagi perlu alasan untuk datang kembali ke masjid. Peristiwa sederhana itu telah mengubah kebiasaan dan langkah hidupnya. Bukan karena imbalan, melainkan karena ketenangan yang ia rasakan setiap kali memilih jujur.
Bagi pria itu, sepasang sandal yang sempat tertukar mengingatkannya bahwa di tengah tergesa-gesa dan dunia yang serba cepat, masih ada orang-orang yang memiliki hati yang baik. Dan ia pun belajar satu hal kecil: agar lebih teliti, dan tidak menyepelekan apa pun.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
4 Rekomendasi Ring Light Terbaik untuk Konten hingga Meeting Online
-
Gisella Anastasia Ngaku Pernah Nyaris Terjebak Love Bombing, Ini Modusnya!
-
5 Drama Rom-Com Bae In Hyuk yang Seru untuk Ditonton, Terbaru Our Universe
-
Cinlok di Panggung Musikal, Bae Na Ra dan Han Jae Ah Resmi Berpacaran
-
Mao Mao dan Berang-Berang: Penerbangan Bebek Kecil Mencari Jati Diri