Ketertarikan saya pada karya-karya Nurunala bermula dari novel-novel sebelumnya, seperti Festival Hujan dan Seribu Wajah Ayah. Penulis ini memiliki kekuatan khas dalam mengangkat tema keluarga, terutama sosok ayah, yang selalu sukses membuat saya terharu. Dalam novel Tuhan Maha Romantis, Nurunala kembali membawa narasi yang kental dengan nilai-nilai spiritual, tetapi kali ini berbalut konflik romansa yang cukup pelik.
Sinopsis: Antara Takdir dan Pilihan Hati
Bertemu kembali dengan seseorang yang pernah bertakhta di hati setelah lima tahun tanpa kabar adalah kebahagiaan yang sulit dilukiskan. Hal inilah yang dirasakan Rijal saat takdir mempertemukannya kembali dengan Laras. Sayangnya, waktu lima tahun telah mengubah banyak hal.
Rijal kini seorang penulis yang sudah terikat pertunangan dan hanya tinggal menghitung hari menuju pernikahan. Realitas ini memaksa Laras untuk mengubur dalam-dalam segala harapannya. Konflik batin inilah yang menjadi sumbu utama cerita: mencari jalan keluar atas perasaan yang terbentur pada komitmen dan prinsip agama.
Kekuatan Karakter dan Pendidikan Keluarga
Salah satu poin yang sangat saya sukai adalah penggambaran latar belakang keluarga Rijal. Penulis seolah-olah ingin menegaskan bahwa karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya. Dibesarkan oleh ayah yang seorang kepala sekolah dan ibu seorang pengajar, Rijal tumbuh menjadi pemuda santun dengan moralitas yang terjaga.
Hubungan antara Rijal dan ayahnya pun digambarkan sangat harmonis, sehingga mereka bisa saling berbagi cerita tentang hal sensitif seperti cinta. Kedekatan ini mungkin membuat banyak pembaca, termasuk saya, merasa iri. Kedudukan orang tua Rijal sebagai pendidik yang dihormati di lingkungannya juga memberikan warna tersendiri pada narasi, menunjukkan betapa kebaikan masa lalu akan membuahkan rasa hormat dari komunitas di masa depan.
Polemik Pertunangan dan Akhir Cerita
Meskipun narasinya mengalir indah dengan selipan pengetahuan sejarah sastra, seperti puisi Sajak Pertemuan Mahasiswa karya W.S. Rendra, saya harus jujur bahwa bagian akhir novel ini adalah salah satu yang paling mengecewakan bagi saya pribadi.
Pembatalan pernikahan yang hanya tinggal hitungan hari terasa sangat mengganjal. Dalam tradisi dan logika sosial kita, memutus pertunangan bukan perkara mudah karena melibatkan marwah keluarga besar. Saya merasa tindakan Rijal kurang bertanggung jawab; ia membiarkan ibunya menyampaikan pembatalan tersebut sementara ia justru sibuk mengejar cinta pertamanya ke luar negeri.
Sebagaimana kutipan di halaman 91: "Kita mencintai seseorang karena kita memilih untuk mencintainya... diri sendirilah yang memegang kontrol penuh atas perasaan."
Jika Rijal belum selesai dengan masa lalunya, seharusnya ia tidak terburu-buru melamar Aira. Kehadiran Laras yang tiba-tiba merusak komitmen yang sudah dibangun dengan Aira terasa kurang adil, apalagi penulis tidak memberikan alasan kuat mengapa Laras lebih layak diperjuangkan ketimbang Aira yang secara konsisten selalu ada untuk Rijal.
Terlepas dari ending yang bagi saya kurang memuaskan, Tuhan Maha Romantis tetap merupakan bacaan yang inspiratif. Sosok Rijal menjadi gambaran bagaimana seorang pria seharusnya bersikap saat pertama kali mengenal cinta dalam koridor agama. Novel ini sangat direkomendasikan bagi pembaca muda sebagai pengingat bahwa keromantisan yang sejati tidak harus melulu diwujudkan melalui pacaran, melainkan melalui penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul: Tuhan Maha Romantis
- Penulis: Nurunala
- Editor: Trian Lesmana
- Penerbit: Grasindo
- Terbit: Juli 2023
- Tebal: 200 hlm.
- ISBN: 9786020530208
Baca Juga
-
Bukan Pengikutmu yang Sempurna: Saat Iman Menabrak Tembok Logika
-
Ngobrol Berdua, Jatuh Cintanya Sendirian: Potret Ngenes Cinta Tak Terbalas
-
Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini: Saat Rindu Tak Lagi Punya Alamat
-
Bukan Tips Diet: Membedah Stigma dan Kebebasan dalam Novel Amalia Yunus
-
Gentayangan karya Intan Paramaditha: Menjadi "Cewek Bandel" di Balik Pilihan Sulit
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Julid Fi Sabilillah: Strategi Warganet Indonesia Membongkar Propaganda Israel
-
Memaklumi Manusia Tak Harus Selalu Kuat di Novel Bibi Gill Karya Tere Liye
-
Perempuan, Perlawanan, dan Palestina: Memahami Leila Khaled Lewat Biografi Karya Sarah Irving
-
Orang-Orang Proyek: Potret Getir Idealisme yang Terbentur Busuknya Sistem
-
Fenomena "Buku Jelek": Mengapa Kita Terobsesi Jadi Polisi Literasi?
Ulasan
-
Dari Perpustakaan ke Hamburg: Manis-Pahit Kisah Alster Lake
-
Dunia Milik Siapa? Bedah Rahasia Penguasa Bareng Noam Chomsky
-
Kenapa Luka Batin Tidak Pernah Hilang? Mengungkap 'Kerak' Trauma yang Membentuk Diri Anda
-
Ketika Setan Bicara Jujur: Membaca Ulang Kegelapan dalam Buku Curhat Setan
-
Bukan Pengikutmu yang Sempurna: Saat Iman Menabrak Tembok Logika
Terkini
-
Modal 2 Juta Bisa Punya "Laptop" Mini? Cek 5 Rekomendasi Tablet Kece Buat Nulis
-
Menimbang Ulang Sekolah Daring di Tengah Krisis Global
-
4 Toner Lokal Ukuran 200-500 ML, Solusi Awet Andalan Kulit Cerah dan Lembap
-
Selat Hormuz Ditutup, Laptop Dibuka: Apakah WFH Solusi Penghematan BBM Nasional?
-
Imajinasi Saja Tidak Cukup, Menulis Fiksi Juga Butuh Riset