Hayuning Ratri Hapsari | Annisa Deli Indriyanti
Sampul Depan Novel Misteri Patung Garam (Mizanstore.com)
Annisa Deli Indriyanti

Di balik ketenaran novel bergenre romansa, nyatanya Indonesia juga tidak mau ketinggalan dengan novel bergenre misteri. Ruwi Meita, penulis wanita asal Indonesia ini boleh dibilang punya gayanya sendiri dalam menulis novel, terutama dalam genre misteri.

Novelnya yang berjudul Misteri Patung Garam (2015) menjadi salah satu novel yang menjadi angin segar di lingkaran genre novel di Indonesia. Novel yang terbit di tahun 2015 tersebut sempat menjadi perbincangan hangat di X oleh para pembaca di Indonesia. Banyak dari pembaca di X yang merekomendasikan Misteri Patung Garam bagi mereka yang sedang mencari bahan bacaan fiksi lokal bergenre misteri.

Bahkan, Misteri Patung Garam sempat mengalami antrean yang membludak pada platform membaca digital, IPusnas. Antrean tersebut menyebabkan para pembaca harus sabar menunggu pembaca yang lain untuk selesai membaca agar dapat meminjamnya di platform tersebut.

Sebagai salah satu pembaca yang beruntung, di akhir bulan Januari pun saya berkesempatan dapat meminjam novel tersebut melalui platform Ipusnas. Setelah membacanya, saya rasa Misteri Patung Garam karya Ruwi Meita ini memang layak untuk dikenal dan dibaca oleh pembaca lokal yang menyukai genre misteri atau thriller. Rasanya sayang untuk tidak mengulas novel misteri dan thriller karya penulis lokal ini. Berikut ulasannya!

Kisah Misteri dan Thriller yang Mencekam

Misteri Patung Garam (2015) merupakan novel karya Ruwi Meita yang mengisahkan seorang polisi bernama Kiri Lamari bersama dengan kawanan polisinya dalam memburu pembunuh berantai yang senantiasa meninggalkan jejak dengan mahakarnya berupa patung garam. Tidak sendiri, sepanjang kisah Kiri juga senantiasa ditemani Kenes, kekasihnya yang berprofesi sebagai fotografer serta Ireng, bocah pencopet yang Kiri temui di Stasiun Wonokromo.

Kiri pun dipanggil kepolisian untuk menangani kasus di Surabaya setelah ditemukan mayat dari seorang pianis wanita ternama yang dibalut oleh banyak garam hingga badannya kaku layaknya sebuah patung garam dengan wajah yang mengerikan. Tidak hanya sekali, pelaku pembunuhan pun melakukannya beberapa kali dengan korban yang sama, yakni seorang wanita dan akan membalutnya dengan garam setelah berhasil membunuhnya. 

Pada lembawan awal pun, pembaca akan langsung disuguhkan dengan kisah misteri dan thriller yang menegangkan. Bahkan, pembaca serasa diajak berpikir layaknya tokoh Kiri dan polisi di dalamnya untuk mencari-cari siapa pelaku pembunuhan berantai patung garam tersebut.

Ketagangan tidak berhenti di sana, pasalnya Ruwi Meita selaku penulis pun terus menyuguhkan plot serta adegan-adegan yang mencekam hingga ke halaman belakang. Salah satu adegan yang berhasil membuat saya ataupun para pembaca lainnya tegang ialah ketika sang pembunuh justru bergerak lebih cepat daripada polisi itu sendiri saat ingin menangkapnya. Di samping ketengangan, pembaca juga bisa ikut merasakan rasa kecewa saat Kiri gagal menangkap pembunuh tersebut.

Uniknya, novel ini justru meletakkan dugaan pelaku pembunuhan pada bagian awal cerita. Mungkin hal ini terasa janggal dibandingkan dengan memberikan adegan ketika pelaku pembunuhan diletakkan di bagian klimaks menuju akhir cerita. Namun, peletakkan tersebut justru tidak kalah penting membuat pembaca semakin penasaran. Pasalnya, walau meletakkan dugaan pelaku pembunuhan tersebut di awal, Misteri Patung Garam nyatanya tetap konsisten untuk tidak mengungkapkan pelaku yang sebenarnya di awal agar pembaca dapat menebak siapa pelaku sebenarnya.

Kemudian, penggunaan ”garam” sebagai medium utama dari plot ini juga turut membuat cerita di dalamnya semakin terasa unik sekaligus menagangkan. Misteri Patung Garam berhasil menggunakan ”garam” sebagai alat kriminal yang berbahaya di tangan pelaku pembunuh berantai tersebut dan hal ini pula yang membuat saya kagum dengan Ruwi Meita karena bisa meantukan kisah misteri, thriller, dan unik dalam satu cerita.

Menggunakan Riset yang Mendalam

Selain menyuguhkan kisah misteri yang menegangkan, Misteri Patung Garam juga banyak memberikan wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca. Hal ini dapat ditemukan beberapa kali pada bagian dialog Kiri dengan polisi yang lainnya saat membahas pengaruh kandungan kimia terhadap tubuh manusia serta saat mereka mendiagnosis cara pelaku membunuh korban dengan sangat rapi.

Riset tersebut juga diletakkan penulis pada bagian seni melukis serta penggunaan nama-nama tumbuhan berbunga yang justru menjadi alat untuk membuktikan siapa pelaku pembunuhan berantai yang sesungguhnya.

Lalu, yang membuat saya kagum ialah Misteri Patung Garam turut meletakkan kisah nyata dari perilaku Edith (Istri Lot) yang membangkang perintah Tuhan dan suaminya. Kisah Edith inilah yang juga menjadi latar belakang pelaku pembunuhan tersebut melakukan aksinya kepada semua korban.

Mustahil rasanya, jika hal tersebut dilakukan Ruwi Meita secara kebetulan kalau bukan karena riset yang mendalam sehingga dapat tersusun secara rapi dan ilmiah.

Sayangnya, sebagai salah satu novel misteri dan thriller, novel ini masih memberikan porsi yang cukup banyak pada segmen romansa. Segmen tersebut dapat disaksikan pada kisah cinta Kiri dengan Kenes yang ditampilkan dengan porsi yang banyak pada setiap babnya. Alih-alih menyeimbangkan cerita, kisah romansa kedua tokoh tersebut justru menganggu ketegangan cerita misteri yang sesungguhnya.

Di samping kekurangan yang dimiliki, Misteri Patung Garam tetap patut diberi apresiasi sebagai salah satu novel lokal bergenre misteri dan thriller. Novel ini juga layak untuk dicetak ulang sehingga pembaca tidak perlu mengantre di Ipusnas untuk membacanya.

Nah, kalau ada Sobat Yoursay yang lagi bingung mencari novel lokal dengan genre yang menegangkan, novel Misteri Patung Garam bisa menjadi pilihan yang tepat. Selamat kisah Kiri dalam memburu pembunuh garam.