The Great Gatsby merupakan novel yang diterbitkan pada tahun 1925. Novel ini bukan sekadar novel tentang pesta pora atau kisah cinta yang tidak sampai. Novel ini adalah potret tajam, puitis, sekaligus menyakitkan dari masyarakat Amerika pada dekade 1920-an, sebuah masa yang dikenal sebagai The Roaring Twenties. Melalui narasi Nick Carraway, Fitzgerald membawa kita ke dalam dunia yang penuh dengan kemewahan materialistis, tetapi gersang secara spiritual.
Inti dari novel ini adalah Jay Gatsby, seorang miliarder misterius yang mengadakan pesta-pesta mewah setiap akhir pekan di rumahnya yang bak istana di West Egg. Namun, semua kemegahan itu hanyalah panggung. Panggung itu ia bangun demi satu tujuan: untuk menarik perhatian Daisy Buchanan, cinta masa lalunya yang kini telah menikah dengan pria kaya namun kasar, Tom Buchanan.
Gatsby adalah personifikasi dari American Dream. Ia lahir dari keluarga petani miskin, tetapi melalui tekad dan aktivitas ilegal, ia berhasil mengubah dirinya menjadi sosok yang sangat kaya. Kehebatan Gatsby terletak pada kapasitasnya untuk berharap. Bagi Nick, Gatsby adalah orang yang paling penuh harapan yang pernah ia temui.
Namun, tragedi Gatsby adalah ia mencoba membeli masa lalu dengan uang masa kini. Ia percaya bahwa jika ia memiliki cukup harta, ia bisa menghapus lima tahun kehidupan Daisy tanpa dirinya dan mengulang waktu kembali ke titik awal.
Fitzgerald dengan cerdas menggambarkan stratifikasi sosial melalui geografi fiksi Long Island. West Egg digambarkan sebagai tempat tinggal para orang kaya baru. Orang-orang seperti Gatsby yang bekerja keras atau berbuat curang untuk kaya, namun dianggap norak dan kurang berkelas oleh kaum elite lama.
Keluarga seperti keluarga Buchanan yang mewarisi kekayaan secara turun-temurun memiliki keanggunan lahiriah, tetapi di baliknya tersimpan kebosanan, kesombongan, dan kekosongan moral. Konflik antara kedua kelompok ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Amerika, mobilitas vertikal mungkin terjadi, tetapi penerimaan sosial tetaplah bersifat eksklusif. Seberapa pun banyak uang yang dimiliki Gatsby, ia tetap dianggap sebagai "orang luar" oleh Tom Buchanan.
Lampu Hijau atau The Green Light, cahaya di ujung dermaga rumah Daisy yang selalu dipandang Gatsby dari seberang teluk. Cahaya ini melambangkan harapan Gatsby, masa depan yang ia kejar, dan juga ketidakmampuan manusia untuk mencapai impian yang sudah terlampau jauh di belakang.
Lembah Abu-Abu (The Valley of Ashes), kawasan industri yang kumuh di antara Long Island dan New York. Tempat ini melambangkan keruntuhan moral dan sosial akibat pengejaran kekayaan yang tidak terkendali. Ini adalah "sisi gelap" dari kemewahan Manhattan dan Long Island.
Daisy Buchanan sering kali dilihat sebagai korban, namun ulasan yang lebih tajam akan melihatnya sebagai sosok yang bersalah secara pasif. Ia adalah "gadis emas" yang suaranya "penuh dengan uang". Meskipun ia mencintai Gatsby, ia terlalu terikat pada kenyamanan, keamanan status, dan hak istimewa yang diberikan oleh Tom.
Daisy melambangkan sifat dangkal dari impian Gatsby. Gatsby memuja sebuah citra Daisy yang ia bangun dalam pikirannya, bukan Daisy yang sebenarnya. Ketika realitas bertabrakan dengan fantasi, kehancuran tidak terelakkan. Daisy, seperti halnya Tom, adalah orang yang "ceroboh". Mereka menghancurkan barang dan orang, lalu mundur kembali ke dalam kekayaan atau ketidakpedulian mereka yang luas.
Pemilihan Nick Carraway sebagai narator adalah langkah jenius. Nick adalah orang yang mengklaim dirinya "tidak menghakimi," namun sepanjang buku, kita melihat ia sangat menghakimi semua orang kecuali Gatsby. Melalui sudut pandang Nick, kita merasakan kejijikan terhadap gaya hidup hedonis di New York sekaligus kekaguman yang aneh terhadap tekad Gatsby. Nick bertindak sebagai kompas moral bagi pembaca, menunjukkan betapa beracunnya masyarakat di sekitarnya.
The Great Gatsby berakhir dengan tragedi yang sunyi namun dalam. Kematian Gatsby dan ketidakpedulian orang-orang yang pernah menikmati pestanya memberikan pesan kuat tentang kesepian di tengah keramaian.
Kalimat terakhir novel ini, "So we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past," merangkum perjuangan manusia yang sia-sia namun gigih untuk melawan arus waktu.
Buku ini tetap relevan hingga hari ini karena berbicara tentang sifat dasar manusia, keinginan untuk menjadi lebih baik, obsesi terhadap citra, dan pencarian makna di dunia yang sering kali hanya memuja permukaan. Fitzgerald tidak hanya menulis sebuah cerita, ia melukiskan potret sebuah peradaban yang mabuk oleh kesuksesan material tetapi sedang sekarat dari dalam.
Identitas Buku
- Judul: The Great Gatsby
- Penulis: F. Scott Fitzgerald
- Penerbit: Scribner
- Tanggal Terbit: 1 April 2018
- Tebal: 180 Halaman
Baca Juga
-
Review Drama Kill It, Terbongkarnya Rahasia Panti Asuhan Hansol yang Kelam
-
Review Drama Voice, Aksi Menegangkan Tim 112 Dalam Memburu Pembunuh Berantai
-
Novel Pengakuan Pariyem, Identitas Perempuan di Tengah Stratifikasi Sosial
-
Ulasan Novel Tango & Sadimin, Dinamika Hidup Masyarakat Pinggiran Sungai
-
Ulasan Novel Olenka, Obsesi dan Kehampaan Jiwa yang Terasing
Artikel Terkait
-
Novel Babel: Menggugat Akar Kolonialisme Lewat Menara Terjemahan
-
Refleksi Imlek: Membedah Pemikiran Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran
-
Novel Tuhan Maha Romantis: Saat Cinta Pertama Menguji Keteguhan Komitmen
-
Buku Jelek itu Ada dan Justru Penting untuk Ada!
-
Novel Kamar Nomor 7, Teror yang Mengintai di Maitra Boarding School
Ulasan
-
Game Over: Menemukan Titik Temu Antara Seadanya dan Seandainya
-
Review Drama Kill It, Terbongkarnya Rahasia Panti Asuhan Hansol yang Kelam
-
How to Make Millions Before Grandma Dies: Ketika Warisan Bukan Lagi Tujuan Utama
-
Ulasan Perumahan Laddaland: Sajian Horor Spesial Awi Suryadi yang Kelam!
-
Lebih dari Sekadar Kopi dan Hujan: Membedah Makna Spiritual Lirik Bersenja Gurau
Terkini
-
ASUS ExpertBook P5 G2: Laptop Tipis yang Mengubah AI Menjadi Teman Bisnis
-
Arsip Angin dan Janji yang Tertunda
-
Bukan Sekadar Nyanyi dan Tepuk Tangan: Sisi Lain Perjuangan Menjadi Guru TK
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
Desa Les Buleleng Bali Menanam Masa Depan Lewat Konservasi Terumbu Karang