Berlatar di Oxford pada medio 1830-an, Menara Babel digambarkan lebih dari sekadar institusi penerjemahan; ia adalah pusat saraf kekuatan Inggris.
Novel ini mengikuti perjalanan empat mahasiswa: Robin, penyintas wabah dari Kanton; Ramy, pemuda Muslim dari India; Victoire, mantan pelayan dari Prancis/Haiti; dan Letty, gadis aristokrat asal Inggris.
Persahabatan mereka yang semula hangat perlahan retak seiring tumbuhnya kesadaran bahwa pengetahuan yang mereka pelajari justru digunakan untuk menindas tanah air mereka sendiri.
Cipta-Perak: Sihir Berbasis Linguistik
Salah satu elemen paling menarik dalam buku ini adalah sistem sihir yang disebut "Cipta-Perak". Kekuatan perak bangkit melalui batang logam yang diukir dengan sepasang kata dari bahasa berbeda yang memiliki makna serupa, namun menyisakan celah "makna yang hilang dalam terjemahan".
Distorsi arti inilah yang menciptakan energi luar biasa untuk mempercepat laju kereta, menyembuhkan luka, hingga menggerakkan mesin pabrik.
Ini merupakan metafora yang cerdas mengenai Revolusi Industri, di mana bahasa dieksploitasi layaknya bahan tambang demi keuntungan kolonial.
Dilema Identitas dan Sekat Diskriminasi
Meskipun Babel tampak sebagai puncak peradaban, diskriminasi ras dan gender tetap menggurita di dalamnya. Letty dan Victoire, misalnya, dilarang meminjam buku tanpa izin dari lelaki dewasa.
Di sisi lain, Robin akhirnya menyadari kenyataan pahit bahwa ia hanyalah "aset" bagi Profesor Lovell agar Kerajaan Inggris memiliki penerjemah Mandarin yang piawai untuk kepentingan diplomasi dan perang.
Robin, Ramy, dan Victoire berbagi kepedihan yang sama: mereka tidak akan pernah dianggap sebagai warga Inggris seutuhnya.
Kesadaran kolektif ini mendorong mereka bergabung dengan kelompok bawah tanah bernama "Hermes" demi meruntuhkan dominasi perak Kerajaan.
Sebaliknya, Letty—yang dijuluki "Bunga Mawar Inggris"—tidak pernah mengecap pahitnya penjajahan. Baginya, Oxford adalah dunia yang damai dan tanpa cela, sebuah perbedaan perspektif yang memicu konflik batin mendalam di antara mereka.
Buku ini bukan sekadar fantasi bergenre dark academia. R.F. Kuang berhasil membedah bagaimana bahasa bisa menjadi instrumen pembebasan sekaligus senjata penindasan.
Benturan antara Letty dan ketiga sahabatnya membuktikan bahwa persahabatan saja tidak cukup jika visi tentang keadilan dan kemanusiaan bertolak belakang. Sebuah bacaan wajib bagi Anda peminat sejarah, linguistik, dan isu dekolonisasi. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul: Babel: atau Kebutuhan akan Kekerasan / Babel: Pertumpahan Darah Sejarah Gelap Revolusi
- Penulis: R.F. Kuang
- Penerbit (Indonesia): Shira Media / Solusi DistribusiTahun Terbit: 2022 (Inggris), 2024 (Indonesia)
- Genre: Fantasi Sejarah, Dark Academia
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Review Film CODA: Harmoni Keheningan, Musik, dan Cinta Keluarga
-
Forrest Gump: Kebijaksanaan Emosional di Tengah Turbulensi Sejarah
-
Redefinisi Pengabdian: Dari Mahasiswa Kritis Menjadi Mahasiswa Konten
-
Koperasi Mendahului Aspal, Membedah Paradoks Desa Kelok Sunyi
-
Tragedi Seribu Perak: Saat Mahasiswa Menggugat Harga Kopi
Artikel Terkait
-
Refleksi Imlek: Membedah Pemikiran Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran
-
Novel Tuhan Maha Romantis: Saat Cinta Pertama Menguji Keteguhan Komitmen
-
Novel Kamar Nomor 7, Teror yang Mengintai di Maitra Boarding School
-
Ulasan Buku Julid Fi Sabilillah: Strategi Warganet Indonesia Membongkar Propaganda Israel
-
Perempuan, Perlawanan, dan Palestina: Memahami Leila Khaled Lewat Biografi Karya Sarah Irving
Ulasan
-
Novel Celebrity Wedding, Pernikahan Kontrak Antara Akuntan Publik dan Musisi
-
1000x Ghea Indrawari, Lagu yang Bikin Saya Berhenti Membandingkan Cinta
-
Ulasan Ketok Mejik: Aksi Konyol Para Mekanik Mempertahankan Rumah Warisan
-
Novel Dari Hari ke Hari: Sejarah Besar Diceritakan dari Mata Seorang Bocah
-
The Dream Life of Mr. Kim: Sisi Rentan Pekerja Senior di Dunia Korporat
Terkini
-
Underemployment: Saat Keringat Sarjana Cuma Jadi Angka Formal
-
Desa Les Bekali Generasi Muda dengan Bahasa Inggris, Siap Mendunia?
-
Naturalisasi Pemain Sepak Bola: Proses Kemenangan atau Kesalahan Berulang?
-
Malam Ini! Arsenal vs Manchester City di Community Shield, Siapa Lebih Unggul?
-
Membaca di Ruang Publik: Gerakan Senyap Membiasakan Membaca di Mana Saja