Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Bedebah di Ujung Tanduk (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Bedebah di Ujung Tanduk karya Tere Liye merupakan buku ketiga di seri Thomas dan merupakan buku keenam dalam serial aksi-politik yang berangkat dari buku Negeri Para Bedebah dan buku Pulang. Tokoh-tokoh ikonik seperti Bujang alias Agam (Si Babi Hutan), Thomas si konsultan keuangan kondang, dan Padma sang vigilante.

Melanjutkan jejak cerita dari Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, Pulang, Pergi, hingga Pulang-PergiNovel ini kembali membawa pembaca ke dunia penuh intrik global, jaringan kekuasaan gelap, dan konflik antar-elite ekonomi-politik yang semakin memanas. Namun, kali ini pendekatan ceritanya terasa mengalami pergeseran signifikan.

Salah satu ciri paling menonjol dari Bedebah di Ujung Tanduk adalah intensitas aksi yang dominan. Pertarungan fisik, duel antar karakter, dan adegan pertempuran menjadi tulang punggung narasi.

Plot twist hadir bertubi-tubi, mulai dari misteri identitas Ayako, pengungkapan sejarah keluarga Thomas, keahlian bertarung Bujang yang semakin ekstrem, hingga kelicikan Pak Tua Salonga yang selalu memancing decak kagum sekaligus humor. Semua ini menciptakan tempo cerita yang cepat, eksplosif, dan penuh kejutan.

Dari sisi setting, Tere Liye tetap menunjukkan kekuatan khasnya dalam membangun dunia cerita yang eksotis dan imajinatif. Pembaca diajak menjelajah dari Kathmandu yang mistis, Bhutan yang damai, hingga jalur legendaris Jalur Sutra, lengkap dengan sentuhan geopolitik global.

Detail-detail teknologi modern, hingga transaksi jual beli properti bersejarah, memperkuat kesan bahwa cerita ini bergerak dalam skala internasional, bukan sekadar konflik lokal.

Namun, di balik kekuatan aksi dan spektakel visual naratif tersebut, muncul kritik penting: pergeseran identitas seri. Jika dua novel awal semesta ini dikenal kuat dalam intrik finansial, logika ekonomi, dan permainan kekuasaan elite, maka Bedebah di Ujung Tanduk lebih menonjolkan pertarungan fisik dan nuansa fantasi.

Kompleksitas sistem ekonomi, intrik perbankan, dan permainan shadow economy yang dulu menjadi ciri khas dunia Thomas terasa semakin menipis.

Bagi pembaca lama, khususnya penggemar empat novel awal (Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, Pulang, dan Pergi), perubahan ini terasa signifikan. Cerita yang dulu dibangun lewat kecerdasan strategi, intrik politik, dan manipulasi sistem, kini lebih banyak digerakkan oleh kekuatan fisik, duel, dan heroisme karakter.

Bahkan, pola narasi yang identik dengan serial fantasi BUMI karya Tere Liye mulai terasa masuk ke dalam semesta Thomas dan Bujang, menciptakan kesan hibrida antara politik-ekonomi dan fantasi-aksi.

Di sinilah muncul ambiguitas. Dunia cerita menjadi lebih besar, lebih liar, dan lebih spektakuler. Namun bagi pembaca yang mencintai intrik finansial dan realisme politis di dua novel pertama, novel ini justru terasa menjauh dari “jiwa awal” seri.

Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa Bedebah di Ujung Tanduk tetap menunjukkan kemampuan Tere Liye dalam meramu aksi, humor, drama emosional, dan plot twist secara efektif.

Ritme cerita cepat, konflik intens, dan karakter-karakter ikonik tetap hidup. Hanya saja, nuansa fantasi yang semakin kuat menimbulkan kekhawatiran akan arah seri ini ke depan: apakah akan tetap menjadi novel intrik politik-ekonomi, atau bertransformasi penuh menjadi serial aksi-fantasi.

Pada akhirnya, Bedebah di Ujung Tanduk adalah novel yang kuat secara hiburan, tetapi rancu secara identitas. Ia memikat, seru, dan penuh kejutan namun sekaligus memunculkan pertanyaan besar: apakah semesta Thomas dan Bujang sedang berevolusi, atau justru kehilangan akar filosofis dan tematiknya?

Identitas Buku

  • Judul: Bedebah di Ujung Tanduk
  • Penulis: Tere Liye
  • Penerbit: Sabak Grip Nusantara
  • Tahun Terbit: Oktober 2021
  • Tebal: 415 halaman
  • ISBN: 9786239726218
  • Genre: Aksi, Thriller, Fiksi Kontemporer