Karya sastra sering kali menjadi cermin yang memantulkan realitas sosial, termasuk fenomena yang paling tabu sekalipun. Melalui novel Pendosa yang Saleh, Royyan Julian hadir menawarkan perspektif yang tidak biasa mengenai kehidupan seorang anak kiai atau 'Gus'. Lewat narasi yang tajam, ia menunjukkan bahwa menyandang status religius ternyata membawa beban hidup yang jauh dari kata sederhana.
Pergulatan Batin Sang Pengidap Pedofilia
Novel ini berpusat pada tokoh Mubarak, seorang putra kiai sekaligus ahli waris pesantren yang menyimpan rahasia kelam. Mubarak menyadari bahwa dirinya adalah seorang pedofil. Demi menghindari godaan dan melindungi anak-anak, ia memilih meninggalkan lingkungan pesantren dan berkuliah di Pameling. Melalui mata Mubarak, pembaca diajak "mengintip" bagaimana seorang pengidap pedofilia berjuang mengendalikan, menekan, sekaligus bergulat dengan hasrat destruktifnya.
Setiap bab dalam novel ini mampu menghipnotis sekaligus mencekam. Royyan menggunakan tujuh judul bab yang sangat lekat dengan dunia anak-anak, seperti Wildan Mukhallad, Timun Mas, Bukit Kerubim, Barney & Friends, Peniup Seruling dari Hamelin, Gadis Kecil Bertudung Merah, hingga Hansel & Gretel. Namun, jangan terkecoh; Royyan justru melakukan dekonstruksi total terhadap dongeng-dongeng tersebut ke dalam fantasi gelap seorang pedofil.
Paradoks dan Tragedi di Bukit Tengkorak
Rasa sayang Mubarak kepada seorang bocah bernama Barabas—adik dari kekasihnya, menjadi pemicu awal jatuhnya sang tokoh ke dalam nasib nahas. Hal ini digambarkan secara puitis sebagai perjalanan menuju "bukit tengkorak" yang menyengsarakan (hlm. 94).
Judul Pendosa yang Saleh sendiri merupakan sebuah paradoks yang memberikan kebebasan bagi pembaca untuk membangun horizon pemikiran sendiri sebelum menjelajahi isinya. Royyan Julian dengan lihai membenturkan konsep "pendosa" dan "kesalehan". Kita diperlihatkan kontras antara anak kiai yang mengasingkan diri demi menghindari tindakan tabu, dengan pemimpin ormas yang melepaskan atribut keulamaannya hanya demi memuaskan birahi di hotel murahan, namun tetap berteriak lantang antikemaksiatan di ruang publik.
Merayakan Pikiran di Atas Isu Sensitif
Novel ini bukan sekadar cerita, melainkan ruang diskusi untuk isu-isu paling sensitif: agama, seksualitas, pernikahan, hingga perilaku organisasi massa. Royyan tidak menghakimi latar belakang seseorang melalui karya ini, namun ia mensyaratkan pembacanya untuk berani berpikir kritis dan "merayakan" pergulatan pikirannya sendiri.
Pendosa yang Saleh adalah bacaan yang berat namun esensial. Ia menelanjangi kemunafikan sekaligus memanusiakan pergulatan batin yang sering kali dianggap tak berhak mendapatkan tempat dalam narasi sosial. Sebuah karya sastra yang provokatif dan menggugah nurani. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul : Pendosa yang Saleh
- Penulis : Royyan Julian
- Penerbit : Cantrik Pustaka
- Cetakan : Pertama, 2021
- Tebal : 128 halaman
- ISBN : 978-602-0708-97-3
Baca Juga
-
Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara
-
Jari ke Janji, saat Pena Menjadi Pedang dan Kata Kehilangan Makna
-
Teori Konspirasi di Warkop: Antara Hutan Terbakar dan BBM yang Langka
-
Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
Artikel Terkait
Ulasan
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Mampukah Indonesia Bangkit? Mencari Jalan Keluar dari Krisis
-
Indonesia Tidak Lagi Dijajah Belanda, Lalu Mengapa Gerpolek Masih Relevan?
-
Tragedi Ohara: Ketika World Government One Piece Fobia pada Pengetahuan
-
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Saat Skala Sekuel Dipaksa Lebih Besar
Terkini
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau