M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Koloni karya Ratih Kumala. (instagram.com/makaryabuku)
Taufiq Hidayat

Menuntaskan novel Koloni karya Ratih Kumala memberikan sensasi seperti baru saja menonton drama Korea yang penuh intrik dan ketegangan. Meskipun secara teknis tergolong fabel karena karakter utamanya adalah semut api, karya ini mengusung ide yang sangat inovatif.

Jarang sekali ada penulis yang berani mengambil perspektif dunia serangga untuk menggambarkan kompleksitas kehidupan, kekuasaan, dan pengkhianatan.

Sinopsis: Tragedi Feromon di Jantung IKN

Kisah bermula saat Darojak, seorang calon ratu semut muda, kehilangan seluruh koloninya akibat kerusakan hutan yang dipicu oleh alat berat manusia. Di tengah keputusasaan, ia diselamatkan oleh Sunar, seekor semut jantan yang membawanya masuk ke koloni lain. Di sana, Mak Momong, semut perawat yang bijak, berusaha menyembunyikan identitas Darojak dari penguasa koloni, Ratu Gegana. Aturan di dunia semut sangat ketat: tidak boleh ada dua ratu dalam satu koloni.

Namun, rahasia itu akhirnya terbongkar melalui feromon cinta yang tidak sengaja dilepaskan Darojak saat ia jatuh hati pada Sunar. Konflik pun meledak menjadi pertarungan kekuasaan yang sengit antara Ratu Gegana yang ambisius dan Darojak yang muncul sebagai simbol harapan baru. Menariknya, latar cerita ini berada di wilayah IKN sebelum hutan di sana dibabat, membuat tragedi kehancuran koloni Darojak terasa sangat logis dan kontekstual dengan isu pembangunan saat ini.

Kelebihan: Manusia di Balik Tubuh Serangga

Kelebihan utama novel ini terletak pada riset mendalam Ratih Kumala tentang dunia mirmekologi (studi tentang semut). Saya baru menyadari betapa kaku dan jelasnya struktur sosial mereka, mulai dari ratu, pekerja, pemburu, hingga semut jantan yang perannya hanya terbatas pada reproduksi. Penjelasan mengenai berbagai jenis feromon, mulai dari sinyal bahaya hingga tanda cinta, memberikan kesan nyata pada pembangunan dunianya (world-building). Bahkan, proses perkawinan semut yang berujung kematian bagi si jantan pun dikemas dengan narasi yang memikat.

Ratih Kumala berhasil membuat pembaca lupa bahwa karakter-karakter ini hanyalah serangga kecil di bawah tanah. Emosi yang dibangun begitu kuat hingga saya bisa merasakan simpati, amarah, hingga duka yang mendalam. Interaksi antartokohnya terasa sangat "manusiawi," mencakup isu hubungan ibu-anak yang tidak harmonis, persaingan saudara, hingga kritik tajam terhadap penguasa tiran.

Kekurangan

Satu-satunya hal yang mungkin mengusik kenyamanan pembaca adalah keberanian penulis dalam memberikan kejutan-kejutan yang menyakitkan. Beberapa karakter favorit saya harus menemui ajal pada saat saya mengharapkan akhir yang bahagia. Namun, saya menyadari bahwa pahitnya realitas ini adalah cara penulis memberikan kedalaman karakter melalui pengalaman kehilangan.

Secara keseluruhan, Koloni menyajikan konsep cerita yang segar, unik, sekaligus penuh muatan emosi. Ratih Kumala membuktikan bahwa politik kekuasaan tidak hanya terjadi di istana manusia, tetapi juga bisa digambarkan dengan indah dalam mikrokosmos di bawah tanah. Bagi Anda yang menyukai drama kaya intrik dengan latar yang berbeda dari biasanya, novel ini adalah bacaan wajib yang akan mengubah cara Anda memandang gundukan tanah di halaman rumah. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!

Identitas Buku:

  • Judul: Koloni
  • Penulis: Ratih Kumala
  • Editor: Mirna Yulistianti
  • Ilustrasi Sampul & Isi: Alit Ambara
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Terbit: Agustus 2025, cetakan pertama