Menuntaskan novel Koloni karya Ratih Kumala memberikan sensasi seperti baru saja menonton drama Korea yang penuh intrik dan ketegangan. Meskipun secara teknis tergolong fabel karena karakter utamanya adalah semut api, karya ini mengusung ide yang sangat inovatif.
Jarang sekali ada penulis yang berani mengambil perspektif dunia serangga untuk menggambarkan kompleksitas kehidupan, kekuasaan, dan pengkhianatan.
Sinopsis: Tragedi Feromon di Jantung IKN
Kisah bermula saat Darojak, seorang calon ratu semut muda, kehilangan seluruh koloninya akibat kerusakan hutan yang dipicu oleh alat berat manusia. Di tengah keputusasaan, ia diselamatkan oleh Sunar, seekor semut jantan yang membawanya masuk ke koloni lain. Di sana, Mak Momong, semut perawat yang bijak, berusaha menyembunyikan identitas Darojak dari penguasa koloni, Ratu Gegana. Aturan di dunia semut sangat ketat: tidak boleh ada dua ratu dalam satu koloni.
Namun, rahasia itu akhirnya terbongkar melalui feromon cinta yang tidak sengaja dilepaskan Darojak saat ia jatuh hati pada Sunar. Konflik pun meledak menjadi pertarungan kekuasaan yang sengit antara Ratu Gegana yang ambisius dan Darojak yang muncul sebagai simbol harapan baru. Menariknya, latar cerita ini berada di wilayah IKN sebelum hutan di sana dibabat, membuat tragedi kehancuran koloni Darojak terasa sangat logis dan kontekstual dengan isu pembangunan saat ini.
Kelebihan: Manusia di Balik Tubuh Serangga
Kelebihan utama novel ini terletak pada riset mendalam Ratih Kumala tentang dunia mirmekologi (studi tentang semut). Saya baru menyadari betapa kaku dan jelasnya struktur sosial mereka, mulai dari ratu, pekerja, pemburu, hingga semut jantan yang perannya hanya terbatas pada reproduksi. Penjelasan mengenai berbagai jenis feromon, mulai dari sinyal bahaya hingga tanda cinta, memberikan kesan nyata pada pembangunan dunianya (world-building). Bahkan, proses perkawinan semut yang berujung kematian bagi si jantan pun dikemas dengan narasi yang memikat.
Ratih Kumala berhasil membuat pembaca lupa bahwa karakter-karakter ini hanyalah serangga kecil di bawah tanah. Emosi yang dibangun begitu kuat hingga saya bisa merasakan simpati, amarah, hingga duka yang mendalam. Interaksi antartokohnya terasa sangat "manusiawi," mencakup isu hubungan ibu-anak yang tidak harmonis, persaingan saudara, hingga kritik tajam terhadap penguasa tiran.
Kekurangan
Satu-satunya hal yang mungkin mengusik kenyamanan pembaca adalah keberanian penulis dalam memberikan kejutan-kejutan yang menyakitkan. Beberapa karakter favorit saya harus menemui ajal pada saat saya mengharapkan akhir yang bahagia. Namun, saya menyadari bahwa pahitnya realitas ini adalah cara penulis memberikan kedalaman karakter melalui pengalaman kehilangan.
Secara keseluruhan, Koloni menyajikan konsep cerita yang segar, unik, sekaligus penuh muatan emosi. Ratih Kumala membuktikan bahwa politik kekuasaan tidak hanya terjadi di istana manusia, tetapi juga bisa digambarkan dengan indah dalam mikrokosmos di bawah tanah. Bagi Anda yang menyukai drama kaya intrik dengan latar yang berbeda dari biasanya, novel ini adalah bacaan wajib yang akan mengubah cara Anda memandang gundukan tanah di halaman rumah. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul: Koloni
- Penulis: Ratih Kumala
- Editor: Mirna Yulistianti
- Ilustrasi Sampul & Isi: Alit Ambara
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Terbit: Agustus 2025, cetakan pertama
Baca Juga
-
Dekonstruksi Sosok Priyayi Jawa dalam Mahakarya Umar Kayam: Dari Sastrodarsono hingga Lantip
-
Analisis Karakter Animal Farm: Saat Babi Berkuasa dan Relevansinya dengan Politik Modern
-
Yang Terlupakan dan Dilupakan, Upaya Melawan Sunyi dalam Sejarah Perempuan
-
Review Buku Kumpulan Budak Setan: Horor Klasik Ala Penulis Kontemporer
-
Ketika Menjadi Manusia Terasa Begitu Melelahkan, Review Novel 'Ningen Shikkaku' Osamu Dazai
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Love Unwritten, Kisah Ibu Tunggal dan Miliarder yang Terluka
-
Dari Buku ke Scroll: Neuroplastisitas dan Krisis Fokus Manusia Modern
-
Ketika Misi Putus Berubah Jadi Boomerang di Novel Algoritme Rasa
-
Romansa dengan Sentuhan Sejarah: Ulasan Novel Geronimo Karya Indah Hanaco
-
Ulasan Novel King of Sloth, Ketika Si Pemalas Jatuh Hati pada Sang Publisis
Ulasan
-
Romansa dengan Sentuhan Sejarah: Ulasan Novel Geronimo Karya Indah Hanaco
-
Film I Was a Stranger: Perjalanan Haru yang Menyentuh di Tengah Perang
-
Film Penyalin Cahaya, Mengungkap Potret Gelap di Balik Institusi
-
Ketika Misi Putus Berubah Jadi Boomerang di Novel Algoritme Rasa
-
Drakor The Art of Sarah, Identitas Palsu yang Muncul Akibat Ambisi
Terkini
-
5 HP Rp 3 Jutaan dengan Spesifikasi Gahar, Mana yang Paling Layak Dibeli?
-
Hipdut, Wajah Baru Dangdut yang Kembali Populer di Kalangan Gen Z
-
Bahaya di Balik Keharuman: Mengapa Vape Tetap Menjadi Racun bagi Tubuh?
-
Opini Publik yang Dibentuk Algoritma For Your Page, Apakah Masih Organik?
-
Latte Factor Versi Ramadan: Mengapa Takjil Rp20 Ribu Sehari Diam-diam Bikin Kantong Bolong?