Hayuning Ratri Hapsari | Sam Edy
Buku 'Sampaikanlah Walau Satu Konten' (Dokumen pribadi/Sam)
Sam Edy

Baru membaca judul bukunya saja sudah begitu menarik dan bikin penasaran: Sampaikanlah Walau Satu Konten (Tip Menjadi Kreator Konten yang Menginspirasi). Buku ini ditulis oleh tiga penulis, yaitu Mataharitimoer, Donny BU, dan Maria Amanda Inkiriwang.

Buku ini semacam panduan yang bagus dimiliki oleh para calon kreator konten masa kini. Melalui pendekatan empat pilar literasi digital (cakap digital, aman digital, budaya, dan etika digital) buku ini mengupas tuntas cara berkarya cerdas di tengah arus informasi yang deras.

Cakap digital adalah salah satu dari empat pilar literasi digital yang dibutuhkan oleh kreator konten. Cakap digital yang dimaksud di sini bukan hanya soal bisa menggunakan teknologi, tapi juga memahami cara memanfaatkannya dengan bijak dan efektif.

Misalnya, ketika hendak membuat konten bertemakan isu-isu yang lagi viral, carilah informasi dari sumber-sumber tepercaya. Portal resmi pemerintah, jurnal akademik, media mainstream yang kredibel adalah tempat terbaik untuk memulai. Ingat, jangan berhenti di satu sumber. Lakukan pengecekan silang (cross check) semua informasi yang didapatkan dari beberapa sumber berbeda untuk memastikan akurasinya.

Pilar literasi digital yang kedua adalah: aman digital. Sebagaimana rumah yang butuh keamanan seperti kunci dan CCTV, dalam dunia digital juga sama, butuh keamanan agar akun media sosial milik kita aman dari beragam gangguan yang sangat merugikan kita di kemudian hari.

Di dunia digital, keamanan menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Karena ancaman digital sering kali tidak kasat mata, tapi dampak negatifnya sangatlah serius. Sebagai kreator konten, aset digital yang kita punya adalah hal yang sangat berharga. Akun media sosial, konten yang dibuat, data pengikut, semuanya itu harus dilindungi dengan baik. Kehilangan akses untuk masuk ke akun pribadi atau kebocoran data bisa berakibat fatal bagi karier dan reputasi kita.

Budaya digital juga menjadi pilar penting dalam literasi digital. Terlebih di era sekarang, budaya tak lagi sebatas tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi secara tatap muka. Internet telah menciptakan ruang budaya baru, tempat nilai-nilai, kebiasaan, serta cara berinteraksi terbentuk dan berkembang secara dinamis. Sebagai kreator konten, kita tak hanya menjadi bagian dari budaya digital ini, tapi juga ikut membentuk dan memengaruhinya.

Dalam buku ini diungkap, budaya digital bukan hanya soal cara berkomunikasi. Ini juga tentang nilai-nilai yang kita bawa dan kembangkan di ruang digital. Misalnya, bagaimana kita menghargai karya orang lain dengan selalu mencantumkan kredit, bagaimana merespons perbedaan pendapat di kolom komentar, atau bagaimana memilih konten yang akan dibagikan.

Pilar terakhir dari literasi digital yang penting dipahami oleh seorang kreator konten adalah: etika digital. Ibarat kata, internet adalah sebuah kota besar yang dihuni miliaran orang. Seperti halnya kota yang nyata yang butuh aturan dan etika untuk bisa berfungsi dengan baik, dunia digital juga memerlukan panduan moral yang jelas. Etika digital adalah kompas moral yang mengarahkan kita dalam berperilaku dan membuat keputusan di dunia maya.

Nah, bagi kalian yang ingin menjadi seorang kreator konten yang profesional dan berkualitas, saya sarankan untuk membaca buku terbitan Elex Media Komputindo (Jakarta, 2025) ini.

Menjadi kreator konten juga bisa ladang pahala, lho. Kita bisa membuat konten-konten positif dan edukatif. Sampaikanlah kebaikan meski itu hanya sedikit. Sebagaimana pesan penting dalam buku ini: Sampaikanlah Walau Satu Konten.

Menariknya, buku ini juga dilengkapi kiat atau tip cara melawan hoaks, menghindari cyberbullying, serta memanfaatkan teknologi AI untuk konten kreatif.