Hayuning Ratri Hapsari | Sam Edy
Ilustrasi lampu merah (pixabay.com)
Sam Edy

Tepat di belakang lampu merah, motorku berhenti. Seorang seorang lelaki tua yang barusan duduk di trotoar berjalan pelan menghampiriku.

Refleks tanganku merogoh saku celana katun hitamku untuk mengambil uang kecil saat tangan hitam keriput itu menengadah ke arahku.

Segera kuulurkan lembaran 2000-an ke arah lelaki tua bertopi kumal yang ada di samping kiriku. Dia tersenyum sekilas sambil berucap terima kasih lalu melangkah ke arah pengendara motor di sampingku.

Ini bukan kali pertama aku bertemu lelaki tua pengemis yang biasa mangkal di pertigaan lampu merah ini. Sebelum-sebelumnya beberapa kali aku bertemu lelaki itu di lampu merah ini dan aku pun selalu memberikan uang kecil padanya.

Kadang bila tak ada uang pecahan, kuberikansaja uang Rp5.000 atau Rp10.000 padanya. Anggap saja berbagi rezeki kepada pengemis, toh berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan itu nggak akan membuat kita miskin, kan?

Aku pun segera memacu motor ketika lampu merah telah berganti warna hijau. Aku ingin segera sampai rumah dan bertemu dengan istri dan anakku. 

***

Ketika sampai rumah, istri menyambutku dengan tersenyum ceria. Dia memintaku untuk segera berganti pakaian dan selanjutnya mengajakku menuju dapur.

"Makanan sudah tersaji di meja makan," begitu katanya.

Begitu sampai di dapur, di meja makan kulihat sudah tertata rapi makanan kesukaanku. Ada sayur bening, tempe dan tahu goreng, dan tentu saja sambal krosak.

Sambal krosak merupakan sambal sederhana kesenanganku dari dulu. Cara membuatnya pun sangat mudah. Cabai rawit ditambah sedikit bawang. 

Tambahkan sedikit garam dan penyedap rasa. Lalu diulek dan dikasih sedikit minyak goreng. Sambal sederhana, tapi rasanya sangat enak di lidahku.

Itulah menu sederhanaku sore ini. Beruntung aku memiliki istri yang tidak banyak menuntut sesuatu di luar batas kemampuanku. 

Sebagai lelaki yang bekerja sebagai karyawan di sebuah dealer motor, gaji bulananku cukup untuk biaya istri dan anak semata wayangku yang masih duduk di bangku SD. 

Harus jujur kuakui, istriku sangat pandai mengelola keuangan sehingga selama ini kami tidak pernah merasa kekurangan.

***

Sebagaimana hari-hari biasanya, pagi ini aku sudah siap berangkat kerja. Tak lupa istriku mengantar sampai pintu sambil membawakan bekal makan siang untukku.

"Hati-hati di jalan, Mas, nggak usah ngebut," pesan istriku, pesan yang terus diulang setiap hari sambil tersenyum. 

Aku membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala. Lagi-lagi aku bersyukur memiliki istri yang sangat perhatian dan begitu menyayangiku.

***

Spontan kupelankan laju motor ketika melihat sosok yang aku kenal baru keluar dari sebuah sedan mewah warna hitam.

"Lho, bukannya dia itu lelaki tua pengemis yang biasa mangkal di lampu merah?" batinku tak percaya. 

Bahkan aku sampai mengecek-ucek kedua mataku untuk memastikan sosok di ujung sana itu adalah lelaki yang biasa kutemui di lampu merah.

Dia menutup pelan mobil itu. Kepalanya tengok kanan-kiri sebelum akhirnya menepi dan berjalan di atas trotoar. Sementara mobil sedan itu segera melaju dengan kencang.

Aku masih di sini. Di tepi jalan sepi, sambil memerhatikan lelaki tua di ujung sana. Masih penasaran dengan sosok lelaki di depan sana.

Dan aku menggeleng-geleng tak percaya saat lelaki itu menukar pakaian dan celananya. Lantas menggantinya dengan pakaian dan celana kumal seperti yang sering aku lihat di lampu merah.

***

Kebumen 8 Januari 2026.