Bimo Aria Fundrika | Sam Edy
Ilustrasi mawar Hari Valentine (unsplash)
Sam Edy

Gadis kecil itu datang lagi. Seperti minggu lalu, kedua tangannya yang mungil menggenggam seikat bunga mawar yang masih segar.

Sama sepertiku, gadis kecil yang kutaksir berusia enam tahun itu berjongkok sejenak. Bibirnya komat-kamit, lalu ia meletakkan seikat bunga mawar di atas pusara ayahku.

Nyaris sebulan ayah tiada. Ah, bukan ayah saja, tetapi juga ibu. Kedua orang tuaku mengalami kecelakaan tunggal di ruas jalan tol kota ini.

Mobil yang dikemudikan ayah menabrak pembatas jalan. Di dalam mobil hanya ada ayah dan ibu yang baru pulang dari luar kota untuk menghadiri hajatan kerabat ayah.

Ilustrasi mawar merah.(Freepik/timolina)

Selama seminggu aku menangisi kepergian kedua orang tuaku, sesuatu yang tak pernah kusangka sebelumnya. Sungguh, aku tak pernah menyangka akan ditinggal pergi untuk selamanya oleh kedua orang tuaku di usiaku yang bulan depan genap delapan belas tahun.

Meskipun aku bukan anak-anak lagi, saat ini aku sedang memasuki semester dua di salah satu universitas di kota ini—tetap saja, siapa pun yang ditinggal kedua orang tuanya pasti akan merasa sedih dan sangat kehilangan, bukan?

Apalagi aku anak tunggal. Aku masih sangat membutuhkan bimbingan ayah dan ibu. Aku masih membutuhkan kehadiran mereka untuk mewarnai hari-hariku.

Namun, siapa yang bisa menolak takdir? Jika ajal seseorang telah tiba, siapa yang mampu mencegahnya?

***

Setelah membaca doa untuk kedua orang tuaku, aku pun berdiri dan tergesa menyusul langkah kecil gadis yang sedang berjalan keluar dari pemakaman ini.

Aku merasa penasaran dengan sosok gadis kecil itu. Rasa penasaran ini sudah membuncah sejak minggu lalu, saat aku melihatnya beranjak dari pusara ayah.

Waktu itu aku baru tiba di pemakaman, sementara gadis kecil itu sudah hendak pulang. Aku sempat melihatnya meletakkan seikat bunga mawar di atas pusara ayah sebelum kemudian pergi.

“Hai, Dek. Kalau boleh tahu, namamu siapa?” tanyaku sambil menjejeri langkah gadis kecil itu. Kami berjalan bersisian di atas trotoar dekat pemakaman.

Gadis kecil itu menoleh dan tersenyum tipis.

“Namaku Mawar.”

Jawaban itu membuatku sedikit terkejut. Mawar? Namanya sama denganku.

“Rumahmu di mana? Kamu ke sini sama siapa?” tanyaku lagi.

“Sama Mama.”

“Buruan, Mawar!”

Spontan aku mendongak saat seorang perempuan berkacamata hitam berdiri di ujung jalan dan memanggil gadis itu. Mawar segera berjalan tergesa menghampiri perempuan yang kuyakini sebagai ibunya.

***
Sungguh, aku tak pernah menyangka bahwa gadis kecil yang memiliki nama sama denganku itu ternyata adalah saudari kandungku—beda ibu.

Hatiku terpukul saat mendengar pengakuan perempuan berkacamata hitam itu. Ia mengaku telah lama menjadi istri kedua ayahku.

Yang membuatku semakin sedih dan marah adalah kenyataan bahwa perempuan itu tahu ayahku telah beristri. Namun, ia rela menjadi istri kedua setelah ayah berjanji akan memberinya nafkah yang cukup.

Aku yakin, jika ibu masih hidup, beliau pasti sangat kecewa pada ayah. Selama ini sikap ayah tampak begitu manis di hadapan ibu dan aku. Ia bahkan memanjakan kami dengan berbagai fasilitas. Namun, siapa sangka, di luar sana ayah memiliki perempuan idaman lain?

Aku masih berdiri di atas trotoar dekat pemakaman itu, dengan hati hancur. Sementara gadis kecil dan perempuan berkacamata hitam itu telah berlalu, menaiki mobil hitam yang perlahan menjauh dari hadapanku.