M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Runtuh Live Session (Youtube/Feby Putri NC)
Ukhro Wiyah

Tidak semua orang yang tersenyum benar-benar bahagia. Ada yang tertawa untuk menutupi luka, ada yang terlihat kuat karena tidak ingin merepotkan orang lain. Melalui lagu Runtuh, Feby Putri dan Fiersa Besari seolah memberikan pelukan hangat bagi seseorang yang sedang merasa tidak baik-baik saja, tetapi tetap harus terlihat bahagia di hadapan dunia.

Kurang lebih seperti itu juga yang saya rasakan saat pertama kali mendengar lagu ini. Sebagai seseorang yang tidak terbiasa mengungkapkan perasaan dengan leluasa, saya merasa Runtuh seperti memberi ruang untuk jujur pada diri sendiri. Lagu ini seolah mengatakan bahwa perasaan yang selama ini saya pendam bukan sesuatu yang berlebihan—bahwa lelah, sedih, dan ingin berhenti sejenak adalah hal yang manusiawi.

Lagu ini dibuka dengan lirik yang langsung terasa membekas di hati “Ku terbangun lagi di antara sepi, hanya pikiran yang ramai.” Melalui kalimat tersebut Feby dan Fiersa seolah menggambarkan kondisi ketika pikiran kita seolah ramai sekali, padahal di luar sana semuanya tenang, tanpa suara. Namun, pikiran kita bergerak ke mana-mana, mengulang kejadian, menimbang kemungkinan, dan sering kali berakhir pada satu hal: menyalahkan diri sendiri.

Hal tersebut semakin terasa di frasa selanjutnya, “Mengutuki diri, tak bisa kembali 'tuk mengubah alur kisah.” yang memperlihatkan penyesalan yang tidak menemukan jalan pulang. Ada momen ketika kita ingin kembali ke masa lalu, mengubah keputusan, atau setidaknya mengatakan hal yang seharusnya diucapkan. Namun waktu tidak pernah benar-benar memberi kesempatan itu. Akhirnya, yang tersisa hanyalah rasa bersalah yang dipelihara diam-diam. Kita mengulang cerita yang sama di kepala, seolah dengan begitu semuanya bisa berubah, padahal tidak.

Masuk ke bait berikutnya, “Ketika mereka meminta tawa, ternyata rela tak semudah kata”, di bagian tersebut saya merasa seperti ada tekanan sosial yang sering tidak disadari. Dunia seolah mengharapkan kita selalu baik-baik saja. Kita diminta tersenyum, diminta menerima, diminta ikhlas. Padahal, menerima kehilangan atau luka bukan proses yang sederhana. Kata “rela” sering terdengar ringan, tetapi menjalaninya membutuhkan waktu, bahkan mungkin tidak pernah benar-benar selesai.

Kemudian Feby dan Fiersa menuliskan lirik yang sangat kuat dan membekas di hati saya. Bisa dibilang, bagian inilah yang menjadi favorit saya dalam lagu ini, “Tak perlu khawatir, ku hanya terluka, terbiasa 'tuk pura-pura tertawa.” Satu kalimat yang mungkin terdengar sederhana, tapi sebetulnya itu adalah bentuk pertahanan diri bagi sebagian orang. Kalimat “baik-baik saja” dan senyum yang kita berikan ke orang lain seringkali hanyalah sebuah topeng untuk menutupi luka yang sebenarnya. Saking seringnya menyembunyikan rasa, kadang kita sampai lupa bagaimana rasanya jujur pada perasaan sendiri.

Lirik selanjutnya berupa pertanyaan “Namun, bolehkah s’kali saja ku menangis sebelum kembali membohongi diri?” Saya merasa kalimat ini seolah menggambarkan seseorang yang menyimpan kelelahan begitu dalam. Hingga seolah menangis pun harus meminta izin.

Bait “Ketika kau lelah, berhentilah dulu, beri ruang, beri waktu” terdengar seperti nasihat lembut yang mengingatkan bahwa lelah adalah sesuatu yang wajar. Kadang, berhenti justru menjadi cara untuk bertahan. Memberi ruang berarti mengizinkan diri merasakan emosi tanpa buru-buru menghapusnya. Memberi waktu berarti tidak memaksa diri pulih dalam hitungan hari.

Namun realitas sering berbeda. Lirik “Mereka bilang, ‘Syukurilah saja’, padahal rela tak semudah kata” kembali menunjukkan jarak antara nasihat dan kenyataan. Ungkapan “bersyukur saja” sering dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi bagi seseorang yang sedang terluka, kalimat itu bisa terasa seperti menutup ruang untuk merasakan kesedihan. Seolah sedih adalah sesuatu yang salah. Padahal, menerima kenyataan justru membutuhkan proses yang tidak instan.

Menuju bagian akhir, “Kita hanyalah manusia yang terluka, terbiasa 'tuk pura-pura tertawa” terdengar seperti pengakuan yang jujur. Tidak ada manusia yang selalu kuat. Tidak ada manusia yang tidak pernah rapuh. Kita semua pernah berada di titik ketika senyum terasa lebih mudah daripada menjelaskan apa yang sebenarnya dirasakan.

Puncaknya ada pada lirik “Namun, bolehkah s'kali saja ku menangis? Ku tak ingin lagi membohongi diri.” Ini bukan lagi sekadar permintaan, tetapi keputusan. Ada keinginan untuk berhenti berpura-pura. Berhenti mengatakan “aku baik-baik saja” ketika sebenarnya tidak. Lirik yang menurut saya memberikan kekuatan dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Lagu ini ditutup dengan kalimat “Ku ingin belajar menerima diri” yang terasa seperti langkah awal menuju pemulihan. Meskipun luka tak langsung menghilang dan semua masalah tak serta merta selesai, ada kesadaran bahwa menerima diri dengan segala rapuh dan lelahnya adalah bagian penting dari proses penyembuhan. Kadang, yang kita butuhkan bukan menjadi lebih kuat, tetapi lebih jujur.

Bagi saya, keseluruhan lirik lagu ini terasa seperti perjalanan emosional dari menahan, berpura-pura, hingga akhirnya mencoba menerima. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi memberi ruang bagi perasaan yang sering kita pendam. Bahwa tidak apa-apa jika kita lelah. Tidak apa-apa jika kita sedih. Dan tidak apa-apa jika sesekali kita runtuh. Sebab dari situ, kita bisa belajar memahami diri sendiri dengan lebih utuh.