Sebenarnya aku tak pernah tertarik dengan buku Supernova. Dari covernya yang tak menarik sampai ketebalan bukunya saja bikin malas melirik ke arahnya. Tapi setelah membaca spoiler di akun bookstagram, aku jadi mulai tertarik. Siapa yang menyangka kalau buku ini punya cerita yang gak selatan covernya?
Akar karya Dee Lestari adalah novel kedua dari seri Supernova. Pertama kali terbit pada 2002, Akar menjadi salah satu buku yang memperkuat reputasi Dee sebagai penulis yang berani keluar dari pola novel populer pada umumnya. Jika buku pertama Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dipenuhi dialog intelektual dan permainan sains-filsafat, di buku ini terasa lebih smooth.
Dee menulis dengan nada yang kontemplatif, bahkan puitis, seperti dalam kutipan terkenalnya tentang kesejatian hidup yang tersembunyi dalam hal-hal sederhana: daun gugur, batu kerikil, hingga perjalanan tanpa arah.
Sinopsis Novel
Tokoh utama dalam novel ini adalah Bodhi, seorang pemuda misterius yang sejak bayi ditemukan di depan vihara di Pasuruan dan dibesarkan oleh seorang biksu bernama Guru Liong. Bodhi tumbuh sebagai anak dengan kemampuan batin yang tidak biasa.
Ia merasa berbeda dari orang lain, seolah memiliki kepekaan berlebih terhadap dunia di sekitarnya. Setelah 18 tahun hidup di vihara, Bodhi memilih pergi untuk mencari dirinya sendiri, memulai perjalanan panjang yang membawanya melintasi Asia Tenggara.
Di sinilah kekuatan utama Akar terasa. Novel ini bukan sekadar cerita petualangan, tetapi pencarian identitas dan makna hidup. Dee Lestari menggambarkan perjalanan Bodhi layaknya perjalanan spiritual seorang pengelana. Dari pelabuhan Belawan, Penang, Bangkok, Laos, hingga Kamboja, Bodhi bertemu banyak orang yang perlahan membentuk cara pandangnya tentang kehidupan.
Salah satu karakter paling menarik adalah Kell, seniman tato eksentrik berdarah Irlandia-Mesir yang percaya bahwa tubuh manusia adalah kanvas spiritual. Kell memiliki misi unik: ia harus membuat 617 tato pada orang lain sebelum akhirnya menerima tato terakhir di tubuhnya sendiri.
Dari Kell, Bodhi belajar seni tato sekaligus memahami bahwa setiap manusia membawa luka, simbol, dan cerita hidup masing-masing.
Selain Kell, ada pula Star atau Ishtar Summer, perempuan cantik misterius yang membuat Bodhi mulai mengenal cinta dan ketertarikan fisik. Hubungan mereka tidak dibangun seperti romansa manis khas novel populer, melainkan penuh simbol, hasrat, dan kehilangan.
Dee seakan ingin menunjukkan bahwa dalam perjalanan menemukan jati diri, manusia akan selalu dipertemukan dengan orang-orang yang datang hanya untuk meninggalkan jejak.
Hal paling menarik dari Akar adalah cara Dee memadukan spiritualitas Timur, budaya backpacker, tato, musik reggae, komunitas jalanan, hingga filsafat eksistensial ke dalam satu cerita yang terasa hidup. Bodhi bukan karakter heroik sempurna. Ia lugu, kadang bingung, sering terseret arus kehidupan, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa manusiawi. Pembaca seperti diajak ikut tersesat bersamanya.
Kelebihan dan Kekurangan
Gaya penulisan Dee juga terasa jauh lebih matang dibanding novel pertamanya. Jika Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh kadang terlalu sibuk memamerkan istilah ilmiah dan filosofis, maka di Akar semua riset terasa lebih halus dan natural. Dee memasukkan isu spiritual, tato, budaya hippie, hingga perjalanan lintas negara. Pembaca diajak memahami dunia Bodhi secara perlahan, bukan dicekoki teori.
Meski demikian, novel ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa pembaca merasa perjalanan Bodhi di Asia Tenggara terkadang terlalu panjang dan melebar. Ada bagian yang terasa seperti catatan perjalanan backpacker ketimbang konflik novel.
Karakter tertentu seperti Kell juga dianggap kurang dieksplorasi secara emosional, padahal potensinya sangat besar. Namun justru ketidakteraturan itu seolah menjadi bagian dari pesan novel ini: hidup memang tidak selalu berjalan lurus dan rapi.
Pesan Moral
Di balik petualangannya, Akar sebenarnya berbicara tentang keterikatan manusia terhadap identitas, masa lalu, dan materi. Bodhi terus bergerak karena ia percaya jawaban hidup tidak bisa ditemukan dengan diam di satu tempat.
Novel ini juga memperlihatkan benang merah dengan dunia Supernova secara keseluruhan. Kemunculan Gio dan Diva Anastasia menjadi pengingat bahwa semua cerita dalam semesta Supernova saling terhubung. Namun berbeda dari novel pertama yang lebih cerebral, Akar terasa lebih emosional dan spiritual.
Pada akhirnya, Supernova: Akar bukan novel yang menawarkan jawaban pasti. Ia justru mengajak pembaca menerima bahwa hidup adalah perjalanan panjang untuk memahami diri sendiri. Dan seperti Bodhi, mungkin manusia memang harus tersesat lebih dulu sebelum akhirnya menemukan “akar” kehidupannya sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Akar
- Penulis: Dee Lestari
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Tahun Terbit: 4 Mar 2012
- Tebal: 202 halaman
- ISBN: 9786028811712
- Seri: Supernova #2
Baca Juga
-
Tak Sekadar Ilmuwan: Sisi Manusiawi Stephen Hawking dalam My Brief History
-
Seni Mencintai dengan Konsistensi: Cermin Relasi Sehat di Yumis Cells 3
-
Pemimpin Karismatik: Ketika Kata-kata Bisa Menggerakkan Banyak Orang
-
Belajar Saling Memahami dari Buku Men Are from Mars, Women Are from Venus
-
Yumi's Cells 2: Realita Percintaan Orang Dewasa yang Tak Selalu Indah!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Suamiku Lukaku: Isu KDRT yang Diangkat dengan Sensitif dan Kuat
-
Review Film Talk to Me: Sajikan Manipulasi Arwah yang Sangat Menyeramkan!
-
Saat Seragam Berbicara tentang Kemanusiaan: Mengapa Kisah Tentara dan Dokter di DOTS Begitu Mengena?
-
Puisi sebagai Perlawanan: Membaca Kita Adalah Jelata di Tengah Indonesia yang Gelap
-
Children of Heaven Begitu Lembut Memotret Kemiskinan Hingga Menyayat Hati
Terkini
-
Gen Z dan FOMO Hari Raya: Haruskah Momen Iduladha Juga Diposting?
-
Sinopsis Office Romance, Film Netflix Jennifer Lopez dan Brett Goldstein
-
Refleksi: Di Tengah Hidup Serba Cepat, Iduladha Mengajarkan untuk Melambat
-
Surat Cinta untuk Kota yang Penuh Kenangan: Intip Pesona Film 'Dan Bandung'
-
Dampak Impulsive Buying Berkedok Self Reward pada Penyebab Sampah Kemasan