Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Novel As Long as the Lemon Trees Grow. (Dok. pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

As Long as the Lemon Trees Grow adalah novel debut karya Zoulfa Katouh tentang kemanusiaan dan romansa di tengah Perang Suriah yang sangat viral di TikTok dan telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Novel ini berfokus pada mereka yang tidak memiliki pilihan selain meninggalkan tanah air. Latar ceritanya adalah Revolusi Suriah pada Maret 2011, termasuk pembantaian Karam al-Zeitoun yang terinspirasi dari peristiwa nyata.

Sinopsis

Satu tahun setelah perang Suriah pecah, Salama kehilangan kehidupan yang seharusnya ia miliki: Mama, Baba, Hamza, cita-cita, dan rumahnya. Kini ia harus menjaga Layla, sahabatnya yang juga kakak iparnya dan sedang hamil, sebagai bentuk janji kepada Hamza. Salama, mahasiswi farmasi semester dua, terpaksa menjadi asisten dokter bedah di sebuah rumah sakit di kota tua Homs karena banyak dokter telah menjadi martir.

Hari-hari Salama dijalani dengan ketakutan akan deru pesawat tempur, operasi dengan obat-obatan yang terbatas, serta korban dari berbagai wilayah yang seakan tak pernah habis. Hingga suatu hari datanglah Kenan, seorang pemuda bermata hijau dengan semangat tinggi membela negaranya. Salama bahkan harus mengoperasi adik Kenan tanpa anestesi karena terkena serpihan bom. Kedekatan mereka pun tumbuh, dan Salama mulai menyadari bahwa di kehidupan sebelum perang, Kenan adalah calon suami yang seharusnya menjadi tunangannya.

Satu-satunya cara menyelamatkan Layla adalah dengan mengungsi ke Jerman melalui laut Mediterania menggunakan kapal dari seorang pria bernama Amm yang menjalankan bisnis penyelundupan pengungsi dan kerap mengambil keuntungan dari para korban. Namun, Salama selalu tersiksa oleh rasa bersalah—ia merasa tak mungkin meninggalkan pasien-pasiennya. Rasa bersalah itu semakin menghantuinya setiap kali pasien gagal diselamatkan, terlebih saat terjadi serangan kimia dengan gas sarin di sebuah sekolah. Anak-anak yang kejang-kejang menjadi korban, dan tak satu pun berhasil diselamatkan.

Rumah sakit adalah harapan hidup terakhir di kota tua Homs dan hanya memiliki beberapa staf dengan kondisi obat-obatan yang sangat terbatas. Dokter Ziad adalah dokter kepala, yang sudah seperti ayah bagi Salama, selalu mengingatkannya untuk beristirahat dan menjaga diri.

Sejak kematian ibunya, sosok Khawf muncul di hadapan Salama sebagai wujud halusinasi yang terasa sangat nyata. Khawf—yang berarti “takut”—adalah representasi naluri bertahan hidupnya, selalu memperlihatkan gambaran terburuk tentang apa yang akan terjadi di Homs jika ia tak segera mengungsi. Janjinya kepada Hamza, rasa tanggung jawabnya, dan rasa bersalahnya bercampur menjadi satu. Apakah mengungsi dari perang adalah tindakan pengecut, atau justru satu-satunya cara untuk tetap hidup ketika tak ada lagi kebahagiaan yang tersisa di Homs?

Serangan militer terhadap warga pemberontak tak pernah berhenti. Gambaran nyata dan halusinasi menyatu dalam diri Salama—termasuk bayangan penembakan ibu-ibu hamil pada Oktober. Salama merasa hanya tinggal berdua bersama Layla, yang selalu menguatkannya. Hari-hari bersama Kenan menumbuhkan benih-benih cinta yang lama terpendam.

Saat peringatan revolusi di Alun-Alun Pembebasan di bawah yurisdiksi Tentara Pembebasan Suriah, Salama dan Kenan hadir di sana. Tiba-tiba bom jatuh berdentum di mana-mana, menghentikan sorak sorai, pidato, dan lagu-lagu kebebasan. Mereka bersembunyi di bawah reruntuhan rumah lama Salama. Di bawah sinar bulan, Kenan melamar Salama, dan ia menerimanya tanpa ragu—karena tak ada lagi waktu untuk menunda ketika esok hari tak pernah pasti.

Beberapa hari sebelum keberangkatan ke Jerman, setelah negosiasi sengit dengan Amm, Salama menikah dengan Kenan di rumah sakit, dinikahkan oleh Dokter Ziad secara sederhana, dengan jas laboratorium sebagai gaun pengantinnya. Karena rumah Kenan hancur akibat pengeboman, Salama meminta mereka tinggal di rumah Layla.

Di sinilah plot twist terbesar terungkap: Kenan tidak pernah melihat Layla selama ini. Ternyata Layla telah meninggal dalam pengeboman bulan Oktober, dan Salama menciptakan delusinya sendiri—sebuah realitas yang terasa begitu nyata seolah Layla selalu ada bersamanya. Kecintaan penulis pada karya-karya Hayao Miyazaki terasa dalam atmosfer cerita yang sesekali mengingatkan pada When Marnie Was There, tetapi tetap diolah secara kreatif sehingga memiliki keunikan dan orisinalitas tersendiri.

Tiga hari sebelum keberangkatan ke Eropa, rumah sakit tempat Salama bekerja dibom habis oleh militer. Sebelumnya, lima tentara militer bahkan menembaki pasien, dan Salama hampir menjadi korban. Bayi-bayi di inkubator tak sempat diselamatkan.

Hari keberangkatan tiba. Mereka harus melewati berbagai pos penjagaan militer dengan pengawasan ketat dan bayaran besar yang hampir merenggut nyawa. Kapal yang dijanjikan bukan kapal pesiar, melainkan kapal memancing kecil yang dipenuhi penumpang, hendak melintasi Laut Mediterania. Di tengah perjalanan, kapal karam akibat cuaca buruk. Berjam-jam mereka bertahan di air, hingga akhirnya selamat dan memulai hidup baru di Jerman bersama paman dan bibi Kenan, lalu menikah kembali secara sah.

Unsur dan Kekuatan Cerita

Penulis kerap memasukkan unsur Studio Ghibli sebagai simbol imajinasi dan warna biru sebagai representasi harapan dan keindahan di tengah perang. Pohon lemon menjadi simbol Suriah—negeri yang dipenuhi pepohonan lemon berusia ratusan tahun, tumbuh memberi nutrisi bagi “revolusi lemon” di tengah peperangan. Novel ini juga kaya akan detail aroma, bau, serta makanan khas Suriah yang memperkuat suasana.

Kekurangan

Alur di bagian awal sangat lambat karena hanya menggambarkan rutinitas bangun, bekerja, malam, lalu tidur kembali. Bagian menegangkan baru terasa jauh di pertengahan cerita. Selain itu, ilustrasi bukunya kurang merepresentasikan keindahan dan kedalaman isi cerita, sehingga sedikit mengurangi kesan anggun yang seharusnya kuat secara visual. Secara tema, novel ini hampir mengingatkan pada Salt to the Sea—bahwa perang tidak pernah membawa kedamaian, terutama bagi para pengungsi.

Perlu diingat bahwa As Long as the Lemon Trees Grow adalah sebuah novel, bukan buku sejarah, politik, atau kajian ilmiah. Kisah ini dituturkan dari sudut pandang Zoulfa Katouh, seorang penulis berdarah Suriah yang kini tinggal di Swiss, sehingga subjektivitas pengarang sangat memengaruhi cara peristiwa dan situasi politik digambarkan, termasuk potret kebobrokan rezim Bashar al-Assad. Benar atau tidaknya setiap detail faktual dalam novel ini bukanlah fokus utamanya, karena karya ini bergerak dalam ranah fiksi yang bertujuan menghadirkan pengalaman emosional dan kemanusiaan. Terlepas dari sudut pandang tersebut, penderitaan rakyat Suriah baik yang bertahan di tanah air maupun yang terpaksa mengungsi adalah realitas yang tak dapat disangkal, dan novel ini berhasil menyentuh sisi kemanusiaan itu dengan sangat kuat.

Identitas Buku

Judul: As Long as the Lemon Trees Grow
Penulis: Zoulfa Katouh
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahaini dan Esti Ayu Budihabsari
Penerbit: PT Mizan Pustaka
Cetakan: Pertama, September 2025
ISBN: 978-602-441-390-3