Lintang Siltya Utami | Michael Mamona
Suasana di stasiun KRL. (Suara.com)
Michael Mamona

Setiap hari kerja, jam setengah tujuh pagi, saya sudah berdiri di peron Stasiun Depok Baru sambil menatap papan jadwal kereta dengan tatapan orang yang sudah pasrah sama nasib. Tujuan saya SCBD. Jaraknya di peta terlihat dekat, tapi kalau dihitung pakai satuan "berapa banyak ketiak orang lain yang bakal nempel di badan saya," itu jauh banget.

KRL datang. Pintunya terbuka, dan yang kelihatan bukan gerbong kereta, tapi lebih mirip kaleng sarden yang lagi dikocok. Saya coba masuk dengan teknik yang saya sebut "sisip badan miring 45 derajat", teknik warisan turun-temurun dari senior-senior komuter yang sudah babak belur duluan. Begitu berhasil masuk, saya baru sadar: ini bukan naik kereta, ini proses jadi pepes. Dibungkus rapat, dikepung dari segala sisi, dan yang bikin makin lengkap, ada aroma-aroma "bumbu" dari berbagai penjuru gerbong yang saya nggak akan sebutin detailnya karena saya masih punya rasa hormat sama indra penciuman pembaca.

Posisi berdiri saya biasanya sudah nggak bisa milih lagi mau menghadap ke mana. Kadang menghadap AC yang anginnya nggak nyampe-nyampe, kadang menghadap punggung bapak-bapak yang tasnya nyodok perut, kadang malah menghadap pintu kaca dan cuma bisa liat pantulan muka sendiri yang kelihatan sudah pasrah dari tadi pagi. Kalau kereta ngerem mendadak, seluruh isi gerbong ikut oleng bareng-bareng kayak lagi ngedance massal yang nggak ada yang mau ikutan tapi kena paksa geser badan.

Belum lagi soal turun. Turun di Sudirman jam kerja itu ibarat perjuangan hidup-mati kecil-kecilan. Harus teriak "permisi, turun, permisi" sambil badan didorong maju dikit-dikit, dan kalau telat ngomong, ya sudah, kebawa lagi sampai stasiun berikutnya, terus harus muter otak nyusun jadwal ulang biar nggak telat masuk kantor.

Tapi ya, jujur saja—walaupun tiap pagi rasanya kayak jadi korban pemerasan ruang pribadi, saya tetep milih KRL. Kenapa?

Pertama, soal ongkos. Naik KRL dari Depok ke Sudirman itu jauh lebih murah dibanding naik mobil sendiri atau ojek online tiap hari. Kalau dihitung sebulan, selisihnya bisa buat jajan kopi atau nabung buat hal lain yang lebih penting daripada bensin atau parkir.

Kedua, soal lingkungan. Saya tahu, satu KRL yang penuh sesak itu sebenarnya lagi ngangkut ratusan orang yang kalau masing-masing bawa motor atau mobil sendiri-sendiri, jalanan Jakarta bakal makin macet dan udaranya makin nggak enak dihirup. Jadi walaupun kadang saya ngedumel dalam hati, saya juga sadar kalau saya lagi ikut kontribusi kecil biar kota ini nggak makin sesak sama polusi.

Ketiga, dan ini yang paling saya syukuri: saya nggak perlu kepanasan atau kehujanan di jalan. Bayangin kalau saya harus naik motor tiap hari dari Depok ke SCBD, kena macet, kena panas terik siang bolong, atau kena hujan deres sore-sore. Di KRL, walaupun sempit dan kadang panas juga karena AC-nya kalah sama jumlah manusia, minimal saya nggak basah kuyup atau menghitam karena kepanasan pas sampe kantor.

Pandangan saya soal ini makin mantap setelah beberapa waktu lalu saya iseng ikut acara Lintas yang diadakan Yoursay bareng Kemenhub. Awalnya saya kira bakal acara seremonial biasa, duduk dengerin sambutan, terus pulang bawa goodie bag. Tapi ternyata obrolannya lumayan buka mata. Ada sesi yang ngebahas gimana beban jalan raya di Jabodetabek itu sebenarnya bisa jauh lebih ringan kalau lebih banyak orang mau pindah ke transportasi massal, dan gimana tiap satu KRL yang penuh sesak itu—yang biasanya saya kutuk dalam hati—sebenarnya lagi "menyerap" ribuan motor dan mobil yang harusnya numpuk di jalan tol Jagorawi tiap pagi. Saya jadi mikir ulang: selama ini saya ngerasa jadi korban keramaian, padahal saya juga bagian dari solusi kemacetan itu sendiri, cuma belum pernah mikir sejauh itu.

Yang paling nempel di kepala saya dari acara itu adalah omongan salah satu pembicara, kurang lebih intinya: transportasi umum itu bukan cuma soal ngirit ongkos pribadi, tapi soal ngirit "ongkos" kota secara keseluruhan—waktu yang terbuang di jalan, polusi yang numpuk, sampai stres kolektif jutaan orang yang tiap hari macet-macetan. Sejak hari itu, tiap kali saya kejepit di gerbong 3 dan mulai ngedumel dalam hati, saya coba ingetin diri sendiri kalau ketidaknyamanan kecil ini sebenarnya lagi nyumbang sesuatu yang lebih besar buat kota tempat saya cari makan. Nggak bikin gerbongnya jadi lebih lega sih, tapi minimal bikin saya lebih ikhlas jadi pepes tiap pagi.

Jadi ya, tiap pagi saya tetap jalanin ritual jadi pepes di gerbong 3, berdiri miring, napas se-irit mungkin, sambil dalam hati bilang, "ya sudah, ini emang bukan pengalaman yang enak, tapi ini masih pilihan paling masuk akal." Toh, sesampainya di kantor, saya masih bisa senyum—walaupun kemejanya sudah agak kusut kena gencetan orang sebelah.

Baca Juga