Ref:rain, lagu karya penyanyi Jepang, Aimer, yang dirilis sebagai ending theme anime Koi wa Ameagari no You ni pada 2018, adalah salah satu karya musik yang tidak hanya didengar, tetapi dirasakan. Lagu ini hadir bukan untuk menghibur dengan cara yang meriah, melainkan untuk menemani—pelan, tenang, dan menghujam jauh ke dalam perasaan pendengarnya.
Saya pertama kali mendengar lagu ini di awal tahun 2018, dan sejak saat itu, Ref:rain tidak pernah benar-benar pergi dari kepala saya. Bukan karena lagu ini catchy atau memiliki hook yang mudah diingat. Justru sebaliknya—Ref:rain bekerja dengan cara yang lebih halus: ia menyusup masuk, lalu diam-diam tinggal.
Lalu, apa yang membuat Ref:rain begitu istimewa? Mengapa lagu ini masih terasa relevan dan kuat bahkan delapan tahun setelah perilisannya? Berikut adalah beberapa hal yang menurut saya menjadikan Ref:rain sebagai salah satu karya musik Jepang kontemporer terbaik yang pernah ada.
Suara Aimer adalah Suara yang Lahir dari Kehilangan
Tidak ada yang kebetulan dari suara Aimer. Pada usia 15 tahun, ia kehilangan suaranya karena terlalu sering memaksakan pita suara. Setelah menjalani terapi keheningan total selama berbulan-bulan, suaranya kembali—namun berubah menjadi serak, dalam, dan penuh dengan nuansa yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata biasa.
Dalam Ref:rain, kualitas suara itu menjadi senjata utama. Setiap frasa yang ia nyanyikan terdengar seperti ucapan seseorang yang pernah kehilangan sesuatu yang berharga dan sudah belajar untuk hidup berdampingan dengan kehilangan itu. Ia tidak bernyanyi untuk penonton. Ia seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri—dan kita hanya kebetulan mendengarnya.
Komposisi yang Sederhana namun Berlapis
Ref:rain dikomposisikan oleh Masahiro Tobinai dan diaransemen bersama Kenji Tamai. Pada pendengaran pertama, lagu ini terdengar sederhana: gitar akustik yang menetes, perkusi lembut, dan vokal. Namun, semakin sering didengarkan, semakin banyak lapisan yang ditemukan.
Dinamika emosi dalam lagu ini dikelola dengan sangat cermat. Bagian verse-nya tenang dan introspektif. Tapi ketika tiba di baris "What a good thing we lose? What a bad thing we knew"—sebuah campuran bahasa Jepang dan Inggris yang terasa seperti pikiran yang tiba-tiba menyeruak—ada sesuatu dalam dada yang langsung terasa sesak. Ini bukan ledakan emosi yang dramatis. Ini lebih seperti menahan tangis di tempat umum.
Lirik yang Berani Tidak Menjawab
Lirik Ref:rain ditulis oleh Aimer sendiri dengan nama pena aimerrhythm. Dan lirik ini adalah salah satu yang paling jujur yang pernah saya temui dalam musik populer Jepang.
Salah satu baris yang paling membekas adalah:
furerarezu ni iretara waraeta ka na? (Jika aku tidak pernah menyentuhnya, bisakah aku tetap tersenyum sekarang?)
Pertanyaan itu tidak dijawab. Ia dibiarkan menggantung—dan justru karena itulah ia terasa begitu nyata. Lagu ini tidak menawarkan resolusi atau penghiburan palsu. Ia hanya mengakui bahwa beberapa perasaan memang tidak bisa diselesaikan, dan itu pun sudah cukup untuk dirasakan bersama.
Konteks Anime yang Memperkuat Makna
Anime Koi wa Ameagari no You ni bercerita tentang seorang gadis SMA yang jatuh cinta kepada atasannya yang berusia 45 tahun—seorang pria biasa yang bekerja sebagai manager di restoran keluarga. Ceritanya jauh dari sensasional. Ia lebih berbicara tentang impian yang terhenti, kesepian yang tidak terucap, dan perasaan yang tidak punya nama yang tepat.
Ref:rain adalah penutup yang sempurna untuk cerita semacam itu. Setiap episode berakhir, dan lagu ini muncul—bukan untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi, melainkan untuk menemani penonton dalam diam. Fungsi musik sebagai emotional companion, bukan sekadar pengiring visual, benar-benar tercapai di sini.
Lagu Ini Melampaui Konteks Aslinya
Salah satu tanda bahwa sebuah karya musik benar-benar hebat adalah ketika ia bisa dilepas dari konteks asalnya dan tetap bermakna. Ref:rain adalah lagu tentang kerinduan—dan kerinduan itu bisa ditujukan kepada siapa saja, dalam situasi apa pun.
Ia bisa menjadi lagu tentang cinta yang tidak pernah terucap, tentang persahabatan yang perlahan menjauh, atau tentang versi diri kita yang dulu, yang sudah kita tinggalkan tanpa sempat berpamitan. Setiap pendengar bisa membawa makna mereka sendiri ke dalam lagu ini, dan lagu ini cukup lapang untuk menampung semua itu.
Ref:rain bukan lagu yang akan membuat Anda bersemangat atau merasa siap menghadapi dunia. Ia adalah lagu yang akan duduk di sebelah Anda di hari-hari hujan, di momen-momen sunyi, dan di saat-saat ketika kata-kata terasa tidak cukup.
Aimer tidak sedang mencoba membuat kita menangis. Ia hanya bercerita—dengan jujur, tanpa basa-basi. Dan justru karena itu, kita menangis sendiri.
Delapan tahun setelah perilisannya, Ref:rain masih terdengar seperti hari pertama: seperti hujan yang baru saja berhenti, dan udara dingin yang tertinggal setelahnya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Mulai 29 Maret, Hikaru Utada Bawakan Lagu Ending Anime Chibi Maruko-chan
-
Kumandangkan Lagu "Holiday" Green Day: Menolak Apatis di Konflik Timur Tengah
-
Sampai Jumpa: Lagu Baru Afgan yang Diam-Diam Menarik Nostalgia Refrain
-
3 Fakta Lagu Sampai Jumpa, Kembali Pertemukan Afgan dan Maudy Ayunda Seperti di Film Refrain
-
Review Film Refrain, Saat Cinta Pertama Menguji Batas Persahabatan
Ulasan
-
Keluarga juga Perlu Minta Maaf: Membaca Novel Kisah Untuk Alana
-
Menjelajah Dimensi Lain di Novel Tujuh Kelana
-
Petualangan Putri Bulan: Fantasi Epik dalam Daughter of the Moon Goddess
-
Moral Abu-Abu dan Kekerasan: Membaca Thriller Gelap dalam Sudut Mati
-
Menjadi Ayah di Dunia Modern itu Tidak Mudah! Membaca Novel Super Didi
Terkini
-
Puasa Beduk: Refleksi Dosa Lucu yang Saya Ingat Ketika Lihat Anak Kecil Mokel
-
Galaxy S26 Ultra vs iPhone 17 Pro Max, Mana Flagship Terbaik?
-
BTS Rilis Trailer Comeback Live ARIRANG, RM Tegaskan Kekuatan Tujuh Member
-
5 Rekomendasi Sheet Mask untuk Kulit Glowing & Plumpy
-
5 Outfit Non-Hijab ala Roh Jeong Eui untuk Bukber Kekinian