M. Reza Sulaiman | Ade Putra
ilustrasi THR. (Dokumen Pribadi)
Ade Putra

Setiap Lebaran tiba, ada satu momen yang selalu dinanti—terutama oleh anak-anak: menerima salam tempel alias THR. Amplop kecil berisi uang itu seolah menjadi simbol kebahagiaan yang sederhana, tetapi sangat berarti. Menariknya, tradisi ini hampir selalu identik dengan anak kecil. Sementara orang dewasa? Jarang sekali mendapatkannya, bahkan cenderung dianggap “tidak pantas” untuk menerima.

Pertanyaannya, kenapa?

Kalau dipikir-pikir, orang dewasa justru yang lebih butuh uang. Mereka punya tanggungan, kebutuhan hidup, bahkan beban ekonomi yang tidak ringan. Tetapi anehnya, dalam tradisi Lebaran, justru anak-anak yang menjadi “penerima utama” THR.

Menurut saya, ini bukan soal siapa yang lebih butuh, melainkan soal makna yang sudah terbentuk sejak lama.

THR dalam konteks Lebaran sebenarnya bukan sekadar “bagi-bagi uang”. Ia adalah simbol berbagi kebahagiaan. Dan dalam banyak budaya, anak-anak selalu ditempatkan sebagai pusat kebahagiaan itu sendiri. Mereka dianggap representasi kepolosan, harapan, dan masa depan.

Memberi THR kepada anak kecil bukan hanya soal memberi uang, tetapi juga memberi pengalaman—pengalaman merasa diperhatikan, dihargai, dan menjadi bagian dari momen besar keluarga.

Coba ingat masa kecil dulu. Momen menerima THR itu bukan cuma soal nominalnya, tetapi sensasinya: bertemu keluarga, bersalaman, lalu mendapat amplop. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan. Bahkan sering kali, uangnya belum tentu dipakai untuk hal penting, tetapi tetap terasa spesial.

Di sinilah letaknya perbedaannya dengan orang dewasa.

Orang dewasa tidak lagi melihat uang sebagai “kejutan menyenangkan”, melainkan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan. Ketika orang dewasa menerima uang, perasaannya tidak sama seperti anak-anak. Tidak ada lagi euforia kecil itu—yang ada justru perhitungan: cukup atau tidak.

Mungkin karena itulah, secara tidak sadar, tradisi ini “difokuskan” kepada anak-anak.

Selain itu, ada faktor norma sosial yang cukup kuat. Dalam banyak keluarga di Indonesia, ada semacam aturan tidak tertulis: yang sudah bekerja atau dianggap dewasa, posisinya adalah memberi, bukan menerima. Ini bukan aturan resmi, tetapi lebih ke ekspektasi sosial.

Begitu seseorang sudah punya penghasilan, statusnya berubah: dari penerima menjadi pemberi.

Masalahnya, realita tidak selalu seideal itu. Banyak orang dewasa yang sebenarnya masih berjuang secara finansial. Bahkan, ada yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan anak muda yang baru mulai hidup mandiri. Tetapi tetap saja, mereka “dituntut” untuk memberi.

Di titik ini, tradisi bisa terasa sedikit tidak adil.

Namun, di sisi lain, justru di situlah nilai sosialnya. Memberi, meskipun dalam kondisi terbatas, sering kali menjadi bentuk solidaritas. Lebaran bukan hanya soal siapa yang punya lebih, melainkan soal bagaimana semua orang ikut berbagi—dalam kapasitas masing-masing.

Saya pribadi melihat tradisi ini sebagai bentuk “peran sosial” yang bergantian. Dulu kita menerima, sekarang kita memberi. Dan nanti, generasi setelah kita akan berada di posisi yang sama. Siklus ini yang membuat tradisi tetap hidup.

Hal lain yang menarik adalah bagaimana THR juga menjadi cara untuk mengajarkan anak-anak tentang uang. Banyak orang tua yang menggunakan momen ini untuk mulai mengenalkan konsep menabung, mengatur keuangan, bahkan berbagi dengan orang lain. Jadi, THR bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga edukasi.

Sementara bagi orang dewasa, bentuk “THR” sebenarnya tidak benar-benar hilang. Hanya saja bentuknya berbeda. Misalnya, perusahaan memberikan Tunjangan Hari Raya kepada karyawan. Atau dalam lingkup keluarga, orang tua masih sering memberi kepada anak-anaknya yang sudah dewasa—meskipun tidak lagi disebut THR secara formal.

Artinya, konsep memberi itu tetap ada, hanya berubah bentuk.

Yang sering jadi masalah adalah ketika kita membandingkan secara literal. “Kenapa anak kecil dapat, saya tidak?” Padahal, konteksnya berbeda. Anak-anak menerima sebagai bagian dari tradisi kebahagiaan, sementara orang dewasa berada dalam posisi sosial yang berbeda.

Meski begitu, saya rasa tidak ada yang salah jika ke depan tradisi ini sedikit lebih fleksibel. Misalnya, memberi kepada anggota keluarga yang memang membutuhkan tanpa terlalu terikat pada usia. Karena pada akhirnya, esensi Lebaran adalah berbagi dan saling meringankan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan tanpa makna.

Di tengah perubahan zaman, mungkin sudah saatnya kita tidak hanya menjalankan tradisi, tetapi juga memahami dan menyesuaikannya. Karena tradisi yang baik bukan yang kaku, melainkan yang tetap relevan.

Jadi, kenapa THR lebih sering diberikan kepada anak kecil?

Bukan karena orang dewasa tidak butuh, melainkan karena anak-anak adalah simbol kebahagiaan yang ingin dijaga dalam momen Lebaran. Sementara orang dewasa, dengan segala realitanya, justru diharapkan menjadi bagian dari yang menjaga kebahagiaan itu.

Dan mungkin, di situlah letak keindahannya.