M. Reza Sulaiman | Ade Putra
ilustrasi anime Season 2 Frieren: Beyond Journey's End (pixabay.com/WhiteHatDesigner)
Ade Putra

Kalau kamu aktif di Twitter, Reddit, atau komunitas anime mana pun dalam beberapa minggu terakhir, pasti sudah melihatnya—entah itu tangkapan layar yang blur karena air mata, thread panjang soal "filosofi waktu dalam anime", atau sekadar orang-orang yang menulis "Frieren episode 8 adalah mahakarya." Dan tidak ada yang berlebihan.

Frieren: Beyond Journey's End Season 2 sedang berada di detik-detik terakhirnya. Episode finale dijadwalkan tayang pada 27 Maret 2026—ya, besok—dan dunia anime sedang menahan napas.

Sebentar, Apa Itu Frieren?

Buat yang belum tahu, Frieren: Beyond Journey's End (judul Jepang: Ss no Frieren) adalah anime adaptasi manga karya Kanehito Yamada dan Tsukasa Abe. Anime ini pertama kali tayang pada 2023, diproduksi oleh studio Madhouse, dan langsung mencuri perhatian dunia karena konsepnya yang… tidak biasa.

Ceritanya bukan tentang pahlawan yang berjuang mengalahkan iblis. Itu sudah selesai sejak awal. Frieren—seorang penyihir elf yang bisa hidup ribuan tahun—baru menyadari, setelah semua petualangan itu berakhir, bahwa ia tidak benar-benar mengenal orang-orang yang menemaninya. Dan sekarang mereka sudah tua, atau sudah tiada.

Premisnya sederhana, tetapi dampak emosionalnya luar biasa.

Season 1 langsung menjadi fenomena. Di MyAnimeList, anime ini bertengger di posisi nomor satu sebagai anime dengan rating tertinggi sepanjang masa—sebuah prestasi yang bertahan hampir tiga tahun penuh. Lalu, awal tahun ini, sejarah terjadi lagi: Season 2 Frieren: Beyond Journey's End berhasil merebut posisi teratas dari Season 1-nya sendiri dengan skor 9.34 dari 10 di MyAnimeList—menjadikannya anime dengan rating tertinggi sepanjang masa di platform tersebut.

Yang artinya: satu-satunya anime yang bisa mengalahkan Frieren… adalah Frieren itu sendiri.

Season 2: Perjalanan yang Lebih Pendek, tetapi Lebih Padat

Season 2 resmi tayang perdana pada 16 Januari 2026 sebagai bagian dari jadwal anime musim dingin, dan dikonfirmasi hanya berjumlah 10 episode—jauh lebih singkat dibandingkan Season 1 yang berlangsung dua cour.

Banyak fans yang awalnya kecewa dengan jumlah episode yang sedikit ini. Tetapi ternyata, Madhouse memanfaatkan setiap menit dengan sangat baik.

Season ini dibagi ke dalam dua bagian besar. Separuh awal berfokus pada perjalanan santai Frieren bersama Fern dan Stark—petualangan episodik yang terasa seperti liburan di desa asing. Ada momen Stark dan Fern kencan canggung, ada perjumpaan dengan kurcaci yang sudah 200 tahun mencari minuman favorit almarhum temannya, dan banyak flashback tentang Himmel sang pahlawan.

Lalu datanglah bagian yang membuat semua orang tidak bisa tidur: Arc Divine Revolte.

Episode 8—Yang Terbaik di 2026 Sejauh Ini

Episode 8, berjudul "A Magnificent End," langsung dijuluki salah satu episode terbaik yang pernah ada di anime ini. Arc Divine Revolte yang singkat namun padat menghadirkan pertempuran dengan dua pertarungan simultan—Fern dan Methode melawan dua iblis bawahan, sementara Stark dan Genau berhadapan langsung dengan Revolte sendiri.

Yang membuat episode ini bukan sekadar "pertarungan keren" adalah lapisan emosinya. Di balik pertarungan fisik yang intens, ada pertempuran ideologis—antara filosofi Frieren yang percaya pada kebaikan manusia, melawan keyakinan Serie bahwa kebaikan hanya membawa kematian. Genau, seorang penyihir kelas satu yang telah lama menekan sisi kemanusiaannya setelah kehilangan rekan-rekannya, akhirnya harus memilih antara dua cara pandang itu di saat paling genting.

Dari sudut pandang animasi murni, beberapa kritikus yang sudah menonton ratusan anime menyebut episode ini sebagai salah satu contoh paling menakjubkan dari medium anime yang pernah mereka saksikan. Nama-nama besar seperti Kouki Fujimoto (Chainsaw Man) dan Yutaka Nakamura (My Hero Academia) ikut terlibat di balik layar, dan hasilnya sangat terasa.

Episode 9—Sebelum Perpisahan

Setelah kejayaan arc pertempuran, Season 2 kembali ke "mode Frieren" yang sesungguhnya: tenang, reflektif, dan menyayat.

Episode 9 berjudul "Himmel's Memoirs"—sebuah penghormatan atas semangat momen-momen kecil yang tidak tercatat dalam buku sejarah mana pun. Di sini kita kembali diajak melihat kenapa Frieren selalu menerima bayaran kecil dari orang-orang yang ia bantu, dan semuanya bermuara pada satu nama: Himmel.

Himmel, sang pahlawan yang sudah lama tiada, ternyata punya alasan filosofis yang dalam di balik kebiasaan itu. Ia tidak ingin orang-orang yang ditolong merasa berutang budi seumur hidup. Bahkan setelah menyelamatkan seseorang, ia masih memikirkan perasaan orang itu setelahnya.

Dan itulah yang membuat Frieren akhirnya bisa belajar mencintai dunia—bukan dari pertempuran epik, melainkan dari gestur-gestur kecil seorang manusia biasa yang sudah tiada.

Besok, Semuanya Berakhir

Episode finale Season 2 akan tayang pada 27 Maret 2026, dan Crunchyroll akan menyiarkannya pada pukul 7.00 pagi waktu Pasifik untuk penonton di berbagai belahan dunia.

Tidak ada yang tahu persis bagaimana musim ini akan ditutup. Preview episode finale berjudul "Himmel's Memoirs" menunjukkan dua skenario berbeda, mengisyaratkan format episodik seperti banyak episode sebelumnya di musim ini. Yang pasti, fans manga sudah sangat berhati-hati dalam menjaga spoiler—dan itu biasanya pertanda bahwa apa yang akan terjadi memang layak untuk ditunggu tanpa tahu apa-apa terlebih dahulu.

Soal Season 3, belum ada pengumuman resmi. Tetapi mengingat performa Frieren—baik dari sisi kritik maupun metrik streaming internasional—akan sangat mengejutkan jika Madhouse tidak melanjutkan seri ini.

Mengapa Frieren Beda dari Anime Lain?

Di tengah lautan anime 2026 yang didominasi pertarungan brutal, sistem leveling, dan protagonis yang tiba-tiba mendapat kekuatan super, Frieren hadir dengan cara yang berbeda total.

Frieren tidak memperlakukan waktu sebagai sumber daya yang dihabiskan demi power-up dan plot besar. Waktu adalah substansi emosional dari cerita itu sendiri. Setiap momen kecil—memoles patung, menyelesaikan utang lama, mendengarkan Fern mengomel—terasa berat karena Frieren tahu ia akan mengingatnya jauh setelah semua orang lain sudah pergi.

Itu bukan gimmick. Itu adalah inti dari seluruh cerita.

Dan mungkin di sinilah letak kekuatan sesungguhnya dari Frieren: Beyond Journey's End—ia mengingatkan kita bahwa hal yang paling berharga bukan pertarungan paling epik atau musuh paling kuat, melainkan momen-momen kecil bersama orang-orang yang kita cintai, yang sering kali baru kita sadari nilainya setelah semuanya berlalu.

Jadi, kalau besok kamu menangis menonton finale-nya, jangan khawatir. Kamu tidak sendirian.