Novel 86 karya Okky Madasari merupakan sebuah novel yang mengangkat isu yang berkembang di sebuah institusi peradilan di Indonesia. Okky Madasari sendiri, dari beberapa novelnya, memang fokus menyajikan sebuah karya yang berisi kritik sosial.
Dalam novel ini, Okky Madasari menyoroti fenomena korupsi di lingkungan pengadilan yang berada di kawasan Jakarta melalui perjalanan hidup Arimbi, seorang juru ketik yang perlahan terjerumus dari keluarga desa yang sederhana menjadi bagian dari birokrasi yang bobrok tersebut.
Arimbi terlahir dari keluarga seorang petani yang tinggal di sebuah desa. Kemudian, nasib baik menghampiri dirinya sehingga diterima bekerja sebagai pegawai negeri.
Di Desanya, menjadi seorang pegawai negeri di ibu kota dianggap sebagai kesuksesan tertinggi yang mematahkan nasib kemiskinan keluarganya.
Namun, gaji bulanan yang pas-pasan berbenturan keras dengan realitas biaya hidup di Jakarta. Hal inilah yang menyeret kehidupan Arimbi perlahan menormalisasi tindakan ilegal dalam sistem kerjanya di peradilan.
Berawal dari pemberian sebuah pendingin ruangan (AC) dari seorang klien bernama Susanah sebagai upah memenankan kasus persengketaan tanah, Arimbi mulai ketagihan dengan sistem kerja yang selama ini tidak ia ketahui.
Sejak saat itu, Arimbi mulai aktif meminta bagian komisi dari pengacara dan para penjari keadilan dengan kode sandi “86”, sebuah sandi polisi yang bergeser makna menjadi kesepakatan jahat “sama-sama tahu, sama-sama untung”.
Kejahatannya meluas hingga melibatkan manipulasi administrasi untuk menolong anak seorang lurah di kampungnya serta persekongkolannya dengan atasannya, yaitu Bu Danti.
Kritik sastra yang lugas dalam novel ini menjadi kelebihannya. Namun, pengembangan karakter Arimbi dalam novel ini terasa masih kurang, khususnya ketika ia dihadapkan pada tindakan gratifikasi yang menimpanya.
Dalam novel digambarkan tidak adanya dilema moral ketika Arimbi mulai menyadari bahwa tindakan yang dilakukannya adalah hal yang salah dan menjerumuskan.
Selain itu, novel ini akan sangat kuat apabila unsur fakta hukum dan unsur fiksi dapat menyatu menjadi sebuah cerita yang utuh.
Misalnya, dengan menambahkan pasal-pasal terkait undang-undang sebagai fakta hukum yang mendasari kritik sosial sebagai isu utama yang diangkat dalam novel ini, akan memperkuat posisinya sebagai sastra yang mengangkat kritik sosial dalam bidang hukum.
Selain itu, novel ini juga banyak menyinggung isu-isu sosial lainnya, seperti peredaran narkoba, hubungan sesama jenis dalam jeruji besi, hingga ketimpangan fasilitas sel penjara yang sangat jelas antara koruptor kaya dengan pegawai rendahan seperti Arimbi.
Selain itu, konflik dalam keluarga Arimbi juga turut menjadi poin penting dalam novel ini. Isu patriarki dalam novel ini dipatahkan oleh kondisi Arimbi yang tidak pernah mengeluh atas pekerjaan suaminya, Ananta.
Arimbi tidak menolak ketika ia harus bekerja lebih keras daripada suaminya. Ia memetahkan stigma bahwa perempuan setelah menikah hanya berurusan dengan dapur, kasur, dan sumur saja.
Arimbi adalah gambaran wanita mandiri yang tidak segan untuk setara dengan suaminya. Begitu pun Ananta, sebagai suami, tidak pernah merasa direndahkan ketika penghasilan Arimbi lebih besar daripada dirinya.
Sayangnya, kehidupan mereka berada dalam jalur yang salah. Uang menjadi senjata makan tuan. Tanpa mereka sadari, kebahagiaan karena uang tidak akan pernah bertahan lama.
Mereka tidak memikirkan risiko jangka panjang dari perilaku yang mereka perbuat, sehingga pada akhirnya menimbulkan penyesalan yang mendalam.
Jika kamu tertarik dengan karya sastra yang membahas isu realitas sosial dengan penyajian yang lugas dan minim metafora, novel 86 karya Okky Madasari ini sangat cocok untuk kamu baca.
Baca Juga
-
Penebusan Dosa Masa Lalu dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini
-
Dari Novel ke Film: The Housemaid Sebuah Thriller Psikologis yang Mencekam
-
Obsesi Kekuasaan dan Keserakahan Manusia atas Alam dalam Novel Aroma Karsa
-
Advokasi Gender dalam Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam
-
Ulasan Novel Lelaki Harimau: Kekerasan Rumah Tangga hingga Trauma Generasi
Artikel Terkait
-
Surat 'Hadiah Indah' Sony Sonjaya ke Nanik Jadi Teka-teki, Begini Kata Pengacara
-
Anak Sony Sonjaya Dikabarkan Punya Dapur MBG, Kuasa Hukum: Masalahnya Apa?
-
Siap Bernyanyi! Sony Sanjaya Ajukan JC, Seret 20 Nama Lebih di Kasus Korupsi MBG
-
KPK Jadwalkan Pemeriksaan 2 Tersangka Swasta Kasus Kuota Haji Hari Ini
-
Sastra Sebagai Perlawanan: Membaca Ulang Luka Bangsa dalam Iblis Tidak Pernah Mati
Ulasan
-
Ulasan Film Miss You, Love You: Terkadang Ada Luka yang Nggak Bisa Sembuh
-
Review Film Monster Pabrik Rambut: Horor yang Dipadukan Kritik Sosial
-
Review The Ugly Stepsister: Reinterpretasi Gelap Cinderella yang Visceral!
-
Review Omniscient Reader: Cerita Apocalypse dengan Elemen RPG yang Unik!
-
Sastra Sebagai Perlawanan: Membaca Ulang Luka Bangsa dalam Iblis Tidak Pernah Mati
Terkini
-
Creator Merchant Makin Ramai, Event Jejepangan Ikut Dorong Industri Kreatif
-
Membangun Indonesia dari Ruang Sidang: Kita Tidak Butuh Banyak Program Baru
-
Tak Perlu Bingung, Ini Cara Nonton Piala Dunia 2026 secara Resmi dan Legal!
-
Orang Utan Jennifer dan Hayato Dipertemukan, Simbol Persahabatan Indonesia-Jepang dalam Konservasi
-
Dimulai dari Dapur, Less Waste Jadi Jalan Keluar Supaya Hemat Pengeluaran?