Terkadang, pesan-pesan moral yang paling kuat tidak datang dari ceramah yang panjang lebar, melainkan dari cerita-cerita pendek yang menyentuh relung hati. Inilah yang saya rasakan saat menuntaskan buku Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis karya Rusdi Mathari.
Buku ini merangkum dua puluh tiga cerita singkat yang, meskipun terasa begitu cepat usai, meninggalkan perenungan yang sangat panjang. Mengambil inspirasi dari kisah para nabi, sahabat, hingga nukilan ayat suci Al-Qur'an, Cak Rusdi menyajikannya dengan gaya bahasa yang membumi, namun penuh gizi bagi jiwa.
Retaknya Kepercayaan dan Sifat Sombong Manusia
Cerita pembuka yang berjudul Fitnah menjadi pengingat keras bagi kita semua. Melalui metafora bantal yang dibedah isinya atas perintah Abu Nawas, kita diajarkan tentang konsekuensi kata-kata. Kapuk yang sudah berhamburan dari bantal mungkin bisa dikumpulkan kembali, tetapi bentuknya tidak akan pernah sempurna seperti sediakala. Begitulah kepercayaan; sekali dirusak oleh fitnah, meskipun permintaan maaf telah diberikan, bekas lukanya tetap membekas.
Kesadaran akan kerendahan hati juga dipotret secara apik dalam kisah Nabi Nuh a.s. dan seekor kambing "jelek" berkaki lima. Dialog singkat antara sang nabi dan makhluk ciptaan Tuhan tersebut menjadi titik balik yang mengharukan. Ketika si kambing mengingatkan bahwa pencipta mereka adalah Zat yang sama, Nabi Nuh a.s. seketika tersungkur dalam tangis penyesalan. Kisah ini dengan tajam menyindir sifat manusia yang sering kali merasa paling berguna dan paling mulia di hadapan makhluk lainnya, seolah lupa bahwa semua yang ada di bumi adalah milik-Nya.
Toleransi: Napas Sejati Ajaran Nabi
Salah satu poin yang sangat relevan dan menarik dalam buku ini adalah bagaimana Rusdi Mathari memotret sisi inklusivitas Islam. Penulis membawa kita kembali ke masa Nabi Muhammad saw. yang dengan lapang dada mengizinkan tamu-tamu Nasrani melaksanakan ibadah mereka di salah satu sudut Masjid Nabawi. Begitu pula kisah perlindungan yang diberikan oleh Negus, raja Ethiopia yang beragama Nasrani, kepada umat Muslim saat dikejar kaum Quraisy.
Melalui narasi ini, penulis secara halus menyentil realitas sosial hari ini, seperti maraknya pelarangan pembangunan rumah ibadah agama lain oleh oknum tertentu. Cak Rusdi melihat fenomena ini sebagai sebuah ironi yang menyedihkan, mengingat tidak ada satu pun ayat atau keteladanan nabi yang mendukung tindakan intoleransi tersebut. Islam yang dibawa oleh nabi adalah Islam yang merangkul dan melindungi kemanusiaan.
Oase di Tengah Keringnya Zaman
Buku ini menyentuh berbagai tema krusial, mulai dari adab, kematian, isu rasisme, hingga refleksi tentang status minoritas. Membaca setiap lembarannya terasa seperti guyuran hujan yang menyegarkan hati dan jiwa yang mulai kering. Di zaman yang serba digital ini, saya pribadi merasa semakin terasing oleh teknologi. Ponsel pintar di tangan sering kali merampas waktu kita untuk merenung, sehingga asupan nilai-nilai kebajikan ke dalam hati pun kian berkurang.
Karya Rusdi Mathari ini menjadi media bagi saya untuk kembali menggali jati diri dan memperbaiki kualitas hubungan dengan sesama manusia serta Sang Pencipta. Ia bukan sekadar buku agama, melainkan cermin besar yang memaksa kita melihat betapa banyaknya debu kesombongan yang masih menempel di wajah kita.
Kesimpulan
Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis adalah bacaan yang sangat hangat dan mencerahkan. Buku ini saya rekomendasikan bagi siapa pun yang merindukan kedamaian dan ingin belajar kembali tentang arti kemanusiaan yang berlandaskan nilai-nilai spiritualitas yang positif. Dalam kesingkatannya, buku ini berhasil membuktikan bahwa kebenaran itu sederhana, namun melakukannya adalah perjalanan seumur hidup.
Identitas Buku:
- Judul: Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis
- Penulis: Rusdi Mathari
- Penyunting: Syafawi Ahmad Qadzafi
- Penerbit: Buku Mojok
- Terbit: Cetakan pertama, Januari 2019
- Tebal: viii + 115 halaman
- ISBN: 9786021318318
Baca Juga
-
Redefinisi Pengabdian: Dari Mahasiswa Kritis Menjadi Mahasiswa Konten
-
Koperasi Mendahului Aspal, Membedah Paradoks Desa Kelok Sunyi
-
Tragedi Seribu Perak: Saat Mahasiswa Menggugat Harga Kopi
-
Petaka Cinta Lintas Planet: Kala Dahlan Menjadi Mak Comblang
-
Review Toko Buku Gerbang Kota: Ketika Buku Menjadi Penyembuh Kesepian
Artikel Terkait
-
Novel Perempuan Bersampur Merah: Kisah Nyata Dukun Suwuk yang Difitnah
-
Teka-teki Rumah Aneh: Misteri Kamar Tanpa Jendela dan Pergelangan Tangan yang Hilang
-
Karya Kang Maman: Gugatan atas Stigma Janda dan Kekuatan Cinta Seorang Ibu
-
99 Pesan Buat Kamu yang Merasa Hidup Lagi Gak Lucu-Lucunya
-
Minimarket yang Merepotkan: Menemukan Kehangatan di Balik Etalase Kota
Ulasan
-
Review Film Smile: Drama Horor Psikologis dengan Kejutan Maut yang Nyata!
-
The Black Lizard: Duel Kecerdasan Detektif dan Ratu Kriminal yang Menegangkan
-
Ulasan Novel Lara Rasa, Menata Ulang Masa Depan Sebelum Usia Tiga Puluh
-
Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?: Teman Anak-Anak yang Kehilangan Ayah
-
Review Rebecca: Misteri Psikologis Klasik dengan Plot Twist Mengejutkan
Terkini
-
Derita Selisih Stock Opname Toko, saat Karyawan Jadi Samsak Omelan Bos
-
Ketika Institusi Publik Menjadi Arena Eksperimen Kebijakan
-
Harga Kebutuhan Naik, Gaji Tetap: Realitas Daya Beli yang Kian Menurun
-
Ulasan Novel Kado Terbaik: Potret Haru Perjuangan Anak Jalanan
-
The Da Vinci Code: Misteri, Simbol, dan Sejarah yang Memancing Rasa Penasaran