Sudah berapa ratus juta konten, lagu, dan doa yang kita persembahkan untuk perempuan? Kata "ibu", "istri", dan "perempuan" bertebaran di kitab suci hingga film yang kita tonton. Namun, pertanyaan fundamentalnya adalah: sudahkah kita benar-benar menghargai mereka? Melalui novel ...dan Janda Itu Ibuku, Maman Suherman, sang penggerak literasi dan notulis nasional, mengajak kita menjawabnya lewat tamparan realitas yang dibalut fiksi.
Sinopsis: Perjuangan di Balik Stigma Janda
Novel setebal 242 halaman ini memotret perjalanan hidup seorang perempuan yang dipanggil "Ibu" oleh tokoh utama. Setelah suaminya, seorang tentara, wafat dalam tugas negara, perempuan berusia 31 tahun itu harus memikul beban hidup bersama lima anak yang masih kecil. Di atas sajadah, ia merintih, meragukan kekuatannya sendiri untuk membopong masa depan anak-anaknya di tanah rantau yang jauh dari kampung halaman.
Ironisnya, saat perlindungan seorang suami hilang, kehormatan keluarga seolah turut terkubur. Ibu yang kini berstatus janda muda bukannya mendapat simpati, malah menjadi sasaran fitnah dan ejekan tetangga. Ia ditakuti oleh para istri dan dilecehkan secara verbal oleh pria tak beradab. Bahkan, dalam sebuah percakapan getir di sekolah, seorang guru dengan ringannya menyarankan sang anak untuk segera mencarikan jodoh bagi ibunya yang dianggap sedang "ranum-ranumnya".
Melawan Patriarki dan Stereotip Sosial
Buku ini menggambarkan dengan gamblang betapa kejamnya konstruksi sosial kita terhadap janda. Di bawah sistem patriarki yang kuat, janda sering dianggap sebagai "ancaman" atau objek yang layak dihina. Kang Maman dengan nada marah nan cerdas menggugat keadaan ini: Apakah harga diri sebuah keluarga harus lenyap hanya karena sosok ayah telah pergi?
Melalui perjalanan tokoh utama, anak lelaki tertua yang kemudian tumbuh menjadi sarjana, wartawan, hingga penulis hebat, Kang Maman membuktikan bahwa anak yang dibesarkan oleh seorang janda tetap bisa meraih puncak kesuksesan. Jasa perempuan (ibu) diabadikan dalam setiap keberhasilan anak-anaknya. Meskipun di akhir catatan, sang penulis tetap merasa gagal sebagai anak saat mengenang pesan ayahnya: "Jangan mewahkan makam bapakmu, mewahkan hati ibumu."
Madrasatul Ula di Tangan Ibu
Salah satu kutipan yang paling mendera dalam buku ini adalah: "Adakah rasa sakit melebihi sakit saat melahirkan? Ada. Saat dibentak oleh anak yang kulahirkan." Kalimat ini menjadi pengingat bahwa kekuatan cinta seorang ibu adalah sekolah pertama (madrasatul ula) bagi anak-anaknya. Jika ibu adalah fondasi peradaban, bukankah sudah seharusnya ia mendapatkan keistimewaan dalam perlindungan kesehatan raga, jiwa, dan pikirannya?
Buku ini adalah pesan terbuka bagi seluruh manusia untuk memahami bagaimana konstruksi sosial memengaruhi kehidupan perempuan. Meski mengandung nasihat yang universal, buku ini direkomendasikan untuk pembaca usia 17 tahun ke atas karena beberapa studi kasus yang membutuhkan kedewasaan berpikir.
Sebuah karya yang memaksa kita bertanya pada cermin: Seperti apa kita telah memperlakukan perempuan di hidup kita?
Identitas Buku:
- Judul Buku: ...dan Janda Itu Ibuku
- Penulis: Kang Maman
- Penerbit: Gramedia
- Terbit: November 2024
- Jumlah Halaman: vi + 242 hlm.
- ISBN: 978-602-05-3119-9
Baca Juga
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
-
Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Reuni Kemerdekaan di Warkop: Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
Artikel Terkait
-
Puji Kesetiaan Sheila Dara, Ibu Vidi Aldiano: Dia Menantu yang Sangat Baik
-
Detik-Detik Terakhir Vidi Aldiano: Menunggu Keluarga Lengkap Sebelum Berpulang
-
Ini Bacaan Niat Fidyah Ibu Menyusui dan Besaran yang Harus Dibayar, Perhatikan Batas Waktunya
-
99 Pesan Buat Kamu yang Merasa Hidup Lagi Gak Lucu-Lucunya
-
Punya Mama yang Jadi Tulang Punggung Keluarga, Bukan Hal yang Memalukan!
News
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
Terkini
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Kulit Remaja Bebas Jerawat Tanpa Kuras Dompet! 4 Acne Serum Rp30 Ribuan
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
-
Drama Korea Would You Marry Me?: Pernikahan Palsu demi Rumah Mewah
-
Buat Kaget! Hoshi SEVENTEEN Alami Cedera Lutut saat Ikuti Wajib Militer