Tahun 1998 bukan hanya tentang reformasi di ibu kota, melainkan juga tentang sejarah berdarah di ujung timur Pulau Jawa. Antara Februari hingga September 1998, Banyuwangi mencekam akibat serentetan pembunuhan terhadap individu yang dituduh sebagai dukun santet. Tragedi ini menghantam keras masyarakat suku Using dan menyisakan trauma mendalam. Latar belakang sosiopolitik yang kelam inilah yang diangkat oleh Intan Andaru dalam novelnya yang berjudul Perempuan Bersampur Merah.
Cerita berpusat pada sosok Ayu, yang di kemudian hari mengganti identitasnya menjadi Sari. Ia adalah saksi hidup dari kekejian yang menimpa ayahnya. Ayah Ayu sejatinya hanyalah seorang dukun suwuk—praktisi pengobatan tradisional yang fokus pada penyembuhan. Namun, fitnah yang berembus liar dan kemunculan sosok misterius yang dijuluki "ninja" membuat sang ayah menjadi salah satu korban keganasan massa. Dendam dan pencarian keadilan inilah yang kemudian menggerakkan napas cerita ini.
Misi Penyelidikan di Balik Gerak Tari
Sari tidak pernah melupakan wajah-wajah yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Dengan secarik kertas berisi nama-nama terduga, ia memulai penyelidikan bersama dua sahabatnya, Ahmad dan Rama. Namun, jalan keadilan tidak pernah sederhana. Rama terpaksa mundur akibat tekanan sang ayah yang melarangnya berteman dengan Sari. Hal ini menggambarkan bagaimana stigma terhadap keluarga korban "dukun santet" masih melekat kuat dan menciptakan sekat sosial di tengah masyarakat.
Pencarian Sari membawanya pada Mak Rebyak, seorang maestro tari. Demi menggali informasi lebih dalam, Sari memutuskan untuk menjadi murid tari di sana. Di sinilah ia bertemu dengan Mbak Nena yang kemudian menyerahkan sebuah sampur berwarna merah kepadanya. Dunia tari Gandrung seolah menjadi pelarian sekaligus tumpuan harapan ekonomi bagi Sari yang sadar bahwa ibunya hanya sanggup membiayainya hingga jenjang SMA. Karier sebagai penari tampak menjadi satu-satunya jalan keluar bagi masa depannya yang suram.
Kekuatan Budaya dan Teka-Teki Sampur Merah
Salah satu nilai lebih dari novel ini adalah keberhasilan Intan Andaru dalam memotret kekayaan budaya Banyuwangi. Penulis menggunakan alur campuran yang menuntut kecermatan pembaca, karena setiap bab melompat ke tahun-tahun yang tidak berurutan. Meski demikian, teknik ini cukup efektif dalam membangun kepingan puzzle peristiwa pembunuhan tahun 1998.
Namun, sebagai pembaca, saya merasa ada beberapa aspek yang belum tuntas dieksplorasi, terutama mengenai esensi "Sampur Merah" itu sendiri. Mengingat benda ini dijadikan judul novel dan digambarkan secara artistik pada sampul, saya berekspektasi ada sisi magis atau filosofis yang lebih mendalam dari sampur tersebut.
Sayangnya, pengalaman Sari sebagai penari setelah menerima sampur yang dianggap memiliki "isi" (kekuatan gaib) hanya digambarkan secara singkat lewat keterlibatannya di berbagai acara seni, tanpa penjelasan detail mengenai dampaknya terhadap batin sang tokoh.
Dinamika Hubungan yang Realistis
Di tengah ketegangan misteri, penulis menyisipkan bumbu romansa antara Sari, Ahmad, dan Rama. Sari memendam perasaan pada Rama, meskipun ia tahu orang tua Rama memandangnya sebelah mata. Sementara itu, Ahmad menyimpan cinta yang tulus untuk Sari.
Bagi Anda yang mengharapkan drama percintaan yang meledak-ledak atau penuh konflik romantis yang kental, bagian ini mungkin terasa biasa saja. Romansa dalam buku ini hadir secara subtil dan tetap menjaga fokus utama pada misi pencarian kebenaran Sari.
Kesimpulan
Perempuan Bersampur Merah adalah karya yang penting bagi literasi fiksi sejarah kita. Intan Andaru, yang sebelumnya juga sukses mengangkat isu budaya dalam 33 Senja di Halmahera, kembali membuktikan kepiawaiannya dalam merajut isu sosial dengan kearifan lokal.
Meskipun ada beberapa bagian yang terasa menggantung, novel ini tetap menjadi bacaan yang sangat layak untuk memahami sisi kemanusiaan di balik tragedi besar yang pernah terjadi di Nusantara. Jika Anda tertarik pada kisah yang memadukan misteri, budaya, dan sejarah, buku ini patut masuk ke dalam daftar bacaan Anda.
Identitas Buku:
- Judul: Perempuan Bersampur Merah
- Penulis: Intan Andaru
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: Januari 2019
- ISBN: 9786020621951
- Tebal Halaman: 216 halaman
- Dimensi: 13,5 x 20 cm
- Genre: Fiksi Sastra / Sejarah
Baca Juga
-
Bahagia Menurut Ki Ageng Suryomentaram, Plato hingga Al-Ghazali: Bedah Buku Filsafat Kebahagiaan
-
Resensi Buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga: Warisan Revolusi Oktober 1917.
-
Review Orang-Orang Bloomington: Menguliti Kesepian di Balik Wajah Manusia
-
Review Ibu Susu: Gugatan Rio Johan Atas Sejarah yang Menghapus Orang Biasa
-
Senyum Karyamin: Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Balik Ironi Desa
Artikel Terkait
-
Teka-teki Rumah Aneh: Misteri Kamar Tanpa Jendela dan Pergelangan Tangan yang Hilang
-
Karya Kang Maman: Gugatan atas Stigma Janda dan Kekuatan Cinta Seorang Ibu
-
Suluk Empat Belas Tarekat dan Transformasi Dakwah dalam Kyai Joksin
-
Meneladani Adab Berutang yang Kian Terlupa di Novel Kembara Rindu
-
Saat Pengkhianatan Dibalas dengan Rencana Cerdas: Ulasan Novel The Camarro
Ulasan
-
Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu: Kemiskinan Tak Selamanya Mematikan Harapan
-
Sebuah Mahakarya Dokumenter: A Gorilla Story Jadi Warisan David Attenborough di Rimba Rwanda
-
Hindia dan Dipha Barus Bicara Soal Generational Trauma di Lagu Baru "Nafas"
-
Memaknai Simbol Lagu 'Cicak-Cicak di Dinding' dalam Film Ghost in the Cell
-
Wolf Girl and Black Prince: Saat Si Tsundere Kyouya Sata Menjinakkan Si Pembohong Erika
Terkini
-
Tugas Online, Biaya Offline: Realita Sekolah Gratis di Era Digital
-
Hadapi Rasa Takut, Le Sserafim Rayakan Keberanian Diri di Lagu Celebration
-
Mitos Sekolah Negeri Gratis: Menakar Hidden Cost di Balik Label Favorit
-
Wajah Kusam Polusi? Ini 5 Sheet Mask Charcoal untuk Detoks Kulit!
-
Dibintangi Andrew Garfield, Film The Uprising Siap Tayang September 2026