M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Refleksi kritis yang mengajak maba memprioritaskan akademik sebagai hukum "wajib" di atas organisasi yang bersifat "sunnah" demi masa depan. (Gemini Ai)
Taufiq Hidayat

Bulan-bulan ini merupakan fase krusial di mana pintu gerbang perguruan tinggi mulai terbuka lebar untuk menyambut gelombang mahasiswa baru. Di persimpangan jalan yang riuh ini, ribuan remaja tengah didera kecemasan; sebagian merasa kebingungan dalam menentukan program studi, dan tidak sedikit pula yang masih meratapi kegagalan karena tidak berhasil menembus kampus yang mereka impikan. Namun, ada sebuah tantangan yang jauh lebih besar dan terorganisasi secara sistematis yang telah menanti mereka begitu menapakkan kaki di dunia perkuliahan: kejutan budaya (culture shock) akibat perbedaan drastis di lingkungan kampus.

Sangat berbeda dari dunia sekolah yang serbaterstruktur dan serbadiatur, universitas adalah miniatur atau cerminan dari masyarakat yang nyata. Di sinilah mahasiswa baru (maba) akan langsung berhadapan dengan berbagai pengaruh kelompok, terutama yang disuarakan oleh para senior atau yang akrab disapa "Kakanda" dalam organisasi. Narasi klasik yang mereka sebutkan dari tahun ke tahun hampir selalu seragam: "Jika Dinda bergabung dengan organisasi ini, Dinda akan jadi lebih pandai berbicara, memiliki relasi yang luas, dan masa depan pascakuliah dijamin sukses." Janji-janji yang terdengar manis ini tentu sangat memikat bagi para maba yang masih memiliki semangat menggebu-gebu. Namun, benarkah organisasi adalah satu-satunya jalan tol menuju kesuksesan di masa depan?

Jebakan Survivor Bias dan Fatamorgana "Manusia Super"

Tidak dapat dipungkiri bahwa organisasi di dalam kampus maupun komunitas mahasiswa merupakan wadah yang impresif untuk mengasah kemahiran berbicara di depan publik (public speaking) dan memperluas jaringan sosial. Kendati demikian, adalah sebuah kekeliruan besar jika kita memandang bahwa berorganisasi merupakan satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup setelah lulus kuliah. Di zaman digital yang serbaterbuka seperti sekarang, proses peningkatan kapasitas diri (up-skilling) dan membangun relasi dapat ditempuh melalui berbagai jalur nonformal, seperti mengikuti program magang, bergabung dengan komunitas literasi, melakukan kegiatan sukarela (volunteering), atau bahkan dengan menjadi pembuat konten (content creator).

Sering kali, mahasiswa baru terjerat dalam bias pemikiran yang terbatas (survivor bias). Mereka hanya memperhatikan satu atau dua orang senior "manusia super" yang berhasil meraih IPK cum laude sambil memimpin organisasi, lalu serta-merta menjadikannya sebagai patokan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Padahal, setiap individu lahir dengan kapasitas energi, latar belakang ekonomi, dan keadaan mental yang berbeda-beda.

Ketika mahasiswa baru yang belum memiliki manajemen waktu yang kokoh dipaksa untuk mengikuti ritme rapat organisasi hingga larut malam demi asas "solidaritas", ironi yang terjadi justru menyedihkan: performa akademis menurun, nilai jatuh, dan kelulusan pun menjadi tertunda. Di saat masa depan kuliahnya berantakan, para senior yang dulu mencekoki mereka dengan doktrin unggul tidak akan pernah datang untuk ikut bertanggung jawab.

Menakar Hukum "Wajib" dan "Sunnah" di Atas Sajadah Akademik

Untuk mengarahkan diri dalam keramaian dan tarik-menarik kepentingan di kampus, pelajar baru perlu berani menanamkan satu prinsip yang jelas dalam diri mereka: harus bisa memisahkan secara rigid antara perkara yang bersifat "Wajib" dan yang bersifat "Sunnah".

Kuliah dan pencapaian akademik termasuk dalam kategori Wajib. Ini merupakan komitmen awal ketika melangkah, sebagai bentuk tanggung jawab yang nyata kepada orang tua, serta sebagai dasar utama untuk menyongsong masa depan. Di sisi lain, terlibat dalam organisasi, kepanitiaan, atau forum diskusi adalah hal yang bersifat Sunnah, sifatnya menambah nilai, menghias, dan menyempurnakan, bukan untuk mengambil alih atau mengudeta perkara yang wajib.

Sungguh merupakan kesalahan fatal dalam berpikir jika kita mengejar amalan sunnah secara berlebihan, tetapi di sisi lain membiarkan kewajiban yang utama terbengkalai hingga hancur lebur. Terlibat dalam diskusi, kajian buku, gerakan mahasiswa, hingga perenungan filosofi memang dapat memberikan cakrawala wawasan yang luar biasa bagi isi kepala. Namun, tanpa adanya batasan diri yang tegas, semua itu dapat berbalik menjadi bumerang yang merusak masa depan akademik.

Keberanian Memasang Rem: Is It Worth It?

Ketakutan terbesar yang sering mengganggu pikiran mahasiswa baru adalah dicap sebagai "mahasiswa kupu-kupu" (kuliah-pulang kuliah-pulang) serta dijauhi dari pergaulan sosial jika menolak untuk bergabung dengan organisasi. Namun, memilih untuk menjadi berbeda sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan sosial atau dosa sekuler. Kampus adalah tempat yang sangat luas; setiap mahasiswa yang datang memiliki visi, tujuan, dan rencana masing-masing.

Oleh sebab itu, mahasiswa baru perlu memiliki keberanian untuk menetapkan batasan yang rigid bagi diri mereka sendiri. Setiap kali ada tawaran untuk melakukan kegiatan di luar jam kuliah setelah perkuliahan selesai, biasakan diri untuk melakukan penilaian secara kritis. Tanyakan pada diri sendiri dengan jujur: "Apakah kegiatan ini benar-benar bermanfaat untuk masa depan saya?"

Jika berkumpul berlama-lama hanya untuk membahas dinamika internal yang stagnan dalam organisasi hingga mengganggu waktu belajar untuk kuis keesokan harinya, maka secara rasional kita harus berani untuk mengatakan "tidak".

Kesimpulan

Pada akhirnya, universitas merupakan tantangan awal menuju kedewasaan yang sejati. Di kampus, selalu ada banyak orang pandai yang hebat dalam berorasi di depan umum dalam lingkaran organisasi. Namun, kampus justru sering kali mengalami krisis mahasiswa yang benar-benar memahami apa yang mereka inginkan, menyadari batas-batas kemampuan mereka, dan siap untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan yang mereka buat. Jangan sampai karena kita terjebak dan mabuk eksistensi dalam pertemanan yang mengasyikkan, kita melupakan arah jalan pulang menuju tujuan awal saat pertama kali melangkah ke dunia perguruan tinggi.